• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu dan Ayah, Ini Cara Menghadapi Anak yang Berpikir Kritis
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu dan Ayah, Ini Cara Menghadapi Anak yang Berpikir Kritis

Ibu dan Ayah, Ini Cara Menghadapi Anak yang Berpikir Kritis

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 04 Oktober 2022

“Berpikir kritis untuk anak-anak adalah salah satu keterampilan terpenting dalam hidup. Namun, bagaimana pola asuh yang tepat untuk para generasi muda pemikir kritis?”

Ibu dan Ayah, Ini Cara Menghadapi Anak yang Berpikir KritisIbu dan Ayah, Ini Cara Menghadapi Anak yang Berpikir Kritis

Halodoc, Jakarta – Berpikir kritis mengacu pada keterampilan dan kebiasaan yang berhubungan dengan berpikir. Ini termasuk kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mengartikan suatu masalah, mampu mengidentifikasi asumsi, menganalisis ide yang didapat, dan menalar semua hal secara kritis. 

Seseorang yang berpikir kritis dapat secara sistematis membuat daftar kemungkinan penyebab yang berbeda, membuat solusi yang masuk akal, atau mengevaluasi kebenarannya menggunakan penalaran logis. Tak hanya itu, berpikir kritis juga mencakup kemampuan seseorang untuk membuat kaitan yang kreatif antara ide-ide dari berbagai disiplin ilmu.

Mengapa Berpikir Kritis Itu Penting?

Berpikir kritis untuk anak-anak membantu mereka mengembangkan keterampilan penalaran atau logika. Seorang pemikir kritis akan mengajukan pertanyaan yang tepat dan terarah. Mereka akan menganalisis berbagai hal dan melihat alasan dan semua alternatif yang ada.

Berpikir kritis adalah salah satu keterampilan kognitif yang paling berharga. Sebab, kemampuan ini memungkinkan anak untuk menggunakan disiplin dan logika untuk memecahkan masalah. Selain itu, ini juga penting untuk perkembangan otak dan kognitif anak. 

Keterampilan ini dibutuhkan untuk membuat anak lebih memahami bagaimana segala sesuatunya bekerja di dunia nyata, dan membantu mereka menghasilkan ide-ide kreatif.

Selain memperoleh keterampilan memecahkan masalah, mampu berpikir secara mandiri akan memungkinkan anak untuk melawan tekanan teman sebaya, membentuk pendapat mereka sendiri, dan memercayai pemikiran mereka sendiri. Ini akan terlihat ketika anak diminta untuk melakukan hal-hal yang tidak ingin mereka lakukan.

Bagaimana Menghadapi Anak yang Berpikir Kritis?

Memasuki usianya yang ke-3, anak biasanya telah banyak bertanya dan menunjukkan kemampuan berpikir yang lebih kritis daripada biasanya. Bahkan, pertanyaan yang muncul bukan tidak mungkin terdengar aneh bagi ayah dan ibu. 

Lalu, bagaimana menghadapi hal ini? Ibu dan ayah bisa mencoba menerapkan beberapa tips pola asuh anak berikut ini. 

  1. Menjadi pendengar yang baik

Tidak ada yang lebih baik bagi anak daripada orang tua yang mendengarkan pertanyaan mereka dengan baik. Dengan begitu, anak akan merasa dihargai, apalagi jika ibu dan ayah memandang mata Si Kecil ketika ia bicara. Hal ini akan membuat anak merasa lebih percaya diri. 

Dengarkan dengan baik semua pertanyaan yang dikeluarkan anak. Jangan lupa, pastikan ibu dan ayah fokus padanya saat mereka bertanya, tidak sambil berinteraksi dengan gawai atau melakukan hal lainnya. 

  1. Berikan respons yang positif

Selanjutnya, berikan respons yang positif ketika anak mulai bertanya. Jangan pernah menanggapi semua celotehan dan pertanyaan sang buah hati dengan emosi atau respons yang tidak menyenangkan. Sebab, ini akan membuat anak kecewa dan merasa tidak didengar. Bukan tidak mungkin ia akan urung untuk bertanya lagi pada ayah dan ibu. 

  1. Ajak anak mencari jawabannya

Jika ibu tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diajukan anak, sebaiknya katakan terus terang. Lalu, ajak anak untuk mencari jawabannya bersama-sama. Misalnya, melalui buku, ensiklopedi, atau mencarinya di internet. 

  1. Jelaskan dengan singkat dan mudah dipahami

Beberapa pertanyaan Si Kecil mungkin terasa cukup kompleks saat harus dijawab. Jadi, supaya tidak membuatnya kebingungan, pastikan ibu dan ayah memberikan penjelasan yang mudah dipahami. 

Bersiap untuk mendapatkan pertanyaan lain dari jawaban yang telah diberikan. Biasanya, Si Kecil akan terus bertanya sampai dirinya sendiri paham dengan penjelasan ayah dan ibu. 

  1. Ajak berdiskusi

Berdiskusi tidak berarti berdebat, ya. Tidak pula harus topik yang sebenarnya terlalu berat untuk usia anak. Jika ia bertanya, ajak berdiskusi ringan. Tidak hanya membangun kemampuan komunikasi, diskusi juga membantu mengasah daya analisis dan pola pikir anak, lho!

Berbincang dengan Si Kecil yang sangat ingin tahu memang terkadang terasa menjemukan. Namun, hal ini tidak terjadi berulang kali, oleh karena itu, buatlah ini menjadi pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan untuk sang buah hati. 

Selain itu, jangan sampai lupa untuk tetap memantau kondisi kesehatan sang buah hati. Ibu bisa menggunakan Layanan Janji Medis untuk melakukan pemeriksaan medis yang sesuai dengan kebutuhan, sehingga diagnosis bisa segera didapatkan. Akses aplikasi Halodoc untuk cek layanan tersebut, ibu bisa download Halodoc di App Store atau Play Store. 

Referensi:
Parenting for Brain. Diakses pada 2022. Critical Thinking For Kids – 5 Powerful Ways to Teach How To Think, Not What To Think.
Liputan6. Diakses pada 2022. 6 Tips Hadapi Anak yang Mulai Berpikir Kritis.