• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • 2 Fakta Ibu Hamil dengan HIV dan AIDS yang Harus Dipahami

2 Fakta Ibu Hamil dengan HIV dan AIDS yang Harus Dipahami

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - HIV merupakan virus yang mengakibatkan penyakit AIDS. AIDS sendiri merupakan fase lanjutan yang terjadi saat sistem imunitas tubuh mengidapnya menjadi sangat lemah, sehingga rentan mengalami infeksi dan komplikasi. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menyerang semua kalangan, tidak terkecuali ibu hamil. 

Penularan HIV pada ibu hamil dapat terjadi sebelum masa kehamilan, saat wanita tidak menyadari telah terinfeksi sebelumnya. Cara penularannya sendiri dapat melalui darah, sperma, serta dari ibu pada janinnya. Penting untuk mengenali tanda-tanda HIV sejak dini saat masa kehamilan agar ibu dan si buah hati dapat terselamatkan.

Baca juga: 6 Mitos Tentang Cara Penularan HIV Terbaru

Fakta HIV pada Ibu Hamil yang Perlu Diketahui

Gejala HIV pada ibu hamil mungkin tidak begitu tampak, sehingga tidak akan disadari di awal kehadirannya. Meski demikian, ada gejala HIV pada ibu hamil yang perlu diketahui. Berikut fakta HIV pada ibu hamil:

  • Gejala Tahap Awal

Gejala HIV pada ibu hamil tahap awal biasanya akan tampak setelah 2-4 minggu ibu hamil terinfeksi. Di tahap ini, gejala akan meliputi sakit kepala, demam, merasa kelelahan, muncul ruam pada kulit, sakit tenggorokan, serta pembengkakan kelenjar getah bening pada area tubuh tertentu. Gejala-gejala tersebut akan tampak seperti penyakit lain.

Untuk memastikannya, ibu hamil disarankan untuk menemui dokter di rumah sakit terdekat. Gejala awal HIV pada ibu hamil umumnya ringan dirasakan. Meski demikian, penyakit ini bukanlah penyakit yang bisa disepelekan begitu saja, karena akan menyangkut keselamatan ibu dan si buah hati.

Baca juga: HIV dan Virus Corona: Hal Apa Saja yang Harus Diperhatikan

  • Gejala Tahap Lanjut

Setelah gejala tahap awal dilewati, tubuh akan bereaksi terhadap infeksi HIV yang masuk. Reaksi tersebut akan menampakkan serangkaian gejala lanjutan, seperti:

  • Batuk kering.

  • Demam yang sering muncul.

  • Berkeringat pada malam hari.

  • Sering kelelahan.

  • Penurunan berat badan.

  • Pembengkakan kelenjar getah bening di area ketiak, paha atau leher.

  • Diare yang berlangsung lama.

  • Bercak abnormal di lidah, di dalam mulut, atau di tenggorokan.

  • Pneumonia.

  • Bercak-bercak abnormal pada kulit atau di bawah kulit.

  • Kehilangan ingatan.

  • Depresi.

Sama seperti gejala awal HIV pada ibu hamil, gejala tahap lanjut juga bisa menjadi gejala dari gangguan kesehatan lain. Jika tampak serangkaian gejalanya, ibu dapat segera menemui dokter untuk memastikan apa yang menjadi penyebab pasti timbulnya gejala. Dengan deteksi dini dan langkah penanganan yang tepat, ibu dan si buah hati masih bisa diselamatkan.

Baca juga: Ruam Kulit Gejala HIV, Ini Cara Mengenalinya

Satu-satunya langkah tepat dalam mengetahui adanya HIV pada seseorang adalah dengan melakukan tes HIV. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, HIV pada ibu hamil terkadang tidak menampakkan gejala yang sebenarnya, tapi ibu hamil sebenarnya sudah terinfeksi virus ini. Karena hal tersebut, pemeriksaan yang tepat di awal kehamilan sangat dibutuhkan.

Jika ibu sudah rutin menjalani pengobatan sejak sebelum masa kehamilan, kemungkinan viral load sudah tidak terdeteksi dalam darah. Hal tersebut berarti, ibu dapat merencanakan persalinan normal, karena risiko penularan HIV pada bayi saat persalinan sangatlah kecil.

Meski bisa melakukan proses persalinan normal, jika dokter melihat ibu masih berisiko menularkan virus pada bayi, ibu akan disarankan untuk melakukan persalinan dengan prosedur operasi caesar. Prosedur ini memiliki risiko yang kecil terhadap penularan HIV pada bayi ketimbang proses persalinan normal.

Referensi:

American Pregnancy Association. Diakses pada 2020. HIV/AIDS.

Medlifeweb. Diakses pada 2020. HIV and Pregnancy | Complications, Sypmtoms & Treatment.