15 January 2019

Kenali Hipotensi Supine yang Bisa Menyerang Ibu Hamil

Kenali Hipotensi Supine yang Bisa Menyerang Ibu Hamil

Halodoc, Jakarta – Banyak perubahan yang terjadi selama kehamilan, termasuk penurunan tekanan darah. Sebagian besar ibu hamil mengalami penurunan tekanan darah sekitar 15 persen, rentan terjadi pada trimester pertama dan kedua kehamilan. Meski wajar terjadi, penurunan tekanan darah pada ibu hamil perlu diwaspadai karena memicu gangguan hipotensi supine.

Waspada Sindrom Hipotensi Supine (SHS) Saat Hamil

SHS disebut juga gangguan hipotensi telentang. Ibu hamil pengidap SHS mengalami penurunan tekanan darah sistolik sebesar 30 persen saat telentang. Tekanan darah sistolik menunjukkan tekanan saat jantung memompa darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh. Penyebabnya adalah rahim yang membesar seiring bertambahnya usia kehamilan. Pembesaran rahim menekan vena terbesar dari batang tubuh (vena kava) dan aorta bawah saat telentang, sehingga membatasi aliran darah kembali ke jantung. Akibatnya, terjadi penurunan aliran balik vena dan menimbulkan gejala tekanan darah rendah.

Baca Juga: Mengalami Hipotensi, Ini 4 Makanan yang Bantu Tingkatkan Tekanan Darah

Gejala hipotensi supine adalah detak jantung abnormal (takikardia), mual, muntah, wajah pucat, keringat dingin, lemas, pusing, sulit bernapas, hingga penurunan kesadaran. Gejala biasanya terjadi secara singkat, sekitar 3 - 10 menit setelah ibu hamil berbaring atau telentang. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena bisa berdampak negatif pada janin.

Alasannya, tekanan berulang pada vena mengurangi aliran darah ke plasenta dan mengganggu perkembangan janin dalam kandungan, seperti kondisi gawat janin. Pada kasus yang parah, hipotensi supine mengurangi suplai darah ke otak dan menyebabkan syok, kehilangan kesadaran (pingsan), hingga kematian ibu dan janin.

Hindari Posisi Telentang untuk Cegah Sindrom Hipotensi Supine (SHS)

Posisi telentang memicu penurunan tekanan darah pada ibu hamil, sehingga cara mencegahnya dengan menghindari posisi telentang, baik saat beraktivitas maupun tidur. Ibu hamil dianjurkan tidur dengan posisi miring ke kiri untuk meningkatkan alirah darah ke jantung dan hindari berdiri terlalu lama.

Terlalu lama berdiri dapat mengurangi aliran darah kembali ke jantung dan menyebabkan pusing, cedera karena jatuh, hingga pingsan. Jika hendak berolahraga, pastikan tidak berolahraga dengan posisi telentang. Segera berhenti jika mengalami pusing saat berolahraga dengan posisi berbaring atau telentang.

Ibu hamil sulit menghindari pusing akibat tekanan darah rendah. Namun, ibu dapat melakukan cara berikut untuk mengatasi darah rendah saat hamil:

  • Hindari gerakan mendadak, terutama saat berdiri dari posisi duduk.

  • Perbanyak minum air putih dan hindari minuman berkafein dan beralkohol. Kebutuhan cairan ibu hamil idealnya berkisar 12 - 13 gelas per hari, atau disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.

  • Olahraga ringan secara teratur untuk mempertajam refleks tubuh dan menjaga tekanan darah agar tetap normal. Ibu hamil tidak boleh sembarangan memilih jenis olahraga karena dapat meningkatkan risiko cedera dan berdampak negatif pada kehamilan. Maka itu, tanya dokter Halodoc tentang jenis olahraga yang boleh dilakukan saat hamil.

  • Gunakan stoking kompresi selama kehamilan guna melancarkan sirkulasi darah. Stoking kompresi mengurangi risiko pembengkakan dan sakit di kaki, serta mencegah pembentukan gumpalan darah.

Kaitan antara posisi telentang dengan risiko hipotensi supine sebenarnya perlu diteliti lebih lanjut. Maka itu, kamu bisa menanyakan hipotensi supine saat hamil pada dokter Halodoc. Ibu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!