• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Hustle Culture Bisa Turunkan Produktivitas Otak

Hustle Culture Bisa Turunkan Produktivitas Otak

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta – Sibuk menandakan kesuksesan. Semakin kamu sibuk, maka semakin cepat kamu akan mendapatkan kesuksesan. Apakah kamu juga mengamini hal yang sama? Hati-hati, bisa jadi kamu sedang mengalami hustle culture.

Hustle culture saat ini sedang menjadi tren dan dianggap lumrah oleh kaum urban. Bekerja tanpa henti, melewatkan waktu istirahat, mengisi weekend dengan kerja, kerja, dan kerja. Mungkin kamu menganggap apa yang dilakukan adalah wujud keoptimalan dalam bekerja, padahal jika terus dilakukan, hustle culture ini bisa menurunkan produktivitas otak.

Dampak Hustle Terhadap Kesehatan 

Milenial, terutama mereka yang single dan fresh graduate, melakoni hustle culture bahkan menjadikannya standar produktivitas kerja. Faktanya, hustle culture ini bisa berdampak pada kesehatan.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Occupational Medicine menyebutkan bahwa jam kerja yang lebih lama dikaitkan dengan status kesehatan mental yang lebih buruk dan meningkatnya gejala kecemasan, depresi, dan gangguan tidur.  

Baca juga: Stres Kerja Pengaruhi Kesehatan Secara Menyeluruh

Otak yang dipaksa bekerja tanpa henti dan mengerjakan banyak hal di waktu bersamaan (multitasking) juga bisa menurunkan produktivitasnya. Seperti organ tubuh lainnya, otak juga perlu istirahat. Tidur, olahraga, rileks, liburan, serta melakukan hal-hal menyenangkan dan menenangkan lainnya adalah cara mengistirahatkan otak.

Dengan beristirahat, otak bisa punya quality time-nya sendiri. Ibarat gadget yang di-charge, otak memulihkan baterainya dengan cara beristirahat dari hal-hal yang memenatkan. Selain menurunkan produktivitas otak, berikut adalah dampak lain dari hustle culture untuk kesehatan:

1. Bisa Fatal

Terlalu banyak bekerja bisa juga menghilangkan nyawa karena dipicu gagal jantung dan stres. Kerja berlebihan menyebabkan kesehatan mental yang lebih buruk, kecemasan yang lebih besar, dan kecenderungan depresi yang lebih besar. 

2. Kehilangan Waktu Berkualitas dengan Keluarga

Hustle culture membuat kamu lebih mengutamakan pekerjaan dibanding dengan keluarga. Sedikit banyak ini bisa memengaruhi interaksi sosialmu dengan orang-orang terdekat. Orangtua yang sibuk bekerja cenderung tidak punya waktu untuk anaknya, demikian juga anak yang bekerja cenderung mengabaikan orangtuanya.

Baca juga: Alami Masalah Kesehatan Jiwa, Kenali Ciri-Ciri Ini

3. Tidak Bisa Menikmati Hidup

Orang-orang yang menjadikan hustle culture sebagai standar dalam bekerja dan menjalani hidup cenderung tidak bisa menikmati hidupnya. Ini dikarenakan ia selalu diburu waktu dan pekerjaan yang tiada hentinya. Pelaku hustle culture juga punya kecenderungan untuk mengumpulkan uang, tapi selalu menunda untuk menjalani hal-hal lain di luar pekerjaannya. 

Keluar dari Jebakan Hustle Culture

Play hard, work hard adalah hal yang seharusnya kamu lakukan supaya terhindar dari hustle culture. Jika kamu saat ini merasa sedang terjebak di hustle culture, simak tips berikut:

1. Bekerja dengan Cerdas

Jangan bekerja mati-matian, bekerjalah dengan cerdas. Caranya? Kerjakan tugas selama tiga jam bukan enam jam. Dengan begitu kamu punya waktu untuk memeriksa ulang dan melanjutkan ke tugas lain. 

Kerja mati-matian tidak akan ada gunanya dari sisi kualitas pekerjaan maupun kesehatanmu. Kerja berlebihan bukanlah batu loncatan untuk sukses. Kerja dengan efisien itu yang lebih menguntungkan. 

Baca juga: Alasan Orang Bunuh Diri Meski Memiliki Kehidupan yang Terlihat Sempurna

2. Kerja dengan Seimbang

Pikiran yang segar adalah pikiran yang kreatif. Bekerja terus-menerus akan menguras kreativitas. Pastikan kamu untuk mengambil cuti, quality time bersama keluarga, menjadi sukarelawan untuk tujuan yang baik, menemukan hobi baru, dan bepergian ke tempat yang menyenangkan. Melakukan hal-hal tersebut memungkinkan pikiran untuk beristirahat, sehingga kamu bisa lebih segar saat bekerja kembali.

Kalau kamu punya masalah kesehatan yang membuatmu tidak bisa konsentrasi bekerja, diskusikan saja dengan dokter atau psikolog melalui aplikasi Halodoc. Tanpa perlu repot keluar rumah, kamu bisa berbincang dengan dokter atau psikolog kapan dan di mana saja.

Referensi:
The Concordian. Diakses pada 2021. Hustle culture and toxic productivity are ruining your brain.
Psychology Today. Diakses pada 2021. The 'Rise and Grind' of Hustle Culture.