• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gejala yang Terlihat saat Anak Mengalami PTSD

Gejala yang Terlihat saat Anak Mengalami PTSD

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Peristiwa traumatis yang dialami seseorang dapat membekas dalam ingatan selamanya. Tak jarang, peristiwa traumatis mampu memengaruhi kondisi mental korban. Dalam dunia medis, masalah mental akibat peristiwa traumatis yang terjadi di masa lalu disebut dengan posttraumatic stress disorder (PTSD). Kondisi ini bukan cuma bisa dialami orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya. 

Peristiwa masa lalu yang menakutkan biasanya akan terus teringat oleh anak yang mengalami PTSD, sehingga fisik dan mentalnya pun ikut terpengaruh. Gejala PTSD biasanya muncul segera setelah peristiwa terjadi. Namun, terkadang gejalanya juga bisa muncul setelah 6 bulan atau lebih. Nah, agar orangtua lebih peka terhadap kondisi anak, sebaiknya kenali tanda PTSD berikut ini. 

Baca juga: PTSD Berbeda dengan Trauma, Ini Penjelasannya

Tanda Anak yang Mengalami PTSD

Anak yang mengalami PTSD biasanya mengalami banyak tekanan emosional dan fisik ketika dihadapkan pada situasi yang mengingatkan mereka akan peristiwa traumatis. Anak dapat mengalami mimpi buruk dan punya ingatan-ingatan yang mengganggu di siang hari. Bukan itu saja, melansir dari Stanford Children’s Health ini tanda PTSD lainnya:

  • Mengalami masalah tidur.
  • Sering merasa tertekan dan kesal.
  • Mudah gugup, gelisah, atau terlalu waspada.
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang biasa mereka nikmati. 
  • Menjadi kurang responsif.
  • Sulit merasakan kasih sayang.
  • Menjadi lebih agresif daripada sebelumnya.
  • Berusaha menjauhi tempat atau situasi tertentu yang mampu mengingatkannya pada trauma.
  • Mengalami kilas balik yang bisa berupa gambar, suara, bau, atau perasaan.
  • Sering mendapat kendala atau masalah di sekolah.
  • Susah fokus.
  • Bertindak kekanak-kanakan yang tidak sesuai dengan usianya, seperti mengisap jempol atau mengompol.
  • Mengalami sakit kepala atau sakit perut.

Apabila ibu mendapati sejumlah gejala tersebut pada anak, sebaiknya hubungi dokter atau psikolog di Halodoc untuk memastikan kondisinya. Lewat aplikasi Halodoc, ibu dapat menghubungi dokter atau psikolog kapan dan di mana saja via Chat atau Voice/Video Call.

Baca juga: Bahaya PTSD pada Kesehatan Mental Jika Tidak Segera Diatasi

Penyebab PTSD pada Anak-Anak

Trauma mendalam sering menjadi penyebab utama PTSD pada anak-anak. Ditinggal keluarga, mengalami kekerasan, atau mengalami cedera parah adalah contoh peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD. Dilansir dari Kids Health, berikut beberapa contoh peristiwa yang mampu menimbulkan trauma: 

  • Mengalami kekerasan atau pemerkosaan.
  • Melihat api atau pernah terbakar api.
  • Mengalami pelecehan fisik atau seksual.
  • Melihat atau mengalami tindakan kekerasan.
  • Ada dalam situasi bencana alam atau buatan manusia.
  • Kecelakaan mobil.
  • Pertempuran militer. 
  • Menyaksikan orang lain mengalami peristiwa traumatis.
  • Didiagnosis mengidap penyakit yang mengancam jiwa.

Dalam beberapa kasus, PTSD terjadi setelah anak mengalami peristiwa traumatis secara berulang-ulang. 

Bagaimana Cara Menyembuhkannya?

Perawatan PTSD tergantung pada gejala, usia, dan kondisi kesehatan sang anak serta seberapa parah PTSD yang dialami. Perawatan dini sangat penting untuk meringankan gejala dan meningkatkan perkembangan normal anak. Bukan cuma itu, perawatan juga bertujuan agar kualitas hidup anak menjadi lebih baik. 

Opsi perawatannya mungkin terapi perilaku kognitif yang dikombinasikan dengan obat-obatan. Melalui terapi perilaku kognitif, anak akan belajar untuk mengatasi kecemasannya dan menguasai situasi yang mengarah pada PTSD. Sedangkan, obat-obatan berfungsi untuk meredam gejala depresi atau kecemasan, sehingga anak menjadi lebih tenang.

Baca juga: Begini Cara Orangtua Mendampingi Anak yang Alami PTSD

Pemulihan tergantung pada kekuatan batin anak, keterampilan koping dan kemampuan anak untuk bangkit kembali. Lambat atau cepatnya pemulihan juga dipengaruhi oleh tingkat dukungan keluarga.

Referensi:
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2020. Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) in Children.
Kids Health. Diakses pada 2020. Posttraumatic Stress Disorder (PTSD).