01 December 2017

Ibu Hamil bisa Tularkan HIV pada Janin?

Ibu Hamil bisa Tularkan HIV pada Janin?

Halodoc, Jakarta - HIV adalah jenis virus yang menjadi penyebab AIDS yang mengganggu kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Selama ini, penyebaran virus ini masih menjadi momok dan selalu diperangi. Sejumlah ahli menyebut seseorang bisa tertular HIV jika memiliki kebiasaan seks yang "tidak sehat". Seperti sering berganti-ganti pasangan atau melakukan hubungan intim menggunakan organ selain alat reproduksi.

Selain itu, menggunakan jarum suntik bersama dengan orang yang telah terinfeksi pun bisa menjadi media penularan HIV. Namun adakah cara lain penularan virus ini dari satu orang ke orang lain? Apakah  seorang wanita yang telah terinfeksi virus sebelum hamil, pasti akan menularkan  HIV pada janin?

Jawabannya adalah: bisa iya tapi bisa juga tidak. Pada dasarnya, risiko penularan HIV dari ibu hamil yang positif sekitar 2-10 persen. Penularan bisa terjadi bahkan sejak masa awal kehamilan hingga proses persalinan dan menyusui.

Data menunjukkan bahwa kasus AIDS yang menyerang anak di bawah usia 10 tahun biasanya terjadi karena penularan selama ibu mengandung. Untuk itu, rutin melakukan pemeriksaan darah dapat membantu  ibu mendeteksi segala kemungkinan sedini mungkin. Hal itu tentu sangat membantu menentukan tindakan apa yang harus dilakukan.

Lalu bagaimanakah proses penularan virus biasanya terjadi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu untuk melakukan pemeriksaan. Lewat serangkaian pemeriksaan, setidaknya bisa diketahui kapan kemungkinan bayi mulai terinfeksi. Penularan dalam kandungan terjadi lewat tali plasenta.

Selain tertular dalam kandungan, biasanya anak juga bisa mendapat HIV saat persalinan. Pada tahap ini, bayi dapat tertular darah atau cairan milik ibu yang telah terinfeksi HIV. Biasanya cairan ini mungkin telah terminum oleh bayi sehingga virus yang terdapat di dalamnya mulai menginfeksi.

Pada wanita yang positif terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan yang keluar dari sekitar area kewanitaannya. Dan sekitar 21 persen dari virus tersebut juga ditemukan pada bayi yang dilahirkan. Namun besarnya paparan pada proses lahir sangat dipengaruhi dengan beberapa faktor. Seperti kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks, dan permukaan dinding vagina. Selain itu faktor infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur juga bisa memengaruhi.

Selanjutnya, penularan HIV juga bisa terjadi selama ibu menyusui bayi. Penularan lewat Air Susu Ibu (ASI) bahkan meningkat hingga dua kali lipat. Penularan HIV lewat ASI bisa mencapai 5 hingga 20 persen. ASI diketahui mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak.

Beberapa kondisi saat menyusui juga dapat meningkatkan risiko penularan HIV. Salah satunya adalah luka di sekitar puting susu, luka di  mulut bayi hingga fungsi kekebalan tubuh bayi. Sebuah penelitian menyebutkan risiko penularan HIV melalui ASI terjadi pada 3 dari 100 anak per tahun.

Namun bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan ibu untuk mencegah penularan HIV. Sejumlah ahli menyarankan ibu hamil untuk mengonsumsi obat antiretroviral untuk mencegah penularan pada janin.

Namun ibu harus mendapatkan saran dari dokter sebelum mengonsumsi obat. Maka penting untuk rutin melakukan pemeriksaan, apalagi jika ibu memiliki riwayat atau potensi untuk membawa HIV.

Saat hamil, pastikan ibu mengenali dengan baik kondisi kesehatan tubuh sendiri. Hal ini akan memudahkan ibu mengetahui jika ada sesuatu perubahan yang terjadi. Jika  tiba-tiba ibu merasa ada yang salah, segera bicarakan masalah yang dirasakan pada ahli. Ibu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk memulai keluhan pada dokter. Melalui Halodoc ibu bisa menghubungi dokter kapan pun dalam 24 jam melalui Video/Voice Call dan Chat. Membeli produk kesehatan pun sangat mudah dan pesanan akan diantar ke rumah. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play.