• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Haruskah Pengidap Tifus Dirawat di Rumah Sakit?

Haruskah Pengidap Tifus Dirawat di Rumah Sakit?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Haruskah Pengidap Tifus Dirawat di Rumah Sakit?

Halodoc, Jakarta – Tifus adalah penyakit yang menyerang saluran pencernaan manusia. Salmonella typhi merupakan jenis bakteri yang sering menyebabkan tifus. Bakteri ini mampu menyebar melalui makanan, minuman, dan air minum yang terkontaminasi feses yang terinfeksi. Penyakit ini cukup umum di Indonesia dan hampir menjangkiti 100 ribu orang setiap tahunnya. 

Beberapa orang dapat menjadi pembawa tifus asimtomatik, artinya mereka menampung bakteri di ususnya tetapi tidak mengalami gejala apapun. Sementara sisanya dapat menyimpan bakteri sampai gejalanya hilang. Lantas, apakah setiap orang yang terserang tifus harus selalu dirawat di rumah sakit? Simak penjelasan berikut ini. 

Baca juga: Begini Cara Bakteri Salmonella Sebabkan Tipes

Haruskah Pengidap Tifus Dirawat di Rumah Sakit?

Perawatan di rumah sakit biasanya disarankan untuk seseorang yang mengalami gejala tifus parah, seperti muntah terus-menerus, diare, atau perut bengkak. Selain itu, anak-anak yang terserang tifus biasanya disarankan untuk di rawat di rumah sakit sebagai tindakan pencegahan agar tidak berkembang menjadi lebih serius. 

Di rumah sakit, pengidap tifus diberikan suntikan antibiotik dan cairan melalui infus. Pembedahan mungkin diperlukan bila pengidap tifus mengalami komplikasi yang mengancam jiwa, seperti pendarahan internal atau ada bagian dari sistem pencernaan yang pecah. Meski begitu, hal ini sangat jarang terjadi karena biasanya perawatan antibiotik saja sudah cukup. Kebanyakan pengidap merespons perawatan rumah sakit dengan baik dan kondisinya berangsur-angsur membaik dalam 3-5 hari.

Perawatan Tifus di Rumah

Apabila dokter menyatakan bahwa gejala tifus yang kamu alami masih ringan, dokter umumnya akan menyarankan perawatan rumahan dan meresepkan tablet antibiotik. Obat antibiotik ini biasanya harus diminum selama 7-14 hari sampai bakteri benar-benar mati. Gejala umumnya mulai membaik dalam 2-3 hari setelah minum antibiotik. Tetapi, meski kamu merasa membaik, kamu tetap harus menghabiskan antibiotik sesuai anjuran dokter untuk menghindari resistensi antibiotik. 

Baca juga: Tidak Nafsu Makan saat Tifus, Ini Cara Mengatasinya

Selama perawatan di rumah, pastikan kamu banyak beristirahat, minum banyak cairan dan makan secara teratur. Kamu juga wajib menjaga kebersihan diri dengan baik, seperti rutin mencuci tangan dengan sabun dan air hangat untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi ke orang lain. Kamu wajib melakukan langkah-langkah berikut agar tidak menularkan tifus kepada anggota keluarga lainnya:

  • Minum antibiotik sesuai instruksi dokter pastikan untuk menghabiskan seluruhnya.
  • Cuci tangan sesering mungkin. Gunakan air sabun panas dan gosok tangan dengan seksama setidaknya selama 30 detik, terutama sebelum makan dan setelah menggunakan toilet.
  • Hindari menyiapkan makanan untuk orang lain sampai dokter menyatakan kamu benar-benar sembuh dan tidak dapat menularkan penyakit. 
  • Jika kamu bekerja di industri layanan makanan atau fasilitas perawatan kesehatan, sebaiknya jangan bekerja terlebih dahulu sampai tes menunjukkan bahwa kamu tidak lagi menyebarkan bakteri tifus.

Baca juga: Mitos atau Fakta, Bawang Putih Bisa Mencegah Tifus?

Bila kamu punya keluhan ringan selama perawatan di rumah, kamu bisa menghubungi dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat smartphone yang kamu punya, kamu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Mudah sekali, bukan? Yuk, download aplikasinya sekarang juga!

Referensi:
NHS. Diakses pada 2020. Typhoid fever.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Typhoid fever.