• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Gigantisme dan Akromegali, Apa yang Membedakan Keduanya?

Gigantisme dan Akromegali, Apa yang Membedakan Keduanya?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta - Akromegali dan gigantisme adalah dua kondisi yang disebabkan oleh terlalu banyak hormon pertumbuhan yang dikeluarkan. Akromegali terjadi ketika hormon pertumbuhan dikeluarkan atau disekresikan secara berlebihan oleh kelenjar pituitari. Kondisi ini bisa dimulai antara usia 20 dan 40 tahun.

Sedangkan gigantisme adalah kelainan ketika jumlah hormon pertumbuhan yang berlebihan dikeluarkan dari kelenjar pituitari selama masa kanak-kanak. Kondisi ini umumnya terjadi sebelum lempeng epifisis tulang menyatu. Lantas, adakah hal lain yang membedakan antara gigantisme dan akromegali? Simak penjelasan berikut. 

Baca juga: Harus Tahu, 6 Penyakit yang Disebabkan oleh Gangguan Hormon

Perbedaan Antara Gigantisme dan Akromegali

Meski sama-sama disebabkan oleh hormon pertumbuhan berlebih, ada beberapa perbedaan yang mencolok antara gigantisme dan akromegali, yaitu:

1. Waktu Perkembangan Penyakit

Akromegali berkembang selama awal hingga dewasa pertengahan. Sedangkan, gigantisme mulai berkembang selama masa kanak-kanak sebelum pelat pertumbuhan tulang menyatu.

2. Fitur Wajah

Seseorang yang mengidap akromegali, ukuran dan bentuk lidaknya dapat berubah, rahang juga menonjol keluar dan bibir menebal. Sedangkan pada pengidap gigantisme, rahang menjadi menonjol dan dahi menonjol.

3. Tinggi Badan

Pengidap akromegali tidak mengalami peningkatan tinggi badan karena kondisi tersebut dimulai pada masa dewasa. Beda dengan pengidap gigantisme, mereka memang memiliki tinggi badan yang bertambah karena kondisinya dimulai saat masa pertumbuhan anak.

4. Pubertas

Akromegali berkembang setelah pubertas sehingga onsetnya tidak terpengaruh. Gigantisme berkembang sebelum pubertas dan karena itu dapat menyebabkan penundaan dimulainya pubertas.

5. Perkembangan Gonad

Gonad (organ reproduksi) tidak terpengaruh oleh akromegali karena orang tersebut sudah dewasa ketika kondisinya berkembang. Sedangkan pengidap gigantisme bisa terpengaruh gonadnya, lagi-lagi karena kondisi ini dimulai selama masa pertumbuhan.

Baca juga: Inilah Faktor Risiko Seseorang Mengidap Akromegali

6. Penyebab

Akromegali disebabkan oleh tumor hipofisis non-kanker atau tumor paru-paru non-hipofisis atau bagian lain dari otak. Gigantisme disebabkan oleh tumor hipofisis non-kanker, sindrom McCune-Albright, kompleks Carney, neurofibromatosis, dan juga neoplasia endokrin tertentu.

7. Gejala 

Gejala awal akromegali ditandai dengan perubahan pada wajah dengan tampilan yang kasar. Kaki dan tangannya juga membengkak. Perubahan tambahan dalam penampilan termasuk perkembangan rambut tubuh yang kasar dan kulit tebal yang menghitam. Kelenjar tubuh bertambah besar dan produksi keringat meningkat. Peningkatan keringat terkadang menyebabkan bau badan tidak sedap. Rahang juga menonjol dan lidah bisa berubah bentuk dan ukuran. Akromegali juga bisa menimbulkan masalah pada saraf.

Anak yang mengalami gigantisme biasanya mengalami pertumbuhan otot, organ, dan tulang yang menjadi lebih besar termasuk badan yang lebih tinggi dari rata-rata usia perkembangannya. Gejala lainnya bisa berupa penglihatan kabur, terlambat puber, penglihatan ganda, dahi dan rahang sangat menonjol, produksi keringat meningkat, dan tangan dan kaki besar. Pengidap juga mungkin merasa sangat lelah dan fitur wajah mungkin mengalami penebalan. 

8. Komplikasi

Salah satu komplikasi besar dari akromegali adalah perkembangan kardiomiopati, di mana jantung membesar, sehingga menyebabkan masalah pada fungsi jantung. Masalah dengan sistem pernapasan dan dengan metabolisme lipid dan glukosa juga bisa berkembang. Sedangkan perawatan gigantisme dapat menyebabkan masalah metabolisme termasuk dengan glukosa dan metabolisme lipid. Jika tidak ditangani, jantung bisa membesar yang menyebabkan masalah kardiovaskular di kemudian hari.

9. Cara Pengobatan

Operasi pengangkatan tumor dan terapi radiasi adalah pilihan pengobatan akromegali. Kadang-kadang obat seperti octreotide dapat digunakan untuk mengurangi jumlah hormon pertumbuhan yang disekresikan. Obat lain seperti pegvisomant juga dapat digunakan untuk memblokir reseptor untuk hormon tersebut. 

Gigantisme sering diobati dengan menggunakan obat-obatan yang membantu mengurangi produksi hormon pertumbuhan yang berlebih atau menghalangi reseptor yang mengikat hormon tersebut. Pegvisomant obat terkadang digunakan bersamaan dengan terapi radiasi.

Baca juga: 3 Faktor yang Memengaruhi Tinggi Badan

Itulah perbedaan antara akromegali dan gigantisme. Hubungi dokter lewat aplikasi Halodoc bila punya pertanyaan lebih lanjut. Kamu bisa menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Referensi:
Merck Manuals. Diakses pada 2020. Gigantism and Acromegaly.
University of Rochester. Diakses pada 2020. Acromegaly and Gigantism.