• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 3 Fakta Seputar Sindrom Moebius
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 3 Fakta Seputar Sindrom Moebius

Ini 3 Fakta Seputar Sindrom Moebius

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 24 Januari 2023

“Faktanya, hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti sindrom moebius. Selain itu, belum ada pengobatan untuk menyembuhkan kondisi tersebut.”

Ini 3 Fakta Seputar Sindrom MoebiusIni 3 Fakta Seputar Sindrom Moebius

Halodoc, Jakarta – Sindrom moebius merupakan kelainan neurologis kongenital (hadir saat lahir) yang langka. Kondisi ini menyebabkan pengidapnya mengalami kelemahan atau kelumpuhan saraf kranial, yaitu saraf yang menghubungkan otak ke kepala, leher, dan badan. 

Pada pengidap sindrom moebius, kondisi ini biasanya mempengaruhi saraf kranial keenam (yang mengontrol mata) dan saraf ketujuh (yang mengontrol ekspresi wajah). Namun terkadang saraf lain juga ikut terpengaruh. Hal tersebutlah yang membuat anak-anak dengan sindrom moebius sering mengalami kesulitan dalam menggerakan wajah, termasuk untuk tersenyum. Sehingga mereka selalu terlihat murung.

Fakta tentang Sindrom Moebius yang Perlu Diketahui

Anak-anak dengan sindrom moebius memiliki kesulitan dalam menggerakkan wajah. Misalnya, mereka tidak dapat tersenyum, cemberut, mengangkat alis, atau menutup kelopak mata. Kondisi tersebut menyebabkan wajahnya tampak terkulai atau seperti topeng. 

Selain kesulitan mengatur ekspresi wajah, anak dengan sindrom moebius juga mengalami kesulitan makan. Bahkan beberapa anak dengan sindrom moebius mengalami hambatan pertumbuhan pada tungkai atau otot dada. 

Berikut fakta sindrom moebius yang perlu dikenali:

1. Penyebab belum diketahui secara pasti

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab sindrom moebius. Namun kebanyakan ahli menduga kondisi tersebut mungkin hasil dari kombinasi faktor lingkungan dan genetik. Selain itu, ada dugaan bahwa gangguan tersebut berkaitan dengan perubahan pada kromosom 3, 10, atau 13 di beberapa keluarga. Konsumsi obat-obatan tertentu yang diminum selama kehamilan dan penyalahgunaan obat-obatan, juga dapat menjadi faktor risiko sindrom moebius. 

Mengutip Medlineplus, banyak tanda dan gejala sindrom moebius dikaitkan dengan keterbelakangan saraf kranial 6 dan 7. Saraf tersebut, yang muncul dari batang otak di bagian belakang otak, mengontrol gerakan bolak-balik mata dan ekspresi wajah. Gangguan tersebut juga dapat memengaruhi saraf kranial lain yang penting untuk berbicara, mengunyah, dan menelan. Jika perkembangan tidak normal, dapat menyebabkan kelemahan dan kelumpuhan otot wajah. Inilah yang menjadi ciri khas sindrom moebius. 

Para peneliti juga berspekulasi bahwa sindrom moebius dapat terjadi akibat perubahan aliran darah ke batang otak, selama tahap awal perkembangan embrionik. Namun, belum jelas penyebab perubahan itu terjadi dan dampak secara khusus mengganggu perkembangan saraf kranial 6 dan 7.

2. Tanda dan gejala sindrom moebius bervariasi

Gejala sindrom moebius berbeda-beda tergantung saraf kranial mana yang terpengaruh. Tanda-tanda fisiknya mungkin termasuk:

  • Terdapat celah pada langit-langit mulut.
  • Mata juling (strabismus).
  • Cacat pada tangan dan kaki.
  • Kelumpuhan wajah (facial palsy).
  • Dagu kecil (micrognathia).
  • Mulut kecil (mikrostomia).
  • Lidah pendek atau bentuknya tidak biasa.
  • Otot dada kurang berkembang.
  • Tonus otot lemah (hipotonia).

Selain itu, sindrom moebius dapat menyebabkan masalah dengan:

  • Pernafasan.
  • Kesulitan menutup kelopak mata, seperti berkedip bahkan tidur.
  • Mata kering.
  • Kesulitan makan, mengisap, atau menelan.
  • Gangguan pendengaran.
  • Kesulitan melihat ke arah yang sama dengan kedua mata.
  • Kesulitan mengangkat alis.
  • Tidak bisa tersenyum atau cemberut.
  • Kesulitan berbicara.
  • Gangguan perkembangan gigi. 

Beberapa anak dengan sindrom moebius mungkin mengalami keterlambatan perkembangan (seperti duduk, merangkak, atau berjalan), tapi sebagian besar lainnya dapat menyusul perkembangan. 

3. Belum dapat disembuhkan

Hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan sindrom moebius. Namun perawatan dapat memperbaiki atau mengurangi beberapa tanda dan gejala. Dokter akan merujuk Si Kecil ke dokter spesialis tertentu, seperti:

  • Audiolog.
  • Dokter gigi.
  • Terapis okupasi, yang dapat membantu anak melakukan tugas sehari-hari.
  • Ophthalmologist, yang berspesialisasi pada mata. 
  • Otolaryngologist, yang berspesialisasi pada telinga, hidung, dan tenggorokan. 
  • Terapis fisik.
  • Terapis wicara.
  • Spesialis bedah, termasuk spesialis bedah umum, spesialis bedah plastik, dan spesialis bedah ortopedi.

Sementar itu, perawatannya mungkin berupa:

  • Penggunaan lensa kontak, untuk melindungi dan memperbaiki mata.
  • Obat tetes mata untuk melembabkan mata.
  • Menggunakan gips pada kaki.
  • Belat, kawat gigi, dan prostesis (bagian tubuh buatan) untuk anggota tubuh.
  • Berbagai prosedur operasi.

Prosedur operasi yang dilakukan dapat berupa:

  • Strabismus.
  • Memperbaiki jarak gigi atau masalah gigi lainnya.
  • Membuat kelopak mata tertutup.
  • Memindahkan saraf atau jaringan otot dari satu area tubuh ke area lain untuk mendukung gerakan.
  • Membuka dan mendukung jalan napas (trakeotomi) untuk meningkatkan pernapasan.
  • Memisahkan jari yang berselaput.

Baru-baru ini sudah ada “operasi senyum”, agar anak dengans indrom moebius dapat tersenyim. Prosedur ini dilakukan dengan mengambil otot dari paha, menanamkannya di wajah dan menghubungkannya ke otot dan saraf wajah lainnya. Cara ini untuk membantu:

  • Gerakan wajah, termasuk tersenyum dan makan.
  • Berbicara.
  • Meningkatkan harga diri dan rasa percaya diri.
  • Memiliki senyum simetris.

Itulah yang perlu diketahui tentang fakta sindrom moebius. Jika Si Kecil memiliki kondisi serupa dan mendapatkan resep obat dari dokter untuk perawatan, kamu dapat cek kebutuhan medis di toko kesehatan aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2023. Moebius Syndrome
Medlineplus. Diakses pada 2023. Moebius Syndrome
Cleveland Clinic. Diakses pada 2023. Moebius Syndrome