• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Idap Penyakit Kelenjar Getah Bening, Apakah Berbahaya?

Idap Penyakit Kelenjar Getah Bening, Apakah Berbahaya?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Penyakit kelenjar getah bening, atau yang dikenal dengan istilah limfadenopati merupakan pembengkakan atau pembesaran kelenjar getah bening pada beberapa bagian tubuh, seperti ketiak, belakang telinga, leher, belakang kepala, atau pangkal paha. Kelenjar getah bening sendiri merupakan salah satu bagian dari sistem kekebalan tubuh yang membantu tubuh dalam melawan virus atau bakteri yang dapat membahayakan kesehatan.

Kelenjar getah bening memang dapat bertambah besar. Namun, pembengkakan yang terjadi masih dalam batas yang normal. Pada setiap orang akan memiliki tingkat pembengkakan yang berbeda, tergantung pada umur, lokasi kelenjar, serta sistem kekebalan tubuh masing-masing. Saat pembengkakan terjadi diluar batas wajar, apa bahayanya?

Baca juga: Ini Tanda Kelenjar Getah Bening yang Berbahaya

Bahaya Penyakit Kelenjar Getah Bening Jika Tidak Ditangani

Penyakit kelenjar getah bening akan ditandai dengan pembengkakan di area-area kelenjar getah bening berada. Kondisi tersebut ditandai dengan gejala utama berupa munculnya benjolan di bawah kulit yang terasa ketika disentuh. Benjolan ini pun dapat terasa nyeri atau tidak. Bukan hanya benjolan saja, beberapa gejala lanjutan juga dapat muncul seiring dengan berjalannya waktu. Berikut beberapa gejala yang tampak:

  • Demam.

  • Kulit kemerahan pada area pembengkakan kelenjar.

  • Ruam kulit.

  • Merasa lemas dan kelelahan.

  • Berkeringat saat malam hari.

  • Penurunan berat badan.

Saat gejala penyakit kelenjar getah bening tidak segera diatasi, kondisi tersebut akan berkembang menjadi penyakit yang lebih parah. Komplikasi yang terjadi hanya dapat diatasi dengan melakukan prosedur operasi pembedahan. Bukan hanya itu saja, komplikasi penyakit kelenjar getah bening lainya adalah rusaknya jaringan kulit di area kelenjar getah bening.

Pada kasus yang jarang terjadi, penyakit kelenjar getah bening juga dapat tubuh membesar, sehingga menekan di area di sekitarnya. Jika pembengkakan kelenjar getah bening terjadi di bawah ketiak, pembengkakan akan menekan saraf dan pembuluh darah yang menyuplai darah ke lengan.

Sedangkan penyakit kelenjar getah bening yang terjadi di perut, maka pembengkakan dapat menekan usus, sehingga terjadi obstruksi usus, yaitu penyumbatan yang terjadi dalam usus, baik usus halus maupun usus besar. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan penyerapan makanan atau cairan dalam saluran pencernaan.

Baca juga: Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Kelenjar Getah Bening

Bagaimana Langkah Penanganan Penyakit Kelenjar Getah Bening?

Sejauh ini, tidak ada penanganan khusus guna mengatasi penyakit kelenjar getah bening. Pengobatan dilakukan dengan mengatasi penyebab dari pembengkakan itu sendiri. Berikut langkah penanganan yang biasa dilakukan:

  • Jika limfadenopati disebabkan oleh infeksi, langkah pengobatan yang dilakukan adalah kompres hangat.

  • Jika limfadenopati menyebabkan rasa nyeri pada bagian tubuh yang terkena, maka langkah pengobatan yang dilakukan adalah mengonsumsi obat pereda rasa nyeri.

  • Jika limfadenopati menyebabkan pembengkakan, langkah pengobatan yang dilakukan adalah mengonsumsi obat anti bengkak.

  • Jika limfadenopati disebabkan oleh virus, langkah pengobatan yang dilakukan adalah mengonsumsi obat anti virus.

  • Jika limfadenopati disebabkan oleh bakteri, langkah pengobatan yang dilakukan adalah mengonsumsi obat antibiotik.

  • Jika limfadenopati disebabkan oleh kanker, langkah pengobatan yang dilakukan adalah kemoterapi, radiasi, atau pembedahan.

Baca juga: Kelenjar Getah Bening Bengkak di Ketiak, Ini Penanganannya

Lamanya perawatan yang dilakukan akan tergantung pada penyebab yang mendasari. Jika pembengkakan disebabkan oleh adanya infeksi, maka kondisi tersebut dapat mereda dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Jika menemukan sejumlah gejalanya, segera temui dokter di rumah sakit terdekat untuk mendapatkan langkah penanganan yang tepat, ya!

Referensi:

NIH. Diakses pada 2020. Lymph Nodes. 

Drugs.com. Diakses pada 2020. Lymphadenopathy. 

MedlinePlus. Diakses pada 2020. Swollen Lymph Nodes.