• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ibu Hamil Mengalami Anemia, Adakah Dampaknya pada Janin?

Ibu Hamil Mengalami Anemia, Adakah Dampaknya pada Janin?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Anemia bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada ibu hamil. Kabar buruknya, anemia pada ibu hamil adalah kondisi yang tidak boleh dianggap sepele begitu saja. Anemia yang terjadi pada masa kehamilan bisa berdampak buruk pada janin. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini bisa memicu bayi lahir prematur bahkan kematian janin. 

Anemia pada masa kehamilan juga bisa menyebabkan ibu mengalami depresi setelah melahirkan. Anemia adalah kondisi terjadinya kekurangan sel darah merah. Saat seorang wanita hamil, tubuhnya akan secara alami membentuk lebih banyak sel darah merah. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi pada janin. Maka dari itu, saat terjadi anemia, dampak buruk bisa terjadi pada janin. 

Baca juga: Ibu Hamil Alami Anemia, Ini Cara Mengatasinya

Dampak Anemia pada Ibu Hamil 

Anemia pada ibu hamil ditandai dengan tubuh mudah lelah, letih, kulit tampak pucat, jantung berdebar, sesak napas, sulit berkonsentrasi, pusing, hingga kehilangan kesadaran alias pingsan. Jika dibiarkan begitu saja, anemia pada ibu hamil bisa memberi dampak yang tidak main-main, baik pada calon ibu maupun janin yang tengah dikandung. 

Pada janin, ada beberapa dampak yang bisa terjadi akibat anemia pada masa kehamilan, di antaranya: 

1.Lahir dengan Berat Badan Rendah 

Anemia pada ibu hamil bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Risiko bayi lahir dengan berat badan rendah menjadi lebih besar jika anemia terjadi pada trimester pertama kehamilan. Bayi dikatakan memiliki berat badan rendah jika saat lahir hanya memiliki bobot tubuh 2,5 kilogram atau kurang dari itu. Bayi yang lahir dengan kondisi ini umumnya lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan jika dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. 

2.Bayi Lahir Prematur 

Anemia pada ibu hamil juga bisa meningkatkan risiko bayi lahir prematur. Kelahiran prematur adalah kelahiran yang terjadi sebelum pada waktunya. Dengan kata lain, bayi akan lahir meski usia kandungan belum memasuki usia 37 minggu. Bayi yang lahir prematur berisiko mengembangkan gangguan kesehatan serta mengalami gangguan pada tumbuh kembang. 

Baca juga: Anemia Pada Ibu Hamil, Harus Dirawat di Rumah Sakit?

3.Anemia pada Bayi Baru Lahir 

Anemia juga bisa terjadi pada bayi. Risiko penyakit ini menjadi lebih tinggi pada bayi yang lahir dari ibu dengan anemia. Bayi yang mengalami anemia lebih rentan terserang gangguan kesehatan dan gangguan tumbuh kembang. 

4.Kematian Janin 

Dampak paling buruk yang bisa terjadi akibat anemia pada ibu hamil adalah kematian janin. Hal ini bisa terjadi sebelum maupun sesudah persalinan. 

Untuk mencegah dampak buruk dari anemia, ibu hamil perlu melakukan beberapa hal. Ibu hamil disarankan untuk meningkatkan asupan zat besi, asam folat, dan vitamin B12. Ibu bisa mendapat asupan ini entah dari makanan yang dikonsumsi atau suplemen khusus. Jika memutuskan untuk mengonsumsi suplemen tambahan, ibu sebaiknya membicarakan terlebih dahulu dengan dokter.

Baca juga: Bumil Anemia Berisiko Alami Perdarahan Postpartum

Ibu bisa menggunakan aplikasi Halodoc untuk berbicara pada dokter dan meminta rekomendasi suplemen yang aman. Dokter bisa dengan mudah dihubungi melalui Video/Voice Call atau Chat. Sampaikan keluhan yang dialami selama masa kehamilan dan dapatkan saran pengobatan terbaik dari dokter terpercaya. Ayo, download aplikasi Halodoc sekarang di App Store atau Google Play! 

Referensi:
American Society of Hematology. Diakses pada 2020. Anemia and Pregnancy.
WebMD. Diakses pada 2020. Anemia in Pregnancy.
Stanford Children’s Health. Diakses pada 2020. Anemia in Pregnancy.