Haruskah Obati Pectus Excavatum dengan Operasi?

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Haruskah Obati Pectus Excavatum dengan Operasi?

Halodoc, Jakarta – Bentuk dada yang sedikit cekung perlu diwaspadai. Kondisi ini bisa menandakan penyakit pectus excavatum, yaitu kondisi ketika tulang dada melesak masuk ke dalam tubuh. Jika dibiarkan tanpa penanganan, tulang dada rentan menekan jantung dan paru-paru hingga mengganggu fungsinya.

Baca Juga: Nyeri Dada dan Gejala Lain dari Penyakit Pectus Excavatum

Pectus Excavatum Bisa Diobati dengan Fisioterapi

Operasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi pectus excavatum. Selama tidak menimbulkan keluhan, kondisi ini tidak memerlukan penanganan khusus. Pengidap disarankan menjalani fisioterapi untuk memperbaiki postur dan melebarkan bagian dada.

Jika tulang dada melesak masuk hingga menekan jantung atau paru-paru, operasi perlu dilakukan. Berikut dua jenis operasi untuk mengatasi pectus excavatum:

  • Operasi nuss, dilakukan oleh dokter bedah dada, jantung, dan pembuluh darah. Dokter membuat sayatan kecil di kedua sisi dada pengidap. Melalui sayatan tersebut, logam melengkung dimasukkan untuk mengangkat tulang dada kembali ke posisi normal. Logam akan diangkat kembali setelah 2-3 bulan.

  • Operasi ravitch. Dokter membuat sayatan horizontal di bagian tengah, tujuannya untuk melihat secara langsung tulang dada pengidap. Beberapa tulang rawan di sekitar tulang dada kemudian diangkat, lalu disangga dengan logam untuk memperbaiki posisi tulang. Logam kembali diangkat setelah 6-12 bulan.

Baca Juga: Adakah Cara untuk Mencegah Kondisi Pectus Excavatum?

Beberapa Cara Diagnosis Pectus Excavatum

Diagnosis pectus excavatum dilakukan melalui pemeriksaan fisik pengidap, terutama pada bagian dada. Bila diperlukan, pengidap menjalani pemeriksaan penunjang untuk menetapkan diagnosis. Di antaranya adalah rontgen dada, CT scan, elektrokardiogram (EKG), echo jantung, tes fungsi paru-paru, dan uji latih jantung. 

  • Rontgen dada atau CT scan dilakukan untuk memeriksa tingkat keparahan penyakit dan melihat adanya kemungkinan tulang menekan jantung atau paru-paru;

  • Elektrokardiogram (EKG), digunakan untuk memeriksa aktivitas listrik dan irama jantung;

  • Echo jantung, bertujuan untuk memeriksa fungsi jantung serta katup dan ruangan jantung yang berkaitan dengan cekungan pada dada;

  • Tes fungsi paru (spirometri) untuk mengukur jumlah udara yang bisa ditampung oleh paru-paru, serta mengukur kecepatan udara yang dikeluarkan dari paru-paru;

  • Uji latih jantung untuk memantau kerja jantung dan paru-paru saat berolahraga. Misalnya, saat bersepeda atau berlari.

Untuk melakukan diagnosis pectus excavatum, kamu bisa membuat janji dengan dokter di rumah sakit pilihan di sini. Atau, kamu bisa bertanya tentang keluhan jantung berdebar, nyeri dada, dan sesak napas kepada dokter Halodoc via fitur Tanya Dokter.

Baca Juga: Begini Cara Pengobatan Bagi Pengidap Pectus Excavatum

Waspada, Ini Komplikasi Pectus Excavatum

Pectus excavatum tidak boleh dianggap sepele, meski jarang menunjukkan gejala. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini berpotensi menyebabkan komplikasi yang lebih serius. Berikut ini komplikasi akibat pectus excavatum yang perlu diwaspadai:

  • Menurunkan rasa percaya diri, karena pengidap pectus excavatum cenderung memiliki postur yang bungkuk.

  • Gangguan fungsi jantung dan paru-paru. Kondisi ini terjadi ketika tulang dada yang cekung menekan organ tersebut, sehingga ruang udara paru-paru berkurang. Jika tulang dada menekan jantung, dampaknya berupa penurunan kerja jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh.