Faktor Risiko yang Sebabkan Night Terror

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Faktor Risiko yang Sebabkan Night Terror

Halodoc, Jakarta – Jika kamu sering terbangun saat tidur akibat mimpi buruk, sebaiknya segera bicara pada dokter. Pasalnya, kondisi ini bisa menjadi tanda penyakit “night terror”, yaitu gangguan tidur yang sering membuat pengidapnya menjerit, panik, dan berkeringat akibat mimpi buruk.

Perlu kamu ketahui, bahwa night terror berbeda dengan mimpi buruk (nightmare). Hal yang membedakannya adalah setelah terjadi night terror seseorang tidak mengingat mimpi buruk yang telah dijalani, jadi hanya muncul rasa ketakutan dan teriak-teriak saja.

Baca Juga: Anak Menangis Histeris Saat Tidur Malam, Waspada Night Terror

Waspada Gejala Night Terror

Meski tergolong penyakit langka, night terror rentan terjadi di kalangan anak-anak berusia 4-12 tahun. Sebagian besar pengidap mengalaminya berada dalam masa pertumbuhan akibat sistem saraf yang belum matang. Namun, ada kemungkinan night terror terjadi saat usia dewasa karena beberapa faktor.

Gejalanya night terror berupa mimpi buruk yang membuat pengidapnya menjerit, berkeringat, kebingungan, dan jantung berdebar. Pada beberapa kasus, night terror membuat pengidapnya menggerakkan tangan dan kaki, serta berjalan saat tidur.

Kamu dianjurkan untuk bicara ke dokter ahli jika mengalami gejala night terror selama sebulan atau lebih. Gunakan fitur Tanya Dokter di aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter ahli. Jika dibutuhkan diagnosis mendalam, segera membuat janji dengan dokter secara online di rumah sakit pilihan di sini.

Baca Juga: Kelelahan Bisa Sebabkan Night Terror, Benarkah?

Kenali Faktor Risiko Night Terror

Pada anak-anak, night terror disebabkan karena sistem saraf yang belum matang. Pada orang dewasa, kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Kurang tidur. Banyak orang dewasa yang kesulitan mengatur waktu tidur karena padatnya aktivitas. Padahal, kondisi ini tanpa disadari memicu night terror yang semakin mengganggu waktu tidurnya.

  • Trauma, seperti kecelakaan, cedera, atau pelecehan seksual. Seseorang yang mengalami trauma hingga membuatnya mengidap post-traumatic stress disorder (PTSD) juga rentan mengalami mimpi buruk saat tidur.

  • Stres dan cemas berlebihan. Kondisi ini rentan terjadi akibat aktivitas sehari-hari, kesedihan mendalam, atau kecemasan terhadap suatu hal yang memicu mimpi buruk.

  • Efek samping konsumsi obat, seperti obat antidepresan.

  • Kebiasaan membaca buku atau menonton film horor. Tanpa disadari, kebiasaan ini menimbulkan rasa takut yang terbawa hingga mimpi.

  • Gaya hidup kurang sehat, seperti konsumsi alkohol berlebihan dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Baca Juga: Cara Mengatasi Bayi yang Alami Night Terror

Cara Mengatasi Night Terror Saat Tidur

Ada beberapa hal yang dilakukan untuk mengatasi night terror, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Berikut ini penanganan night terror pada anak-anak:

  • Bawa Si Kecil untuk melakukan aktivitas santai dan menenangkan sebelum ia pergi tidur. Misalnya, membacakan dongeng atau memberikannya selimut, bantal, dan sarung bantal favorit.

  • Jika Si Kecil tetap mengalami mimpi buruk, dampingi ia tidur agar kembali tenang dan nyaman. Bila perlu, ajak Si Kecil melakukan terapi sederhana, seperti menarik napas dalam-dalam. Setelah situasi terkendali, ibu bisa meminta Si Kecil menceritakan kembali apa yang dilihat di dalam mimpinya. Berikan ia pengertian bahwa apa yang dilihatnya di dalam mimpi tidak nyata, sehingga tidak perlu terlalu dipikirkan. 

  • Jika Si Kecil terus mengalami mimpi buruk dengan tema yang sama, sebaiknya segera bawa ia ke psikolog atau psikiater. Mimpi buruk tersebut dapat berkaitan dengan kejadian tidak menyenangkan yang pernah dialaminya.

Bagaimana dengan orang dewasa? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi night terror?

  • Mengatur jam tidur setiap hari, pastikan kamu tidur 6-8 jam per hari atau disesuaikan dengan kebutuhan.

  • Buat kondisi senyaman mungkin sebelum tidur. Di antaranya dengan melakukan kegiatan menyenangkan menjelang tidur (misalnya, mandi air hangat, mendengarkan lagu, membaca buku, mendengarkan radio) dan mengatur kondisi tempat tidur (misalnya, mematikan lampu utama, memasang pendingin udara, menjauhkan ponsel dari genggaman).

Miliki waktu tidur yang berkualitas agar terhindar dari gangguan kesehatan dan kualitas hidup lebih terjaga dengan baik.