• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Harus Tahu, Ini Perbedaan Pelecehan Seksual dan Seks Konsensual
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Harus Tahu, Ini Perbedaan Pelecehan Seksual dan Seks Konsensual

Harus Tahu, Ini Perbedaan Pelecehan Seksual dan Seks Konsensual

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 22 November 2022

“Pelecehan seksual terjadi jika seseorang tidak menginginkan perilaku seksual dari orang lain. Sedangkan seks konsensual terjadi karena persetujuan pasangan untuk melakukan aktivitas seksual tanpa paksaan.”

Harus Tahu, Ini Perbedaan Pelecehan Seksual dan Seks KonsensualHarus Tahu, Ini Perbedaan Pelecehan Seksual dan Seks Konsensual

Halodoc, Jakarta – Istilah pelecehan seksual dan seks konsensual mungkin sering kamu dengar beberapa waktu belakangan ini. Namun, tahukah kamu bahwa kedua istilah tersebut memiliki perbedaan makna yang signifikan? 

Pelecehan seksual dapat berupa rayuan seksual atau permintaan bantuan seksual yang tidak diinginkan, serta perilaku seksual lainnya yang tidak diinginkan. Termasuk komentar negatif tentang perempuan. Sedangkan seks konsensual adalah persetujuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas seksual dengan tanpa paksaan, tapi juga memiliki kebebasan untuk berubah pikiran jika kemudian menolaknya. 

Agar dapat lebih jelas memahami perbedaan pelecehan seksual dan seks konsensual, simak artikel di bawah ini!

Perbedaan Pelecehan Seksual dan Seks Konsensual

Perbedaan mendasar antara pelecehan seksual dan seks konsensual ada pada “keinginan”. Suatu tindakan seksual akan dianggap pelecehan jika salah satu pihak tidak menginginkannya. Namun, jika kedua belah pihak sama-sama menginginkan, tanpa adanya unsur paksaan ataupun ancaman, maka suatu tindakan seksual dianggap sebagai seks konsensual. 

Contoh pelecehan seksual meliputi:

  • Rayuan seksual yang tidak diinginkan, permintaan bantuan seksual, dan verbal atau fisik lainnya.
  • Perilaku seksual dilakukan secara eksplisit (gamblang) maupun implisit (tersirat).
  • Pelecehan verbal yang bersifat seksual, termasuk lelucon yang mengacu pada tindakan atau orientasi seksual.
  • Sentuhan atau kontak fisik yang tidak diinginkan.
  • Foto atau pesan teks yang eksplisit secara seksual yang tidak diinginkan.

Sementara itu, seks konsensual adalah persetujuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas seksual. Sebelum berhubungan seksual dengan seseorang, salah satu pihak harus mengetahui pihak lainnya juga ingin melakukannya dengan orang yang mengajaknya. Penting juga untuk jujur dengan pasangan tentang apa yang diinginkan dan tidak inginkan. 

Dengan kata lain, seseorang menyetujui aktivitas seksual jika mereka:

  • Setuju dengan pilihan.
  • Jika seseorang mengatakan “tidak” untuk segala jenis aktivitas seksual, maka artinya ia tidak menyetujuinya.

Namun, perlu dicatat juga, jika seseorang tidak mengatakan “tidak” maka bukan berarti bahwa ia juga menyetujuinya. Perlu dipahami, menyetujui dan meminta persetujuan adalah tentang menetapkan batasan pribadi seseorang dan menghormati batasan pasangannya. Termasuk memeriksa atau memastikan jika ada hal yang tidak jelas. Kedua belah pihak harus setuju untuk melakukan hubungan intim, aktivitas tersebut menjadi seks konsensual. 

Tanpa persetujuan dan antusias pasangan, aktivitas seksual akan menjadi pelecehan atau kekerasan seksual. Sikap dan perasaan antusias adalah yang harus digarisbawahi. Sebab jika pasangan mengatakan ‘ya’ tanpa perasaan dan sikap antusias, maka ‘ya’ tidak berarti ia setuju.

Mengatakan “Ya” Tidak Selalu Berarti Setuju

Perlu dipahami, persetujuan harus melibatkan kebebasan dan kapasitas untuk menjadi sebuah persetujuan. Sehingga, mengatakan “ya” saja tidak cukup untuk memaknai setuju.

Dipaksa, ditekan, diintimidasi, dimanipulasi, ditipu, atau ditakuti, akan menghilangkan kebebasan dan kapasitas seseorang untuk membuat pilihan dalam banyak situasi yang berbeda. 

Misalnya, jika seseorang berada dalam hubungan toksik atau kasar, mereka mungkin mengatakan ‘ya’ untuk sesuatu karena takut akan keselamatan mereka sendiri atau orang lain. Sehingga pernyataan ‘ya’ tersebut bukan berarti seseorang benar-benar menginginkannya. Sebab ada ketakutan yang merenggut kebebasan dan kapasitasnya untuk membuat pilihan nyata.

Sebagai contoh, saat kamu mengambil uang di mesin ATM, ada seseorang berdiri di belakangmu dan meminta nomor PIN sambil memegang pisau di punggungmu. Kemudian kamu memberikan PIN rekeningmu pada orang yang mengancam atau perampok tersebut. Saat memberikan nomor PIN pada orang tersebut, bukan berarti kamu setuju untuk dirampok.

Nah, hal itu mirip dengan seks. Ancamannya mungkin saja bukan berupa pisau, tapi bisa saja foto seksual orang lain, menyebarkan kebohongan tentang seksual seseorang, atau membuat seseorang merasa tidak berharga.

Itulah yang perlu diketahui tentang perbedaan tentang pelecehan seksual dengan seks konsensual. Jika kamu mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan terkait perilaku seksual seseorang sehingga membuatmu terganggu secara mental, sebaiknya segera tanyakan pada psikolog di Halodoc untuk mendapatkan saran untuk jalan keluarnya. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Banner download aplikasi Halodoc
Referensi:
Women Watch. Diakses pada 2022. What is Sexual Harassment 
Rape Crisis. Diakses pada 2022. What is sexual consent?
Rainn. Diakses pada 2022. Sexual Harassment
Planned Parenthood. Diakses pada 2022. Sexual Consent