• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Frozen Embryo Transfer, Metode Baru Bayi Tabung
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Frozen Embryo Transfer, Metode Baru Bayi Tabung

Frozen Embryo Transfer, Metode Baru Bayi Tabung

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 01 Maret 2022

“Transfer embrio beku atau frozen embryo transfer menjadi metode baru dari prosedur bayi tabung. Prosedur ini dilakukan dengan mencairkan embrio yang sebelumnya telah dibekukan. Prosedur tersebut bisa menjadi opsi untuk pasangan yang berencana hamil, tetapi memiliki kondisi yang mengakibatkan transfer embrio harus ditunda.”

Frozen Embryo Transfer, Metode Baru Bayi TabungFrozen Embryo Transfer, Metode Baru Bayi Tabung

Halodoc, Jakarta – Frozen embryo transfer menjadi cara paling baru dari prosedur kehamilan dengan program bayi tabung. Cara ini dikembangkan oleh para peneliti untuk meningkatkan kemungkinan wanita bisa mendapatkan kehamilan. Seperti yang telah diketahui, bayi tabung atau in vitro fertilization menjadi alternatif untuk pasangan yang mengalami kesulitan hamil secara alami. 

Lalu, seperti apa sebenarnya prosedur frozen embryo transfer ini? Apakah lebih efektif dibandingkan dengan prosedur kehamilan dengan bayi tabung biasa? Berikut ulasannya. 

Mengenal Frozen Embryo Transfer dalam Prosedur Bayi Tabung

Supaya bisa lebih memahami transfer embrio beku, kamu perlu mengerti dengan baik apa itu program bayi tabung. Prosedur tersebut diawali dengan pengambilan sampel ovum wanita dan sperma dari pria. Lalu, keduanya disatukan dalam cawan petri secara manual hingga terjadi pembuahan, tetapi di luar tubuh. 

Ovum yang telah dibuahi atau embrio lalu disimpan selama beberapa hari di laboratorium sebelum nantinya kembali dimasukkan ke dalam rahim menggunakan tabung tipis. Selanjutnya, diharapkan embrio akan berkembang menjadi janin dan kehamilan pun bisa terjadi. 

Sering kali, pengambilan sampel sperma dan sel telur tan hanya satu. Nantinya, dari jumlah sampel tersebut, dokter akan memilih yang terbaik untuk dilakukan pembuahan, sehingga bisa berkembang menjadi embrio. Ada kemungkinan terdapat banyak embrio selama prosedur bayi tabung berlangsung. Namun, tak jarang dokter hanya memasukkan satu atau dua embrio dengan peluang keberhasilan yang paling baik untuk bisa berkembang menjadi janin.

Sementara itu, pada frozen embryo transfer, sisa dari embrio selanjutnya dibekukan dengan menggunakan nitrogen cair. Lalu embrio tersebut akan disimpan di dalam freezer khusus dengan suhu sekitar minus 200 derajat Celsius. Pembekuan embrio ini sebenarnya dilakukan sebagai pilihan alternatif lainnya. 

Jadi, jika embrio yang sebelumnya telah dimasukkan tidak mampu berkembang di dalam rahim ibu, pasangan bisa mencoba kembali kehamilan dengan menggunakan transfer embrio beku dengan menggunakan cadangan embrio tadi. Cara ini juga bisa menjadi alternatif untuk pasangan yang ingin mendapatkan kehamilan pada beberapa waktu mendatang, karena belum siap untuk memiliki anak di masa sekarang. 

Embrio yang sudah dibekukan dan disimpan ini bisa bertahan hingga bertahun-tahun. Bahkan, rekor mencatat seorang wanita yang melahirkan bayi yang berasal dari embrio yang dibekukan selama 24 tahun dengan prosedur frozen embryo transfer tadi. 

Meningkatkan Peluang Hamil

Membekukan embrio dengan menggunakan prosedur frozen embryo transfer dikatakan lebih menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan tentunya biaya. Pasalnya, pasangan tidak perlu lagi melakukan prosedur bayi tabung dari awal apabila sebelumnya pernah mengalami kegagalan. Adapun waktu yang diperlukan sejak embrio dikeluarkan dari freezer sampai bisa dimasukkan ke dalam rahim, yaitu sekitar 40 sampai 60 menit. 

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam British Medical Journal mengatakan bahwa peluang kehamilan dengan cara frozen embryo transfer dikatakan lebih efektif, dibandingkan dengan memasukkan embrio yang segar. Studi lainnya yang dimuat dalam New England Journal of Medicine dan Human Reproduction turut mendapati bahwa prosedur frozen embryo transfer dinilai punya hasil akhir yang lebih optimal yang berkaitan dengan tumbuh kembang janin di dalam rahim. 

Pasalnya, membekukan embrio akan memberi waktu calon ibu mempersiapkan rahim dalam kondisi yang optimal sebelum embrio dimasukkan. 

Risiko dan Komplikasi yang Bisa Terjadi

Prosedur frozen embryo transfer dilakukan dengan melibatkan penggunaan obat kesuburan, yaitu hormon progesteron dan estrogen. Jadi, apabila calon ibu memiliki kondisi berikut, dokter akan menganjurkan untuk mempertimbangkan kembali risikonya:

  • Ada riwayat alergi terhadap progesteron dan estrogen.
  • Memiliki penyakit liver yang berat.
  • Terjadi perdarahan pada vagina yang tidak pasti penyebabnya.
  • Adanya riwayat penyakit atau sedang mengalami penyakit pembuluh darah arteri. 
  • Tromboflebitis.
  • Mengidap kanker payudara.
  • Mengidap deep vein thrombosis.

Selain itu, akan muncul beberapa efek samping yang terjadi setelah prosedur transfer embrio beku dilakukan, seperti:

  • Perut terasa kembung.
  • Susah buang air besar atau sembelit.
  • Payudara terasa mengeras.
  • Perut terasa kram.
  • Keluar cairan dari vagina setelah embrio ditanam.

Meski aman, komplikasi akibat prosedur ini juga bisa saja terjadi, misalnya:

  • Kehamilan ektopik.
  • Sindrom hiperstimulasi ovarium atau OHS.
  • Kehamilan kembar.
  • Infeksi yang terjadi pada organ reproduksi.

Jika ibu mengalami beberapa gejala atau risiko seperti yang telah disebutkan, segera tanyakan pada dokter tindakan terbaik untuk penanganannya. Gunakan aplikasi Halodoc untuk memudahkan tanya jawab dengan dokter kandungan. Segera download aplikasi Halodoc, ya!

Referensi:
Very Well Family. Diakses pada 2022. Frozen Embryo Transfer (FET) Procedure.
Shi Y, et al. 2018. Diakses pada 2022. Transfer of Fresh versus Frozen Embryos in Ovulatory Women. New England Journal of Medicine 378:126-136.
McLernon DJ, et al. 2016. Diakses pada 2022. Predicting the chances of a live birth after one or more complete cycles of in vitro fertilization: population based study of linked cycle data from 113 873 women. British Medical Journal 355. https://doi.org/10.1136/bmj.i5735.
Evans J, et al. 2014. Diakses pada 2022. Fresh versus frozen embryo transfer: backing clinical decisions with scientific and clinical evidence. Human Reproduction 20(6):808-821.