• Home
  • /
  • Ibu Hamil di Usia Tua, Berisiko Bayi dengan Hipospadia?

Ibu Hamil di Usia Tua, Berisiko Bayi dengan Hipospadia?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ibu Hamil di Usia Tua, Berisiko Bayi dengan Hipospadia?

Halodoc, Jakarta – Hipospadia adalah cacat lahir (kondisi bawaan) di mana pembukaan uretra berada di bagian bawah penis pada bayi—bukan ujungnya. Seperti yang dilansir pada Mayo Clinic, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan risiko hipospadia pada bayi laki-laki yang lahir dari ibu yang berusia lebih dari 35 tahun.

Selain itu, beberapa faktor risiko lainnya adalah sejarah keluarga yang memiliki riwayat bayi dengan hipospadia, variasi gen tertentu yang menyebabkan gangguan hormon, serta paparan zat tertentu selama kehamilan. Ada beberapa spekulasi tentang hubungan antara hipospadia dan paparan ibu terhadap senyawa tertentu, seperti pestisida atau bahan kimia industri.

Fakta tentang Hipospadia

Seperti yang sudah disinggung di atas, pada hipospadia pembukaan uretra terletak di bagian bawah penis, bukan di ujung. Dalam kebanyakan kasus, pembukaan uretra ada di dalam kepala penis. Lebih jarang lagi, lubangnya ada di tengah atau pangkal penis atau malah pembukaannya ada di dalam atau di bawah skrotum.

Baca juga: 5 Hal Ini Menunjukkan Tanda Kehamilan yang Sehat

Tanda dan gejala hipospadia dapat meliputi:

  1. Pembukaan uretra di lokasi selain ujung penis.
  2. Kurva penis ke bawah (chordee).
  3. Penampilan penis berkerudung karena hanya setengah bagian atas penis yang ditutupi oleh kulup.
  4. Penyemprotan tidak normal saat buang air kecil.

Sebagian besar bayi dengan hipospadia didiagnosis segera setelah lahir saat masih di rumah sakit. Namun, sedikit perpindahan dari pembukaan uretra yang sangat mungkin halus lebih sulit untuk diidentifikasi. 

Jika hipospadia tidak diobati, dapat mengakibatkan komplikasi mulai dari penampilan penis yang tidak normal, masalah dalam penggunaan toilet, kelengkungan penis yang tidak normal saat ereksi, dan gangguan ejakulasi. 

Butuh informasi lebih lengkap mengenai gejala dan penanganan hipospadia, tanyakan saja langsung pada dokter melalui aplikasi HalodocDokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.  Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor, kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. 

Risiko Kehamilan di Usia Tua

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh March of Dimes, jika seorang calon ibu berusia di atas 35 tahun, ibu disarankan untuk melakukan beberapa tes pranatal untuk melihat apakah bayi akan mengalami risiko kesehatan

Tes skrining, seperti skrining DNA, skrining darah ibu, pemeriksaan darah untuk melihat apakah bayi berisiko mengalami cacat lahir tertentu diperlukan. Tes skrining tidak memberi tahu dengan pasti apakah bayi akan mengalami cacat lahir. Tes ini hanya memberi tahu jika bayi berisiko mengalami cacat lahir.

Baca juga: Lebih Sensitif, Ini Penyebab Bumil Mudah Menangis

Jika hasil tes skrining menunjukkan bahwa bayi mungkin berisiko cacat lahir tertentu, ibu mungkin ingin melakukan beberapa tes diagnostik. Tes-tes ini dapat memberi tahu ibu dengan pasti apakah bayi memiliki atau tidak memiliki cacat lahir. Tes-tes ini termasuk pengambilan sampel chorionic villus dan amniosentesis.

Berikut ini persiapan yang diperlukan untuk kehamilan sehat di usia tua:

  1. Melakukan pemeriksaan prakonsepsi. Ini adalah pemeriksaan medis untuk memastikan ibu sehat sebelum hamil. Pada pemeriksaan ini, bicarakan dengan dokter tentang riwayat kesehatan keluarga, vaksinasi yang dibutuhkan dan obat-obatan yang ibu minum. 

  2. Dapatkan perawatan untuk semua kondisi kesehatan yang dimiliki, seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan depresi. 

  3. Konsumsi multivitamin dengan 400 mikrogram asam folat setiap hari. Asam folat adalah vitamin yang dibutuhkan setiap sel dalam tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan yang sehat. Konsumsi asam folat sebelum dan selama awal kehamilan dapat membantu mencegah cacat lahir di otak dan tulang belakang bayi.

  4. Ibu lebih cenderung memiliki masalah kesehatan selama kehamilan jika mengalami obesitas atau malah berat badan yang kurang. Untuk mendapatkan berat badan yang sehat sebelum hamil, makan-makanan sehat dan lakukan olahraga setiap hari.

  5. Lindungi diri dari bahan kimia yang tidak aman di rumah atau di tempat kerja. Menggunakan beberapa bahan kimia, seperti produk pembersih dan cat, dapat meningkatkan peluang untuk memiliki bayi dengan cacat lahir.

  6. Kurangi stres karena stres dapat memengaruhi kehamilan.

Referensi:

Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hypospadias.
March of Dimes. Diakses pada 2020. Pregnancy After Age 35.