• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hati-Hati, Sarkasme Bisa Pengaruhi Kesehatan Jantung

Hati-Hati, Sarkasme Bisa Pengaruhi Kesehatan Jantung

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Sepertinya, nyinyir dan nyindir menjadi dua kebiasaan buruk yang tidak lepas dalam kehidupan sosial, ya? Kapan dan di mana saja, pasti ada orang-orang yang tidak suka dengan apa yang kamu lakukan, tetapi tidak menegur secara langsung. Justru mengumbarnya dengan orang lain atau menyindir dengan kata-kata yang terdengar menyakitkan. 

Namun, studi terbaru menemukan bahwa terlalu banyak nyinyir dan nyindir, atau disebut juga sarkasme, bisa menimbulkan dampak negatif untuk kesehatan jantung, lho! Sebenarnya, apa hubungannya dan bagaimana kondisi ini bisa terjadi?

Sarkasme dan Kesehatan Jantung

Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Tennessee, Amerika Serikat, yang diterbitkan dalam European Journal of Cardiovascular Nursing menyebutkan, orang-orang yang memiliki sifat sarkasme, bermusuhan, tidak sabaran, atau mudah marah dan tersinggung ternyata memiliki kesehatan jantung yang lebih rentan dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki sifat tersebut.

Baca juga: 5 Ciri Pasangan yang Posesif

Studi ini dilakukan dengan survei sebanyak 2.300 orang yang pernah atau memiliki riwayat serangan jantung dan memakan waktu selama 24 bulan dengan metode pendekatan karakter dari setiap orang. Setelahnya, ditemukan bahwa partisipan yang memiliki karakter suka bermusuhan atau memusuhi orang lain memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan jantung. 

Sayangnya, kondisi ini akan cenderung berulang. Artinya, kepribadian pada seseorang secara tidak langsung turut berpengaruh pada kesehatan jantung, baik melalui unsur psikologis maupun perilaku. Sebaliknya, orang-orang dengan karakter optimis dalam dirinya cenderung memiliki kesehatan jantung yang lebih baik. 

Baca juga: Trauma Bisa Sebabkan Seseorang Alami Gangguan Kepribadian Paranoid

Lalu, mengapa kondisi ini bisa terjadi? Ternyata, orang yang suka bermusuhan atau memusuhi orang lain akan meningkatkan waktu proses pembekuan darah, kadar adrenalin di atas angka kolesterol dan trigliserida yang normal, serta reaktivitas organ jantung. 

Suasana Hati dan Pengaruhnya Terhadap Hormon

Ternyata, suasana hati pun turut diamati dalam studi kali ini dan diyakini bahwa ada keterkaitan antara perubahan suasana hati dengan tingkat hormon di dalam tubuh. Sifat optimis yang dimiliki seseorang nyata bisa membantu mengurangi stres dan mengendalikan kadar hormon kecemasan, seperti kortisol dan adrenalin yang bisa membuat jantung terbebani sekaligus mengakibatkan tekanan darah meningkat.

Tracey Vitori, salah satu peneliti yang tergabung dalam studi ini menyebutkan, sifat senang memusuhi orang lain merupakan ciri kepribadian yang termasuk di dalamnya adalah sifat sarkastik, kesal, sinis, mudah tersinggung, dan tidak sabar. Tidak hanya dari satu kejadian, tetapi juga bagaimana perilaku seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain.

Baca juga: Negatif Thinking Bisa Mengarah ke Paranoid, Mitos atau Fakta

Sederhananya, mengontrol kebiasaan dan mengubah pola hidup akan mengurangi tingginya risiko seseorang dari bahaya penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung. Orang-orang dengan pikiran dan pandangan yang selalu positif, membiasakan pola hidup dan pola makan yang sehat, memenuhi asupan cairan tubuh dan rutin berolahraga ternyata memiliki tingkat stres yang lebih rendah, begitu pula dengan risiko terserang penyakit yang berbahaya.

Sarkasme memang terkadang diperlukan, tetapi ingat bahwa porsinya yang berlebihan tidak membawa dampak positif bagi tubuh. Jika kamu merasa terbebani dengan lingkungan sosial dan selalu merasa tersindir, kamu bisa berbagi dengan menceritakan apa yang dialami langsung kepada psikolog melalui aplikasi Halodoc. Kapan dan di mana saja kamu membutuhkan bantuan, dokter spesialis dari Halodoc siap membantu.



Referensi: 
Psychology Today. Diakses pada 2020. Think Sarcasm is Funny? Think Again.
Tracey K. Vitori, et al. 2020. Diakses pada 2020. Hostility Predicts Mortality but Not Recurrent Acute Coronary Syndrome. European Journal of Cardiovascular Nursing.