13 February 2019

Ibu Harus Tahu, Ini 4 Penyebab ADHD pada Anak

adhd pada anak

Halodoc, Jakarta - Beberapa gejala ADHD pada anak adalah sulit konsentrasi, serta munculnya perilaku hiperaktif dan impulsif. Gejala-gejala gangguan ADHD biasanya akan terlihat sejak usia dini dan biasanya semakin jelas ketika terjadi perubahan pada situasi di sekitar sang anak. Misalnya, saat anak mulai belajar di sekolah.

Kebanyakan kasus ADHD terdeteksi pada usia 6 hingga 12 tahun. Anak-anak dengan ADHD cenderung merasa rendah diri, sulit berteman, serta memiliki prestasi yang kurang memadai. ADHD cenderung lebih sering terjadi dan mudah terdeteksi pada laki-laki daripada perempuan. Misalnya, anak laki-laki biasanya memiliki perilaku yang lebih hiperaktif sementara anak perempuan cenderung lebih diam dan sulit berkonsentrasi.

Sebenarnya penyebab ADHD belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor berpotensi memengaruhi tingkat risiko seseorang. Faktor-faktor risiko tersebut di antaranya faktor keturunan, kelainan pada sistem saraf pusat, dan kelahiran prematur. Selain itu, faktor yang paling banyak terjadi berasal dari aspek biologis.

Baca juga: Fakta Soal Anak ADHD yang Harus Orangtua Tahu

Meskipun dalam sejumlah kasus orangtua juga berperan, diyakini bahwa perubahan struktur otak menjadi salah satu alasan yang dominan. Berikut adalah beberapa penyebab ADHD:

  1. Kelainan Anatomi Otak

Anak-anak yang mengidap ADHD memiliki perbedaan dalam fungsi otak jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Otak memiliki bahan kimia yang disebut neurotransmitter yang berperan dalam proses interaksi sel-sel yang ada di otak. Pada ADHD, neurotransmitter yang disebut dopamin, cenderung tidak berfungsi, sehingga mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan seperti impulsif, kurang konsentrasi, dan hiperaktif. Seorang anak dengan ADHD juga cenderung memiliki volume otak lebih kecil jika dibandingkan anak usia sebayanya.

  1. Genetik

Gangguan ADHD diyakini akan diwariskan dari orangtua yang mengalami kelainan yang sama. Satu dari empat anak yang didiagnosis ADHD memiliki kerabat dengan gangguan yang sama. ADHD juga biasanya sering ditemukan pada anak kembar identik.

Baca juga: 5 Resep Makanan Sehat untuk Anak ADHD

  1. Faktor Ibu

Ibu yang sedang hamil dan masih melakukan kebiasaan merokok juga mempertinggi risiko memiliki anak dengan ADHD. Begitu juga dengan mengonsumsi alkohol atau obat lain selama periode kehamilan dapat menghambat aktivitas neuron yang memproduksi dopamin.

Wanita hamil yang terpapar racun kimia seperti polychlorinated biphenyls juga berpotensi menyandang ADHD. Bahan kimia ini banyak digunakan dalam industri pestisida. Konsumsi obat-obatan terlarang seperti kokain terbukti juga menghambat pertumbuhan normal reseptor otak. Orangtua yang selalu mengkritik anak dan sering menghukum untuk kesalahan-kesalahan kecil juga dapat memicu munculnya perilaku ADHD.

  1. Faktor Lingkungan

Paparan racun pada anak dari lingkungan, seperti timbal dan polychlorinated biphenyls, dikhawatirkan akan memicu ADHD. Faktor lingkungan lain yang mungkin berkontribusi adalah polusi, bahan makanan yang memiliki warna buatan, serta paparan sinar neon.

Baca juga: Begini Cara Asuh yang Tepat untuk Balita ADHD

Sayangnya, ADHD termasuk kondisi yang tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Gejala-gejalanya terkadang dapat berkurang seiring bertambahnya usia, tapi ada juga pengidap yang tetap mengalaminya hingga dewasa. Walaupun begitu, ada beberapa metode yang dapat dipelajari agar gejala-gejala tersebut dapat dikendalikan. Sejumlah langkah penanganan ADHD dapat berupa obat-obatan, terapi perilaku, serta terapi interaksi sosial.

Untuk mengetahui pengobatan apa yang harus dijalani, kenali dulu 2 subtipe dari ADHD:

  • Dominan hiperaktif-impulsif. Orang dengan ADHD yang lebih dominan hiperaktif-impulsif, biasanya memiliki masalah hiperaktivitas dan perilaku impulsif.

  • Dominan inatentif. Orang dengan ADHD yang lebih dominan inatentif biasanya memiliki gejala tidak dapat memperhatikan dengan baik.

  • Kombinasi hiperaktif-impulsif dan inatentif. Kelompok ini memiliki gejala hiperaktif, impulsif, dan tidak dapat memperhatikan dengan baik.

Jika ibu dan ayah memiliki anak dengan ADHD, segera diskusikan dengan psikolog atau psikiater melalui aplikasi Halodoc. Diskusi dengan psikolog atau psikiater di Halodoc dapat dilakukan via Chat atau Voice/Video Call kapan dan di mana saja. Saran dapat diterima secara praktis dengan download aplikasi Halodoc di Google Play atau App Store sekarang juga!