Harus Tahu, Ini Bedanya Sakit Kepala Akibat Migrain dan Corona

Ditinjau oleh  dr. Rizal Fadli   24 Juni 2020
Harus Tahu, Ini Bedanya Sakit Kepala Akibat Migrain dan CoronaHarus Tahu, Ini Bedanya Sakit Kepala Akibat Migrain dan Corona

Halodoc, Jakarta - Baru-baru ini ditemukan bahwa orang yang terinfeksi virus corona mengalami keluhan sakit kepala seperti migrain. Sebenarnya, sejak masa karantina ini orang pada umumnya mengalami sakit kepala akibat kurangnya aktivitas selama di rumah dan berbagai permasalahan yang disebabkan masa pandemi ini. 

Hanya saja sakit kepala migrain pada pengidap corona umumnya digambarkan sebagai sensasi yang sangat berat dan seperti meremas kepala. Biasanya sakit kepala ini terasa semakin buruk karena disertai demam dan batuk. Pengidap “langganan” migrain mungkin bisa merasakan perbedaan antara migrain yang umum dengan migrain akibat corona. Namun, bagaimana orang yang belum pernah mengalami migrain tahu perbedaannya?

Baca juga: Virus Corona Menyebar Lewat Kentut? Ini Faktanya

Sakit Kepala Migrain Akibat Corona

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala corona yang paling umum adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Namun, beberapa pengidap mungkin juga mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbat, pilek, sakit tenggorokan, dan diare. 

Sakit kepala seperti migrain bukanlah gejala umum dari infeksi virus corona, hanya saja 14 persen orang yang terinfeksi corona pernah mengalaminya. Seiring dengan berjalannya waktu, gejala sakit kepala hebat ini cukup banyak dialami oleh pengidap corona. 

Mengapa penyakit pernapasan bisa menyebabkan sakit kepala? Banyak virus, dari yang menyebabkan flu biasa hingga flu yang menyebabkan corona, menyebabkan tubuh merespons dengan cara menghancurkan infeksi. Salah satu cara tubuh menanggapi virus adalah dengan cara sel-sel kekebalan melepaskan protein (sitokin) yang menyebabkan peradangan, demam, dan kelelahan. Bersamaan dengan reaksi tersebut, maka sakit kepala seperti migrain bisa saja muncul. 

Baca juga: Bukan Cuma Batuk, Virus Corona juga Bisa Menular Saat Bicara

Sebuah penelitian observasional pada lebih dari 100 orang terinfeksi virus corona menunjukkan bahwa sakit kepala dapat terjadi selama fase presimtomatik atau gejala COVID-19. Rasa sakit tersebut dapat menyerupai ketegangan kepala atau sakit kepala migrain. 

Sakit kepala ini terjadi dalam periode gejala yang lebih pendek, sementara sakit kepala dan anosmia (kehilangan indra penciuman) dikaitkan dengan periode yang membutuhkan rawat ini dengan jangka waktu yang pendek. Beberapa ditemukan bahwa sakit kepala tetap bertahan, bahkan setelah gejala COVID-19 diatasi. 

Sakit dengan Gejala Migrain

Para peneliti juga mencatat bahwa memahami patofisiologi sakit kepala pada COVID-19 dapat meningkatkan pemahaman tentang migrain dan gangguan sakit kepala lainnya. Untuk itu kamu juga perlu memahami seperti apa gejala migrain pada umumnya.

Gejala migrain biasanya bertahap dalam empat fase, meski mungkin tidak semua pengidap migrain akan mengalami keempat tahapan ini. Empat fase gejala migrain yaitu:

  • Fase Prodromal. Fase ini terjadi pada satu atau dua hari sebelum migrain terjadi. Pada fase ini kamu akan mengalami suasana hati yang berubah-ubah, memiliki keinginan untuk mengonsumsi suatu makanan, kaku pada leher, jadi sering menguap, konstipasi, rasa haus datang lebih sering, dan sering muncul keinginan untuk buang air kecil. 
  • Fase Aura. Fase ini terjadi sebelum atau selama migrain berlangsung. Gejalanya yang dirasakan seperti gangguan penglihatan, seperti melihat kilatan cahaya, dan pandangan menjadi kabur. Selain itu pengidap juga dapat mengalami gangguan verbal sensorik dan motorik. Gejala biasanya terjadi secara perlahan, kemudian berkembang dan bertahan selama 20-60 menit. 
  • Fase Sakit Kepala. Inilah fase saat migrain yang sesungguhnya terjadi, biasanya berlangsung selama 4-72 jam. Gejala yang muncul biasanya sakit kepala pada satu sisi (bisa kanan, kiri, depan, belakang, atau pelipis). Rasanya seperti berdenyut atau kesemutan, pandangan menjadi kabur, pusing, mual dan muntah, sensitif terhadap cahaya, suara, penciuman, dan sentuhan. 

Fase Resolusi. Ini adalah fase terakhir dari migrain, terjadi setelah sakit kepala migrain menyerang. Fase ini terjadi sekitar 24 jam setelah serangan migrain. Gejalanya meliputi perubahan suasana hati, sakit kepala ringan, kelelahan, dan sensitif pada cahaya dan suara.

Baca juga:  Cegah Corona dengan Cuci Tangan, Perlukah Pakai Sabun Khusus?

Itulah perbedaan gejala antara sakit kepala migrain dengan sakit kepala akibat corona yang perlu kamu ketahui. Jika kamu ragu pada gejalanya saat mengalami, sebaiknya segera bicarakan pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Yuk, segera download aplikasinya sekarang!

Referensi:

Health. Diakses pada 2020. Is a Headache a Symptom of Coronavirus? Here's What Experts Say.

Medscape. Diakses pada 2020. Headache May Predict Clinical Evolution of COVID-19.

Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Migraine.

Mulai Rp50 Ribu! Bisa Konsultasi dengan Ahli seputar Kesehatan