Idap Pemfigoid Bulosa, Lakukan Perawatan Rumahan Ini

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Idap Pemfigoid Bulosa, Lakukan Perawatan Rumahan Ini

Halodoc, Jakarta – Pernahkah kamu tiba-tiba menemukan luka lepuh di permukaan kulit, padahal sebelumnya tidak ada? Jika iya, bisa jadi luka yang muncul tersebut merupakan pemfigoid bulosa. Kondisi ini menyebabkan muncul luka lepuh pada permukaan kulit akibat gangguan sistem kekebalan tubuh. Luka akibat penyakit ini umumnya muncul di lipatan tubuh, seperti ketiak, selangkangan, atau perut bagian bawah. 

Sebenarnya, pemfigoid bulosa tidak berbahaya dan bisa terjadi pada siapa saja. Meski begitu, luka melepuh yang tiba-tiba muncul di kulit sama sekali tidak boleh dianggap sepele, terutama jika terjadi pada lansia di atas usia 60 tahun. Pemfigoid bulosa merupakan jenis penyakit autoimun. Lantas, bagaimana cara mengatasi penyakit ini? 

Baca juga: Benarkah Gangguan Kekebalan Tubuh Sebabkan Pemfigoid Bulosa?

Cara Sederhana Mengatasi Pemfigoid Bulosa

Pemfigoid bulosa sebenarnya jarang terjadi dan tidak berbahaya. Penyakit ini termasuk autoimun, yaitu gangguan yang terjadi akibat sistem kekebalan yang seharusnya melindungi tubuh malah balik menyerang. Pada kasus autoimun, sistem kekebalan tubuh malah memproduksi antibodi yang menyerang jaringan sehat di dalam tubuh sendiri. 

Pada kasus pemfigoid bulosa, bagian tubuh yang diserang adalah jaringan kulit. Hal itu kemudian menyebabkan muncul peradangan. Kondisi ini bisa mengakibatkan lapisan terluar kulit (epidermis) terpisah dari lapisan kulit di bawahnya (dermis). Terpisahnya kedua bagian kulit ini yang kemudian menyebabkan muncul luka lepuh. 

Hingga kini, belum diketahui secara pasti mengapa sistem imun bisa menyerang jaringan kulit. Namun, penyakit pemfigoid bulosa diduga berkaitan dengan beberapa faktor, seperti konsumsi obat-obatan tertentu, mengidap diabetes, radang sendi, psoriasis, lichen planus, penyakit parkinson, hingga multiple sclerosis. Gejala khas dari kondisi ini adalah muncul luka pada permukaan kulit. 

Pada awalnya, pemfigoid bulosa menyebabkan warna kulit berubah menjadi kemerahan atau kehitaman dan disertai dengan rasa gatal. Masalah kulit ini paling sering muncul pada area lipatan seperti ketiak, selangkangan, dan perut. Seiring berjalannya waktu, pada permukaan kulit yang sudah berubah warna akan muncul luka lepuh yang berisi cairan bening atau cairan bercampur darah. 

Baca juga: Mitos atau Fakta, Lansia Berisiko Terkena Pemfigoid Bulosa

Setelah dokter mendiagnosis luka sebagai pemfigoid bulosa, langkah pengobatan akan mulai diambil. Tujuan pengobatan adalah untuk menghilangkan lepuhan kulit, meredakan gatal, serta mencegah terbentuknya lepuhan-lepuhan baru. Dokter mungkin akan merekomendasikan beberapa jenis obat, seperti obat kortikosteroid, imunosupresan, serta salep antibiotik. 

Selain penggunaan obat-obatan, pemfigoid bulosa juga bisa diatasi dengan perawatan rumahan. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk merawat dan mencegah luka melepuh akibat pemfigoid bulosa menjadi lebih parah! 

  1. Hindari paparan sinar matahari langsung pada kulit.
  2. Jangan menggunakan pakaian yang terlalu sempit, sebab bisa meningkatkan risiko iritasi kulit.
  3. Gunakan sabun berbahan ringan untuk kulit sensitif dan selalu gunakan pelembap sesudah mandi.
  4. Batasi aktivitas tubuh, terutama yang melibatkan bagian di mana terdapat luka lepuh.

Sebenarnya, pemberian obat dan perawatan rumah hanya bertujuan untuk mengurangi gejala dan menghindari luka menjadi lebih buruk. Luka yang muncul di permukaan kulit biasanya akan sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Luka melepuh akibat pemfigoid bulosa membutuhkan waktu beberapa bulan, hingga tahun untuk sembuh. 

Baca juga: 5 Makanan yang Bisa Mencegah Pemfigoid Bulosa

Cari tahu lebih lanjut seputar penyakit pemfigoid bulosa dengan bertanya pada dokter di aplikasi Halodoc. Kamu bisa dengan mudah menghubungi dokter melalui Video/Voice Call dan Chat. Dapatkan  informasi seputar kesehatan dari dokter terpercaya. Yuk, download Halodoc sekarang di App Store dan Google Play! 

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Bullous Pemphigoid.
National Organization for Rare Disorders. Diakses pada 2020. Bullous Pemphigoid.
Healthline. Diakses pada 2020. Pemphigoid.