• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Faktor yang Tingkatkan Risiko Penularan Campak

Faktor yang Tingkatkan Risiko Penularan Campak

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Campak merupakan infeksi yang kerap terjadi pada anak dan disebabkan oleh virus. Penyakit ini juga dikenal dengan sebutan rubeola, yang  dapat dicegah dan diatasi dengan melakukan vaksinasi. Penyakit ini bisa menjadi penyakit yang serius, bahkan bisa menyebabkan kematian pada anak-anak. Semua orang akan sangat rentan terkena campak, terutama bagi mereka yang belum menjalani vaksinasi. Lantas, apa yang menjadi penyebab dan faktor risiko campak?

Baca juga: Orang yang Belum Disuntik Vaksin Bisa Terkena Campak

Penyebab dan Faktor Risiko Penularan Campak

Campak disebabkan oleh infeksi virus bernama rubeola yang hidup di lendir pada bagian hidung dan tenggorokan orang yang terinfeksi. Gejala biasanya akan muncul setelah 10-14 hari seseorang terpapar virus saat pengidap batuk, bersin, atau berbicara melalui percikan air liur seseorang yang terinfeksi. Selain penularan secara langsung, campak dapat menular melalui benda-benda yang telah terkontaminasi air liur pengidap. Berikut faktor risiko campak!

  • Tidak melakukan vaksinasi. Seseorang yang tidak atau belum melakukan vaksinasi akan berisiko mengembangkan virus campak dalam tubuhnya dan menulari pada oranglain.

  • Melakukan perjalanan ke daerah di mana campak berkembang. Saat seseorang melakukan perjalanan tersebut, mereka akan berisiko tertular campak.

  • Kekurangan vitamin A. Jika dalam tubuh seseorang tidak memiliki kandungan vitamin A yang cukup, mereka dapat dengan mudah tertular campak dan mengalami komplikasi yang parah. Pasalnya, vitamin A dapat menghambat replikasi virus vaksin campak dengan peningkatan respon imun tubuh.

Baca juga: Anak Terserang Campak, Apa yang Harus Dilakukan?

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, gejala infeksi campak akan muncul sekitar 10–14 hari setelah terpapar virus. Gejala akan meliputi demam, batuk kering, pilek, sakit tenggorokan, peradangan pada mata, bercak putih pada langit-langit mulut, serta ruam kulit dengan bentuk yang besar. Berikut tahapan infeksi virus dalam 2-3 minggu:

  • Sebelum munculnya gejala, pengidap akan mengalami masa inkubasi, yaitu masa dari penularan penyakit sampai munculnya gejala. Dalam tahap ini, pengidap tidak menunjukkan gejala.

  • Setelah masa inkubasi, muncul tanda dan gejala yang tidak spesifik selama 2-3 hari. Gejala yang dimaksud adalah demam ringan, batuk, pilek, mata meradang, serta sakit tenggorokan.

  • Setelah gejala tidak spesifik muncul, akan muncul gejala tambahan berupa rasa sakit dan ruam kulit. Ruam terdiri dari titik merah kecil, beberapa di antaranya akan terlihat seperti bercak yang mengelompok satu sama lain, sehingga menyebabkan kulit menjadi berwarna merah. 

  • Tahapan terakhir adalah proses penularan. Pengidap yang memiliki sejumlah gejala klinis yang telah disebutkan dapat menyebarkan virus pada orang lain dalam waktu 8 hari. Penyebaran dimulai 4 hari sebelum ruam muncul, kemudian berakhir 4 hari setelah ruam muncul.

Gejala campak awalnya akan muncul pada wajah, yang akan menyebar ke tangan dan seluruh tubuh dalam beberapa hari kemudian. Di saat yang bersamaan, suhu tubuh pengidap akan naik secara drastis pada suhu 40-41 derajat Celsius. Gejala kemudian perlahan akan menghilang, yang ditandai dengan hilangnya ruam dari wajah, paha, hingga telapak kaki.

Baca juga: Bisakah Orang Lanjut Usia Terkena Campak?

Komplikasi Apa Saja yang Bisa Terjadi?

Sebagian besar pengidap campak dapat sembuh dalam beberapa hari. Pada beberapa kasus, campak bisa saja menimbulkan komplikasi serius, seperti:

  • Dehidrasi.

  • Peradangan pita suara.

  • Infeksi telinga.

  • Infeksi mata.

  • Paru-paru basah.

  • Kejang-kejang.

Bila kondisi ini terjadi pada ibu hamil yang belum melakukan vaksinasi, campak dapat menyebabkan kelahiran prematur, lahir dengan berat badan rendah, bahkan kematian pada janin. Karena dapat menimbulkan komplikasi yang membahayakan, segera temui dokter di rumah sakit terdekat saat menemui sejumlah gejalanya, ya!

Referensi:
CDC. Diakses pada 2020. Measles (Rubeola).
NHS. Diakses pada 2020. Measles.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Measles.