• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fimosis Umum Terjadi Jika Belum Disunat?

Fimosis Umum Terjadi Jika Belum Disunat?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Fimosis adalah adalah suatu kondisi di mana kulup tidak dapat ditarik kembali di area di sekitar ujung penis. Kulit khatan yang ketat ini kerap terjadi pada bayi laki-laki yang tidak disunat, tetapi biasanya kembali normal di usia 3 tahun. 

Fimosis dapat terjadi secara alami atau akibat dari jaringan parut. Anak laki-laki mungkin tidak memerlukan pengobatan untuk fimosis, kecuali jika mengalami kesulitan buang air kecil. Informasi selengkapnya mengenai fimosis bisa dibaca di bawah ini!

Tidak Hanya Karena Belum Sunat

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh University of California, San Francisco Department of Urology disebutkan fimosis fisiologis yaitu anak-anak yang dilahirkan dengan kulup ketat saat biasanya akan sembuh dengan sendirinya. Namun, terkadang ada kondisi di mana kulup tetap tidak dapat turun. 

Peradangan atau infeksi kulup dapat menyebabkan fimosis pada anak laki-laki. Salah satu infeksi yang dapat menyebabkan balanitis disebut lichen sclerosus. Ini adalah kondisi kulit yang mungkin dipicu oleh respon imun abnormal atau ketidakseimbangan hormon. Gejalanya bisa berupa bintik-bintik putih atau bercak di kulit khatan. Kulit mungkin menjadi gatal dan mudah sobek.

Baca juga: Perlu untuk Diketahui, Inilah Gejala Fimosis

Beberapa kasus fimosis tidak perlu diobati dan tinggal menunggu saja apakah bisa kembali seperti semula seiring pertambahan usia anak atau tidak. Namun, jika fimosis menyebabkan gangguan ereksi atau malah membuat kesulitan buang air kecil, ini menunjukkan kalau kamu butuh bantuan dokter. 

Untuk memastikan apakah kamu butuh bantuan medis atau tidak, pun kalau kamu butuh rekomendasi dari ahli mengenai kondisi ini, dapat ditanyakan langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Fimosis yang Terinfeksi

Infeksi berulang pada kelenjar atau kulup juga harus dievaluasi oleh dokter. Tanda-tanda infeksi mungkin termasuk:

  1. Perubahan warna kelenjar atau kulup.

  2. Adanya bintik-bintik atau ruam.

  3. Rasa sakit.

  4. Sensasi gatal.

  5. Pembengkakan.

Bagaimana mengatasi fimosis? Pemeriksaan fisik dan tinjauan gejala biasanya cukup untuk mendiagnosis fimosis ataupun kondisi yang menjadi penyebabnya. Mengobati balanitis atau infeksi jenis lain biasanya dimulai dengan mengambil sampel dari kulit khatam untuk diperiksa di laboratorium, 

Jika ternyata terinfeksi bakteri, maka pengobatannya akan membutuhkan antibiotik, sedangkan infeksi jamur mungkin memerlukan salep antijamur. Jika tidak ada infeksi atau penyakit lain yang menyebabkan fimosis, tampaknya kulit khatan ketat hanyalah perkembangan yang terjadi secara alami, mungkin bisa dilakukan beberapa pilihan pengobatan.

Pilihan pengobatan ini tergantung pada tingkat keparahan kondisinya, gerakan yang diarahkan ke kulup yang tersangkut bisa jadi upaya taktis untuk mengatasi masalah tersebut. Salep steroid topikal dapat digunakan untuk membantu melembutkan kulup dan membuat retraksi lebih mudah. 

Baca juga: Si Kecil Alami Fimosis, Apakah Harus Segera Disunat?

Salep ini dipijat ke daerah sekitar kelenjar dan kulup dua kali sehari selama beberapa minggu. Dalam kasus yang lebih serius, sunat atau prosedur bedah sangat mungkin diperlukan. Sunat adalah pengangkatan seluruh kulit khatan. 

Operasi pengangkatan sebagian dari kulup juga dimungkinkan tergantung kondisi yang dialami. Sedangkan sunat biasanya dilakukan pada masa bayi, operasi dapat dilakukan pada laki-laki dari segala usia.

Referensi:

University of California, San Francisco Department of Urology. Diakses pada 2020. Phimosis.
Healthline. Diakses pada 2020. Everything You Should Know About Phimosis.