• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gejala Syok Hipovolemik Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Gejala Syok Hipovolemik Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Istilah syok hipovolemik adalah kondisi yang merujuk pada keadaan saat tubuh kehilangan banyak darah atau cairan secara tiba-tiba. Kondisi tersebut dapat menyebabkan jantung tidak mampu memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh, sehingga berujung pada kegagalan organ untuk menjalankan fungsinya. Syok hipovolemik merupakan kondisi yang bisa dibedakan berdasarkan tingkat keparahan gejalanya. Berikut ini gejala syok hipovolemik berdasarkan tingkat keparahannya.

Baca juga: Pertolongan Pertama saat Mengalami Syok Hipovolemik

Syok Hipovolemik Dibedakan Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Gejala yang berbeda antar pengidap syok hipovolemik akan tergantung pada jumlah darah dan cairan dalam tubuh yang berkurang. Berikut ini perbedaannya:

  • Gejala syok hipovolemik ringan hingga sedang, yaitu pusing, lemas, mual, linglung, dan banyak mengeluarkan keringat.
  • Gejala syok hipovolemik yang parah, yaitu tubuh terasa dingin, pucat, napas pendek, jantung berdebar, lemas, bibir dan kuku kaku, kepala ringan dan pusing, linglung, tidak ingin buang air kecil, badan lemas, dan pingsan.
  • Gejala syok hipovolemik yang terjadi akibat perdarahan internal pada organ dalam, yaitu sakit perut, tinja berdarah, tinja berwarna hitam, darah pada urine, muntah darah, nyeri dada, serta pembengkakan pada perut

Baca juga: Tes untuk Mendeteksi Syok Hipovolemik

Masing-masing gejala yang muncul akan tergantung pada tingkat keparahan penyakit yang dialami. Tingkat keparahan penyakit sendiri terbagi menjadi 4. Berikut ini tingkatan keparahan pada pengidap syok hipovolemik:

1. Tingkat 1

Tingkat 1 menjadi tingkat keparahan paling rendah. Meskipun terbilang rendah, tetapi kondisi ini dapat secara cepat berkembang ke tingkat keparahan berikutnya. Pada tingkat ini, volume darah dan cairan dalam tubuh hilang sebanyak 15 persen, atau setara dengan kurang lebih 750 mililiter.

2. Tingkat 2

Pada tingkat 2, volume darah dan cairan dalam tubuh hilang sebanyak 30 persen, atau setara dengan 1500 mililiter. Pengidap di tahap ini akan mengalami peningkatan detak jantung, juga frekuensi pernapasan.

3. Tingkat 3

Pada tingkat 3, volume darah dan cairan dalam tubuh hilang sebanyak 30–40 persen, atau setara dengan 1.500–2.000 mililiter. Pengidap di tahap ini akan mengalami penurunan tekanan darah yang drastis, serta detak jantung dan frekuensi pernapasan semakin cepat.

4. Tingkat 4

Pada tingkat 4, volume darah dan cairan dalam tubuh hilang sebanyak 40 persen, atau setara dengan 2000 mililiter. Pengidap di tahap ini sudah memasuki fase kritis, yang ditandai dengan detak jantungnya yang semakin kencang.

Baca juga: Pertolongan Pertama yang Bisa Dilakukan untuk Syok Hipovolemik

Baik rendah maupun parah, semua tingkat keparahan penyakit membutuhkan penanganan dan perawatan secepatnya. Jika tubuh terus-menerus kekurangan darah dan cairan dalam tubuh, hal tersebut akan memicu munculnya komplikasi berbahaya, seperti kerusakan ginjal dan otak, serangan jantung, hingga matinya jaringan pada tangan dan kaki. 

Komplikasi akan bertambah jika pengidap memiliki penyakit bawaan, seperti diabetes, stroke, serta penyakit paru, jantung, maupun ginjal. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, segera periksakan diri di  rumah sakit terdekat jika menemukan sejumlah gejalanya, ya.

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2021. What to know about hypovolemic shock.
WebMD. Diakses pada 2021. Hypovolemic Shock.
Healthline. Diakses pada 2021. Hypovolemic Shock.