• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gejala Fisik yang Terjadi saat Alami Gangguan Disosiatif

Gejala Fisik yang Terjadi saat Alami Gangguan Disosiatif

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Kamu mungkin pernah bertemu dengan seseorang yang menimbulkan kesan baik di pertemuan awal. Namun, saat terjadi pertemuan kedua, orang tersebut dapat sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Mungkin saja, orang tersebut memiliki kepribadian ganda yang disebabkan oleh gangguan disosiatif. Kelainan ini dapat menimbulkan beberapa gejala, termasuk juga dari segi fisik. Berikut beberapa gejala yang dapat timbul!

Gejala Fisik dari Gangguan Disosiatif

Gangguan disosiatif adalah penyakit mental yang dapat menimbulkan terputusnya memori dan masalah kontinuitas antara pikiran, ingatan, lingkungan, hingga identitas. Seseorang dengan penyakit ini dapat mengalami kepribadian ganda sehingga tampak, seperti pribadi yang benar-benar berbeda. Cara ini juga dapat terjadi untuk melarikan diri dari trauma sehingga menyebabkan masalah pada kehidupan sehari-harinya.

Baca juga: Kenali 3 Jenis Gangguan Disosiatif yang Dapat Terjadi

Gangguan disosiatif biasanya berkembang sebagai reaksi dari trauma dan membantu untuk menjauhkan ingatan yang ingin dilupakan. Hal ini dapat menyebabkan pengidapnya merasakan ketidakpastian terhadap identitas dirinya. Karena itu, identitas lain yang sangat berbeda jauh dari kepribadian aslinya dapat timbul. Bahkan nama, suara, hingga tingkah lakunya dapat berbeda jauh.

Gangguan disosiatif dapat terjadi sebagai cara berpikir untuk mengatasi stres yang berlebihan. Pengidapnya berusaha memisahkan diri dengan memutuskan diri sendiri dari dunia di sekitarnya. Selain itu, gangguan ini dapat menimbulkan berbagai macam gejala. Beberapa gejala yang timbul dapat menimbulkan masalah secara fisik sebagai berikut:

  • Gangguan terkait gerakan.
  • Sensasi yang tidak biasa pada tubuh.
  • Mengalami periode kejang.
  • Periode kehilangan ingatan.

Selain itu, gejala lainnya yang tidak melibatkan fisik juga dapat timbul. Berikut beberapa gejala yang sulit untuk dilihat oleh orang lain:

  • Kehilangan memori atau amnesia pada periode tertentu, hingga lupa akan kejadian dan informasi pribadi.
  • Perasaan terlepas dari diri sendiri.
  • Mengalami perubahan persepsi pada segala hal di sekitarnya dengan anggapan tidak nyata.
  • Identitas asli yang menjadi kabur.
  • Merasakan stres atau masalah yang signifikan terkait hubungan, pekerjaan, atau hal penting lainnya dalam hidup.
  • Ketidakmampuan untuk mengatasi stres emosional dengan baik.
  • Masalah kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, hingga pikiran dan perilaku untuk bunuh diri.

Lalu, jika kamu masih memiliki pertanyaan terkait segala hal yang berhubungan dengan gangguan disosiatif, psikolog atau psikiater dari Halodoc siap membantu kapan saja. Kamu dapat memanfaatkan fitur Chat atau Voice/Video Call pada aplikasi Halodoc untuk memudahkan interaksi. Ayo, download aplikasinya sekarang juga!

Baca juga: Suka Mencari Perhatian Berlebih, Gejala Gangguan Kepribadian?

Penyebab dari Gangguan Disosiatif

Penyakit mental ini biasanya berkembang sebagai cara untuk mengatasi trauma dari pengalaman yang ingin dilupakan. Perasaan trauma tersebut paling sering terjadi pada anak-anak saat mengalami pelecehan fisik, seksual, atau emosional dalam jangka panjang, hingga lingkungan rumah yang menakutkan. Pengalaman buruk, seperti perang atau bencana alam juga dapat menyebabkan kelainan mental ini.

Saat masa anak-anak, identitas pribadinya masih dalam tahap pembentukan. Maka dari itu, seorang anak lebih mampu untuk mengalami kepribadian lainnya dibandingkan orang dewasa. Seorang anak yang belajar untuk memisahkan diri agar dapat bertahan dari pengalaman traumatis bisa mengalami mekanisme ini jika mengalami situasi-situasi yang menimbulkan stres sepanjang hidupnya.

Baca juga: Jarang Terjadi, Kasus Kepribadian Ganda dengan 9 Karakter

Nah, itulah beberapa gejala fisik yang dapat timbul pada seseorang dengan gangguan disosiatif. Jika kamu merasakan beberapa gejala tersebut, ada baiknya untuk segera memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater. Dengan lebih cepat mendapatkan diagnosis, penanganannya akan menjadi lebih mudah dilakukan.

Referensi:
NHS. Diakses pada 2020. Dissociative disorders.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Dissociative disorders.