• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 4 Faktor Risiko Legionellosis yang Perlu Diwaspadai
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 4 Faktor Risiko Legionellosis yang Perlu Diwaspadai

Ini 4 Faktor Risiko Legionellosis yang Perlu Diwaspadai

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 30 September 2022

“Pada dasarnya, semua orang bisa terkena legionellosis. Namun, ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang lebih berisiko mengalami penyakit tersebut.”

Ini 4 Faktor Risiko Legionellosis yang Perlu DiwaspadaiIni 4 Faktor Risiko Legionellosis yang Perlu Diwaspadai

Halodoc, Jakarta – Merebak pertama kali di Argentina pada bulan September lalu, legionellosis kini menjadi penyakit yang perlu diwaspadai selain COVID-19. Legionellosis merupakan infeksi pernapasan akut yang disebabkan oleh bakteri Legionella.

Bakteri tersebut bisa ditemukan secara alami di lingkungan air tawar, seperti danau dan sungai. Namun, mereka bisa mengancam kesehatan manusia ketika bakteri tersebut tumbuh dan menyebar ke sistem air bangunan buatan manusia. Contohnya seperti pancuran dan keran wastafel, sistem pendingin sentral, kolam spa, whirpool dan lain-lain. 

Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mewaspadai legionellosis, karena penyakit tersebut bisa menyerang siapa saja. Meski begitu, ada beberapa kelompok orang yang berisiko lebih tinggi untuk terkena infeksi. Yuk, ketahui faktor risiko legionellosis di sini.


Kenali Cara Penularan dan Faktor Risiko Legionellosis

Setelah bakteri Legionella tumbuh dan berkembang biak dalam sistem air bangungan, air yang mengandung bakteri tersebut bisa menyebar dalam tetesan yang cukup kecil untuk dihirup manusia. Seseorang bisa terkena penyakit legionellosis bila menghirup tetesan kecil air (aerosol) di udara yang mengandung bakteri. 

Sumber aerosol yang sudah dikaitkan dengan penularan legionellosis, antara lain air conditioning (AC), sistem air panas dan dingin, pelembab udara, dan pusaran air spa.

Meski lebih jarang terjadi, penyakit pernapasan tersebut juga bisa ditularkan karena menghirup (aspirasi) air minum yang terkontaminasi legionella. Hal itu terjadi ketika air secara tidak sengaja masuk ke paru-paru saat minum. Orang yang berisiko tinggi mengalami aspirasi adalah mereka yang mengalami kesulitan menelan. Umumnya, penyakit legionellosis tidak ditularkan dari satu orang ke orang lain.

Kebanyakan orang yang bertubuh sehat tidak mengalami sakit ketika terpapar bakteri Legionella. Namun, ada beberapa kelompok orang yang berisiko tinggi mengalami penyakit, bahkan hingga parah. Berikut faktor risiko legionellosis yang perlu diwaspadai:

1. Berusia 50 tahun ke atas

Orang yang berada dalam kisaran usia ini lebih rentan terserang legionellosis.

2. Merokok, baik saat ini atau pernah merokok

Merokok bisa merusak paru-paru, sehingga membuat seseorang lebih rentan terhadap semua jenis infeksi paru-paru.

3. Memiliki penyakit paru kronis atau kondisi serius lainya

Hal itu termasuk emfisema atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), diabetes, penyakit ginjal atau kanker.

4. Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah

Kondisi ini bisa terjadi akibat infeksi human immunodeficiency virus (HIV) atau (acquired immunodeficiency syndrome) AIDS, atau penggunaan obat yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Contohya seperti kemoterapi atau setelah menjalani operasi transplantasi.

Selain itu, sering melakukan perjalanan juga bisa meningkatkan risiko terkena legionellosis. Hal itu karena hotel, resort, dan kapal pesiar sering kali memiliki sistem air yang besar dan kompleks, serta perangkat penghasil aerosol. Begitu juga dengan rumah sakit dan panti jompo, di mana kuman bisa menyebar dengan mudah dan orang-orang rentan terhadap infeksi.

Waspadai Gejalanya

Gejala legionellosis biasanya berkembang antara 2-10 hari setelah paparan bakteri Legionella. Pada tahap awal, gejala yang bisa muncul antara lain:

  • Sakit kepala.
  • Nyeri otot.
  • Demam tinggi hingga 40 derajat Celsius atau lebih.

Kemudian pada hari kedua atau ketiga, pengidap mungkin bisa mengalami gejala tambahan yakni:

  • Batuk berdahak dan kadang berdarah.
  • Napas pendek.
  • Sakit dada.
  • Gejala gastrointestinal seperti mual, muntah dan diare.
  • Kebingungan, masalah pada kesehatan mental.

Meski legionellosis utamanya memengaruhi paru, penyakit ini perlahan juga bisa mengakibatkan infeksi pada luka dan area lain tubuh termasuk jantung. 

Pengobatan untuk Legionellosis 

Pengobatan utama untuk mengatasi legionellosis adalah dengan antibiotik. Semakin cepat pengobatan tersebut dimulai, semakin kecil kemungkinan terjadinya komplikasi serius. Namun, dalam banyak kasus, pengidap juga perlu dirawat inap.

Itulah penjelasan mengenai faktor risiko legionellosis yang perlu diwaspadai. Untuk mendapatkan obat dan vitamin yang kamu butuhkan untuk mengatasi penyakit yang kamu alami, gunakan saja aplikasi Halodoc

Tidak perlu keluar rumah, tinggal order lewat aplikasi dan pesananmu akan diantar dalam waktu satu jam. Yuk, download Halodoc sekarang juga di Apps Store dan Google Play.

Referensi:
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022.  Legionella (Legionnaires’ Disease and Pontiac Fever).
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Legionnaires’ disease.
Dr.dr. Soedarsono, SpPK(K)-PPDI Jawa Timur. Diakses pada 2022. Penatalaksanaan Penyakit Legionellosis.