• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hindari Minum Teh Setelah Makan, Coba Cari Tahu 3 Alasannya
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hindari Minum Teh Setelah Makan, Coba Cari Tahu 3 Alasannya

Hindari Minum Teh Setelah Makan, Coba Cari Tahu 3 Alasannya

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 10 Maret 2022

“Terdapat beberapa alasan mengapa kebiasaan minum teh setelah makan perlu dihindari. Salah satunya karena teh dapat menghambat penyerapan zat besi pada tubuh. Sebab, kandungan asam fitat yang ada pada teh dapat mengacaukan penyerapan zat gizi pada tubuh.”

Hindari Minum Teh Setelah Makan, Coba Cari Tahu 3 Alasannya

Halodoc, Jakarta – Teh merupakan salah satu minuman yang terkenal dengan rasa beserta khasiatnya. Akan tetapi, beberapa penelitian menyebutkan bahwa minum segelas teh manis setelah makan adalah kebiasaan yang tidak dianjurkan dan malah berisiko menjadikan teh sebuah minuman tidak sehat

Padahal, minum teh setelah makan terasa sangat lazim dan sering dilakukan, khususnya bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Lantas apa yang membuat para peneliti menyarankan teh sebaiknya tidak dikonsumsi setelah makan? Yuk, ketahui alasannya di sini! 

Ini Alasan Mengapa Minum Teh Setelah Makan Perlu Dihindari 

Berikut adalah alasan mengapa minum teh setelah makan berbahaya bagi kesehatan, antara lain: 

1. Menghambat Penyerapan Zat Besi pada Tubuh

Banyak penelitian yang menganjurkan untuk tidak meminum teh setelah makan. Salah satunya seperti penelitian yang dipublikasikan Critical reviews in food science and nutrition berjudul Effect of tea and other dietary factors on iron absorption. Sebab, kandungan asam fitat yang ada pada teh dapat mengacaukan penyerapan zat gizi pada tubuh. Perlu diketahui bahwa setelah makan, tubuh akan bertugas untuk mencerna dan menyerap seluruh manfaat dari makanan yang dikonsumsi.

Sayangnya, interaksi antara asam fitat yang ada dalam teh disebut dapat menghambat penyerapan zat besi (Fe), seng (Zn) dan Magnesium (Mg). Jika hal ini terjadi, dikhawatirkan orang tersebut akan mengalami anemia atau kekurangan zat besi. Alih-alih minum teh, para peneliti lebih menyarankan untuk banyak minum air putih termasuk setelah makan. Sebab air putih telah terbukti dapat membantu proses pencernaan makanan. 

Selain itu, sebagian besar tubuh manusia terdiri dari air, sehingga penting untuk memastikan kebutuhan air dalam tubuh tercukupi. Selain air putih, kamu juga bisa mengonsumsi jus buah yang banyak mengandung vitamin C. Sebab, minuman tersebut dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi. Namun, pastikan untuk menghindari jus buah yang mengandung gula. Tujuannya agar dapat terhindar dari gangguan kesehatan yang tidak diinginkan, seperti gigi berlubang hingga meningkatnya kadar gula dalam darah dan obesitas.

2. Memicu Terjadinya Konstipasi  

Teh memiliki kandungan senyawa tanin di dalamnya. Nah, karena kandungan tersebut, mengonsumsi teh setelah makan dikhawatirkan dapat memicu terjadinya konstipasi atau diare. Sebab, salah satu manfaat dari tanin pada teh adalah bersifat anti diare. Senyawa tersebut bekerja dengan cara mengumpulkan protein di sekitarnya. 

3. Memicu Peningkatan Asam Lambung pada Perut

Teh yang diminum setelah makan diduga berpotensi menjadi katalis yang dapat memicu produksi asam lambung berlebih. Nah, asam lambung berlebih pada perut diketahui dapat memicu berbagai masalah saluran cerna seperti gastritis dan GERD.

Kendati demikian, menurut studi berjudul Association between tea consumption and gastroesophageal reflux disease yang dipublikasikan pada 2019 silam, tidak ada hubungan yang signifikan antara konsumsi teh dan risiko GERD secara keseluruhan. Namun, dalam analisis subkelompok, minum teh memang benar adanya dapat meningkatkan risiko GERD.  Oleh sebab itu, penelitian lebih lanjut tentunya masih diperlukan untuk benar-benar memastikannya. 

Kapan waktu terbaik minum teh?

Sebenarnya minum teh setelah makan tidak sepenuhnya dilarang. Asalkan menu makanan yang dikonsumsi cukup bervariasi. Seperti memiliki sumber nabati dan hewani serta vitamin C yang bisa didapat dari sayur dan buah-buahan.

Namun, agar lebih aman sebaiknya berilah jeda antara makan dan minum teh. Waktu terbaik untuk mulai minum teh adalah sekitar setengah jam sampai dua jam setelah makan. Jenis teh yang diminum juga sebaiknya disesuaikan.

Cobalah untuk minum teh hijau setelah makan. Sebab kandungan pada teh ini telah terbukti dapat membantu melancarkan pencernaan serta tak memiliki dampak yang terlalu besar  terhadap penyerapan makanan.

Minum teh setelah makan pun sebaiknya dilakukan secukupnya saja. Artinya kamu harus membatasi berapa banyak teh yang masuk ke dalam tubuh. Ada baiknya untuk tidak mengonsumsi teh lebih dari satu cangkir setelah makan.

Selain setelah makan, ada banyak waktu lain yang bisa dimanfaatkan untuk minum teh. Seperti saat sedang bersantai di sore hari. Namun, sebaiknya hindari meminum teh sesaat sebelum tidur di malam hari.

Sebab, teh memiliki kandungan kafein yang dapat memberi efek waspada dan segar pada tubuh. Akhirnya kamu mungkin akan mengalami sulit tidur dan gangguan lain di malam hari.

Minum teh memang memiliki khasiatnya sendiri bagi tubuh, tapi jika ragu sebaiknya batasi asupan teh dalam tubuh. Daripada teh, cobalah untuk rutin minum air setidaknya dua liter dalam satu hari. Tujuannya agar cairan tubuh yang hilang setelah seharian beraktivitas dapat tergantikan, sehingga kamu dapat terhindar dari dehidrasi. 

Jika kamu masih memiliki pertanyaan seputar minuman yang sebaiknya dihindari pada situasi tertentu, segeralah tanya dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur call/video call secara langsung pada aplikasinya. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, download Halodoc sekarang! 

Referensi: 

Healthline. Diakses pada 2022. 9 Side Effects of Drinking Too Much Tea.
Kompas. Diakses pada 2022. Minum Teh Setelah Makan Berbahaya Bagi Kesehatan, Ini Penjelasan Ahli. 
Zijp, Itske M., Onno Korver, and Lilian BM Tijburg. “Effect of tea and other dietary factors on iron absorption.” Critical reviews in food science and nutrition 40.5 (2000): 371-398.
NIH. Diakses pada 2022. Tea and its consumption: benefits and risks. 
NCBI. Diakses pada 2022. Association between tea consumption and gastroesophageal reflux disease.