• Home
  • /
  • Jangan Disepelekan, Inilah Gejala Awal Toxic Shock Syndrome

Jangan Disepelekan, Inilah Gejala Awal Toxic Shock Syndrome

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Jangan Disepelekan, Inilah Gejala Awal Toxic Shock Syndrome

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu mendengar tentang toxic shock syndrome? Meskipun penyakit ini jarang terjadi, namun toxic shock syndrome bisa menjadi kondisi yang dapat membahayakan hingga mengancam nyawa pengidapnya. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam tubuh dan menghasilkan racun berbahaya.

Baca juga: Inilah yang Dialami Tubuh saat Terkena Toxic Shock Syndrome

Toxic shock syndrome adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri yang tidak terkontrol pada infeksi, yang kebanyakan disebabkan oleh bakteri stafilokokus. Kondisi ini bisa dialami siapa saja, namun umumnya dialami wanita. Sebab, kondisi ini sering dikaitkan dengan kebersihan tampon saat wanita mengalami menstruasi

Perhatikan Gejala Awal Toxic Shock Syndrome

Dilansir dari Mayo Clinic, ada beberapa bakteri yang menyebabkan seseorang mengalami toxic shock syndrome. Bakteri Staphylococcus aureus menjadi bakteri penyebab penyakit ini. Namun, toxic shock syndrome yang disebabkan oleh bakteri ini berkaitan dengan kondisi pembalut, tampon, atau alat kontrasepsi.

Sedangkan bakteri lainnya yang dapat sebabkan toxic shock syndrome adalah bakteri Streptococcus strep. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh pengidap melalui luka yang terbuka atau luka akibat operasi.

Ketahui faktor yang meningkatkan risiko seseorang mengalami toxic shock syndrome, seperti:

  1. Luka gores atau luka terbakar yang tidak dijaga kebersihannya;

  2. Luka baru bekas operasi;

  3. Penggunaan pembalut atau tampon yang kurang bersih;

  4. Mengalami infeksi virus.

Baca juga: Jangan Disepelekan, Toxic Shock Syndrome Bisa Berakibat Fatal

Toxic shock syndrome memerlukan penanganan dengan cepat dan tepat. Kenali gejala awalnya agar kamu dapat lakukan penanganan dengan tepat. Dilansir dari Kids Health, umumnya seseorang yang mengalami toxic shock syndrome mengalami demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat Celcius, mengalami tekanan darah rendah, diare, dan sakit kepala.

Tidak hanya itu, gejala khas lainnya munculnya efek sunburn atau kemerahan pada beberapa bagian tubuh seperti tangan dan kaki. Toxic shock syndrome juga dapat menyebabkan nyeri otot. Selain itu, pengidap mengalami napas pendek, pusing, dan detak jantung yang lebih kencang. Segera kunjungi rumah sakit terdekat untuk memastikan penyebab gejala yang dialami.

Penanganan Toxic Shock Syndrome

Toxic shock syndrome termasuk dalam kondisi yang cukup darurat. Penanganan tepat perlu dilakukan untuk mengatasi gejala dan menghindari kamu dari berbagai gangguan kesehatan yang lebih parah. Jika mengalami toxic shock syndrome setelah menggunakan tampon, segera lepas tampon dan perhatikan kebersihan area intim sebagai penanganan awal.

Dilansir dari National Health Service UK, ada beberapa penanganan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini, seperti penggunaan obat-obatan anti bakteri, pemberian oksigen tambahan jika pengidap toxic shock syndrome alami gangguan pernapasan, memberikan cairan yang cukup untuk menghindari dehidrasi serta gangguan fungsi organ, obat-obatan yang bisa digunakan untuk menstabilkan tekanan darah, dan cukup beristirahat.

Baca juga: Tes untuk Diagnosis Kondisi Toxic Shock Syndrome

Penanganan tersebut membuat pengidap toxic shock syndrome merasakan lebih baik atas kesehatannya. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kondisi ini. Bagi wanita, jaga kebersihan organ intim ketika menjalani siklus menstruasi, ganti pembalut atau tampon selama 3-4 jam sekali agar kebersihannya tetap terjaga. Sebelum tidur, gunakan tampon atau pembalut yang baru. Tidak hanya itu, jangan lupa untuk menjaga kebersihan luka terbuka pada tubuh.

Referensi:
National Health Service UK. Diakses pada 2020. Toxic Shock Syndrome
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Toxic Shock Syndrome
Kids Health. Diakses pada 2020. Toxic Shock Syndrome
Better Health. Diakses pada 2020. Toxic Shock Syndrome