Ibu Hamil Alami Kejang, Hati-Hati Gejala Eklampsia

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia
Ibu Hamil Alami Kejang, Hati-Hati Gejala Eklampsia

Halodoc, Jakarta - Saat hamil, kondisi kesehatan ibu harus dijaga dengan baik. Sedikit gangguan bisa memengaruhi perkembangan bayi di dalam kandungan. Salah satu yang harus dijaga adalah tekanan darah, karena saat ibu hamil mengalami hipertensi, maka hal ini memicu kejang saat hamil yang merupakan salah satu gejala eklampsia. 

Tidak hanya kejang, gejala eklampsia yang terjadi yaitu penurunan kesadaran atau tatapan yang kosong. Eklampsia adalah kondisi serius akibat preeklamsia pada ibu hamil, yang ditandai kejang. Jadi, preeklamsia yang terjadi bersamaan dengan kejang disebut eklampsia.

Baca Juga: Kenali Lebih Dalam Tentang Eklampsia

Apa Saja Gejala dari Eklampsia?

Sebelum mengenal gejala eklampsia, perlu diketahui bahwa kondisi ini dibagi menjadi 2 tahapan. Tahap pertama adalah kejang sekitar 15-20 detik yang ditandai kedutan di sekitar wajah. Tahap keduanya adalah saat kejang mulai menyebar ke otot di sekitar rahang, otot mata, dan menyebar ke seluruh tubuh selama sekitar 60 detik.

Eklampsia pada ibu hamil akan didahului dengan preeklamsia. Pada banyak kasus, ibu hamil yang mengalami preeklamsia tidak menunjukkan gejala. Namun, preeklamsia diketahui dengan gejala, antara lain: 

  • Hipertensi. Kondisi ini bisa menyebabkan pembuluh darah baik arteri, vena, dan kapiler mengalami kerusakan. Akibat kondisi ini, maka pembuluh darah arteri akan mengganggu aliran darah sehingga mengganggu kinerja otak dan dapat menghambat pertumbuhan bayi dalam kandungan.

  • Proteinuria. Kondisi ini terjadi saat keberadaan protein di dalam urine mengganggu fungsi ginjal. Kondisi ini muncul jika glomerulus, bagian ginjal yang berfungsi menyaring darah, mengalami kerusakan sehingga protein dapat lolos dari penyaringan. Apabila protein ditemukan pada urine, maka ini bisa menyebabkan preeklampsia. 

Baca Juga: Inilah Penyebab Preeklampsia pada Ibu Hamil

Selain itu, beberapa gejala preeklamsia lain bisa muncul seperti pembengkakan pada lengan dan kaki dan kenaikan berat badan tiba-tiba. Jika preeklamsia sudah masuk tahapan berat, gejala-gejala yang muncul pada ibu hamil, antara lain:

  • Pusing;

  • Sakit kepala;

  • Mual;

  • Muntah;

  • Nyeri perut;

  • Gangguan penglihatan;

  • Perubahan refleks badan;

  • Gangguan kondisi mental;

  • Adanya cairan dalam paru-paru (pulmonari edema).

Jika beberapa faktor risiko tersebut kamu alami, segera periksakan diri ke dokter. Buat janji dengan dokter kini lebih mudah melalui aplikasi Halodoc. Tanpa antre, kamu bisa langsung menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan. 

Apa Saja Pengobatan yang Dilakukan untuk Atasi Eklampsia?

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi preeklampsia dan eklampsia adalah melahirkan bayi lebih cepat sebelum waktunya. Namun, kondisi ini harus dipertimbangkan lagi berdasarkan tingkat keparahan penyakit yang dialami. 

Sebelum berkembang menjadi eklampsia, dokter bisa meresepkan beberapa jenis obat-obatan untuk mengatasi preeklampsia yang ringan. Obat-obatan ini bertujuan untuk memantau dan menjaga tekanan darah dalam kisaran yang aman, setidaknya sampai bayi siap dilahirkan.

Sementara saat kondisi eklampsia yang diakibatkan oleh preeklampsia terbilang parah, maka mempercepat waktu kelahiran adalah salah satu hal yang dilakukan dokter. Persalinan bisa saja dilakukan lebih awal di antara minggu ke-32 dan ke-36 pada kehamilan. Persalinan lebih awal ini juga dipilih jika pemberian obat tidak bekerja.

Atau bisa juga ibu disarankan untuk menerima perawatan di rumah sakit hingga masuk waktu melahirkan. Ini bertujuan agar kondisi kesehatan bayi di dalam kandungan bisa dipantau secara berkala.

Baca Juga: Adakah Pencegahan Efektif untuk Kondisi Eklampsia?

Referensi:
Healthline. Diakses pada 2019. Eclampsia. 
The American College of Obstetricians and Gynecologists. Diakses pada 2019. Preeclampsia and Hypertension on Pregnancy: Resource Overview.