Hati-Hati, Tidak Ada Batasan Usia untuk Terkena Stroke

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Hati-Hati, Tidak Ada Batasan Usia untuk Terkena Stroke

Halodoc, Jakarta - Pola hidup yang tidak sehat dapat menyebabkan seseorang mengalami berbagai penyakit. Salah satu yang dapat terjadi adalah stroke. Seseorang yang mengalami obesitas dan kerap mengonsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak dapat mengalami gangguan pada otak ini.

Dikarenakan penyakit ini dapat disebabkan oleh pola hidup yang buruk, stroke dapat menyerang semua rentang usia. Disebutkan bahwa terdapat peningkatan penyakit stroke pada rentang usia 20 hingga 45 tahun. Berikut adalah penyebab dari serangan stroke yang dapat terjadi pada semua rentang usia!

Baca juga: 5 Fakta Tentang Stroke yang Harus Diketahui

Semua Usia Dapat Terkena Stroke

Banyak orang dengan usia yang masih muda menganggap apabila dirinya tidak mungkin mengalami stroke. Memang risiko stroke berbanding lurus dengan usianya, tetapi stroke dapat terjadi pada usia berapa pun. Disebutkan juga bahwa angka stroke meningkat pada anak muda dan usia setengah baya.

Seseorang yang mengalami stroke akan mendapati penurunan suplai darah ke otak. Umumnya yang terjadi pada seseorang dengan usia muda karena terdapat pembekuan darah di dalam pembuluh darah atau jantung. Beberapa hal yang dapat menyebabkannya adalah mengonsumsi pil KB dan merokok.

Stroke umumnya terjadi secara tiba-tiba dan umumnya menyerang salah satu bagian pada tubuh. Seseorang yang terserang mungkin mengalami gejala, seperti kehilangan keseimbangan, sakit kepala secara tiba-tiba, merasakan mati rasa pada salah satu sisi bagian tubuh, hingga kehilangan kesadaran.

Jika kamu mempunyai pertanyaan terkait usia terkena stroke yang dapat terserang, dokter dari Halodoc dapat membantu. Kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone kamu! Selain itu, kamu juga dapat melakukan pemeriksaan fisik di beberapa rumah sakit terpilih dengan pemesanan online melalui aplikasi tersebut.

Baca juga: Inilah Perbedaan antara Stroke Hemoragik dan Stroke Iskemik

Cara Mendiagnosis Penyakit Stroke

Untuk menentukan perawatan yang paling tepat ketika seseorang mengidap stroke, evaluasi jenis gangguan yang terjadi perlu dilakukan. Selain itu, pemeriksaan terhadap seberapa parah dan area mana saja yang terserang sangat penting untuk menentukan langkah yang akan diambil selanjutnya.

Dokter juga perlu menyingkirkan kemungkinan penyebab gejalanya, seperti tumor otak atau reaksi obat. Berikut adalah beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan risiko stroke yang dapat terjadi, yaitu:

  1. Pemeriksaan Fisik

Awalnya dokter akan menanyakan kepada kamu tentang gejala yang dialami dan segala hal yang berhubungan. Selain itu, dokter juga ingin tahu obat apa saja yang dikonsumsi, serta apakah pernah mengalami cedera kepala. Penyakit jantung dan gangguan lainnya yang pernah terjadi juga dapat menjadi salah satu pertanyaan dari dokter.

Setelah itu, dokter akan memeriksa tekanan darah dan mendengarkan detak jantung menggunakan stetoskop. Kemungkinan, ophthalmoscope juga akan digunakan untuk memeriksa tanda-tanda gumpalan kolesterol pada pembuluh darah di bagian belakang mata yang juga dapat berbahaya.

  1. Pemindaian Tomografi Terkomputerisasi (CT Scan)

Pemeriksaan lainnya terhadap penyakit stroke adalah dengan CT Scan. Pemeriksaan menggunakan serangkaian sinar-X untuk membuat gambar otak secara terperinci. CT scan dapat menunjukkan perdarahan, tumor, stroke, dan kondisi lainnya. Dokter dapat menyuntikkan zat pewarna ke dalam aliran darah untuk melihat pembuluh darah di leher dan otak secara lebih terperinci.

Baca juga: Tak Pandang Bulu, 6 Orang Terkenal Ini Meninggal karena Stroke

  1. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI menggunakan gelombang radio dan magnet yang kuat untuk membuat tampilan rinci otak seseorang. MRI dapat mendeteksi jaringan otak yang rusak akibat stroke iskemik dan pendarahan otak. Dokter dapat menyuntikkan zat pewarna ke dalam pembuluh darah untuk melihat arteri dan vena dan menyoroti aliran darah.

Referensi:
Neurology Advisor. Diakses pada 2019. Stroke in Young Adults: Risk Factors and Prognosis
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Stroke