• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fomepizole Bisa Jadi Obat Gagal Ginjal Akut pada Anak?
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Fomepizole Bisa Jadi Obat Gagal Ginjal Akut pada Anak?

Fomepizole Bisa Jadi Obat Gagal Ginjal Akut pada Anak?

4 menit
Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc : 26 Oktober 2022

"Klaim berbeda disampaikan terkait penggunaan Fomepizole sebagai obat gagal ginjal akut progresif."

Fomepizole Bisa Jadi Obat Gagal Ginjal Akut pada Anak?Fomepizole Bisa Jadi Obat Gagal Ginjal Akut pada Anak?

Halodoc – Jakarta, Kasus gagal ginjal akut progresif atipikal atau Acute Kidney Injury (AKI) menemui titik terang. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengklaim jika penyakit tersebut sudah bisa diatasi.”

Per laporan terbaru, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah memberikan obat fomepizole terhadap 10 pasien yang terdampak AKI. Hasilnya, tujuh di antaranya membaik.

“Artinya, dapat kami simpulkan, obat ini memberikan dampak positif,” kata Budi di Istana Kepresidenan Bogor, Senin (24/10), dikutip dari laman Kompas.

Kasus gagal ginjal akut ini banyak menyerang anak-anak. Umumnya, mereka yang balita hingga usia 5 tahun karena mengonsumsi obat jenis sirup.

Adapun, penyakit ini terjadi akibat kondisi ginjal yang secara tiba-tiba tidak mampu menyaring limbah dari darah. Setelah diteliti, Kemenkes menemukan pasien balita yang mengidap AKI dalam darahnya mengandung tiga zat kimia berbahaya. 

Adapun, ketiga zat berbahaya tersebut adalah ethylene glycol-EG, diethylene glycol-DEG, dan ethylene glycol butyl ether-EGBE.

Budi menyebutkan, ketiga zat tersebut seharusnya tidak terkandung pada obat cair atau sirup yang dikonsumsi anak. Apabila ada, kadarnya harus sangat rendah sehingga tidak memicu efek samping yang berbahaya bagi tubuh anak-anak. 

Ketiga kandungan tersebut baru dapat terdeteksi apabila digunakan polietilen glikol (PEG) sebagai peningkat kelarutan pada obat yang berbentuk cair atau sediaan sirup. Sesuai dengan standar mutu obat yang dipasarkan di Indonesia (Farmakope), baik EG maupun DEG seharusnya tidak digunakan sebagai bahan pembuat obat.

Sebab, senyawa tersebut berpotensi berasal dari kontaminan pada bahan aditif atau tambahan dalam obat sirup. Adapun, nilai toleransi penggunaannya adalah sebesar 0,1 persen untuk propilen glikol dan gliserin, serta sebanyak 0,25 persen pada polietilen glikol.

Budi berharap dengan pemberian fomepizole, fatality rate akan menurun. 

“Jadi selain kita cegah sumber penyakitnya, kita juga melakukan terapi dari sisi obat-obatannya,” kata Budi dikutip dari laman Youtube Kemenkes, Jumat (21/10).

Pro Kontra Fomepizole

Pro kontra menyelimuti terkait pemberian obat fomepizole. Sebagian pihak berpendapat, obat yang didatangkan pemerintah dari Singapura ini tidak tepat disebut obat.

Salah satunya disampaikan Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinik UGM Zullies Ikawati. Dia bilang kalau penyakit gagal ginjal sulit untuk mengatasinya.

Zullies menjelaskan Fomepizole lebih sebagai penawar intoksikasi dari kandungan Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG). Dua kandungan yang disebutkan barusan ditengarai menjadi penyebab gagal ginjal akut ini.

“Sebetulnya (Fomepizole) adalah seperti penawarnya, gitu. Dalam hal ini terkait dengan intoksikasi etilen glikol,” kata Zullies dikutip CNN Indonesia, Senin (24/10).

Kedua senyawa itu, lanjut dia, bukan merupakan bahan campuran obat melainkan cemaran atau kontaminan dari zat pelarut obat sirup. Dalam industri farmasi dikenal ada empat macam zat pelarut yakni, polietilen glikol, propilen glikol, gliserin dan sorbitol.

Fomepizole digunakan untuk menghambat enzim alcohol dehydrogenase dan dipakai dalam mengatasi keracunan metanol. Pemberian dosis awal 15 miligram per kilogram berat badan (mg/kgBB) dilakukan lewat infus selama kurang lebih 30 menit.

“Harus diberikan dalam waktu cepat karena memang kalau sudah terlalu lama itu ya terlanjur jadi metabolitnya. Makanya enggak boleh kalau lewat dari 24 jam sebetulnya kalau mau efektif, karena memang kerjanya di awal yaitu menghambat enzim alcohol dehydrogenase,” jelas Zullies.

Dosis selanjutnya yang diberikan adalah 10 mg/kgBB per 12 jam selama 48 jam. Lalu 15 mg/kgBB per 12 jam. Prosedur pemberian Fomepizole, menurut Zullies, akan berbeda bagi pasien yang sudah harus menjalani hemodialisa atau cuci darah.

Meski demikian, pemerintah sudah memesan 200 vial obat fomepizole dari Singapura untuk mengatasi masalah gangguan ginjal akut ini. Selanjutnya, pemerintah menunggu kedatangan 16 vial obat fomepizole dari Australia yang akan datang pada pekan keempat Oktober 2022.

Saat ini pemerintah telah mengeluarkan larangan peredaran obat sirup. Oleh karenanya, masyarakat diharapkan dapat menjadikan sediaan obat jenis lain untuk dikonsumsi apabila anak sakit. Misalnya tablet, puyer, atau bentuk sediaan lainnya.

Apabila kondisi tidak memungkinkan untuk mendapatkan obat dalam bentuk sediaan lain, misalnya, sedang menjalani pengobatan untuk epilepsi maupun TB, orang tua dapat langsung bertanya pada dokter spesialis anak yang memberikan penanganan. 

Bicarakan masalah kesehatan keluarga pada dokter yang tepat. Gunakan aplikasi Halodoc untuk mendapatkan Layanan Janji Medis di aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.

Reference:
Kompas. Diakses pada 2022. Menkes Sebut Obat Fomepizole Beri Dampak Positif pada Kasus Gangguan Ginjal Akut.
CNN Indonesia. Diakses pada 2022. Guru Besar Farmakologi UGM: Fomepizole Bukan Obat Gagal Ginjal Akut.
National Library of Medicine. Diakses pada 2022. Fomepizole.
DRUGBANK. Diakses pada 2022. Fomepizole.