• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 5 Penyakit yang Bisa Dideteksi Melalui Cek Urine
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini 5 Penyakit yang Bisa Dideteksi Melalui Cek Urine

Ini 5 Penyakit yang Bisa Dideteksi Melalui Cek Urine

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 30 Mei 2022

“Cek urine jadi salah satu prosedur kesehatan non-invasif yang sangat umum dilakukan untuk mendeteksi berbagai penyakit. Beberapa di antaranya, yaitu penyakit ginjal, diabetes melitus, hepatitis B, infeksi saluran kemih, dan penyakit hati.”

Ini 5 Penyakit yang Bisa Dideteksi Melalui Cek Urine

Halodoc, Jakarta – Melalui cek urine, berbagai komponen dalam urine dapat dievaluasi untuk menilai apakah urine masih normal atau menunjukkan adanya gejala penyakit tertentu. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di mana pun, seperti fasilitas kesehatan, bahkan di rumah sendiri.

Di dalam urine terkandung berbagai zat seperti air, ammonia, kreatinin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, dan lainnya. Urine yang sehat berwarna jernih transparan dan sedikit kuning, karena pengaruh dari zat warna empedu. Namun, warna urine bisa berubah jika ada yang tidak beres dengan fungsi organ dalam. 

Cek Urine dapat Mendeteksi Penyakit ini

Hasil pemeriksaan dilihat dari penampilan fisik seperti warna, tekstur, dan bau urine itu sendiri. Hasil pemeriksaan juga dinilai dari pH (tingkat asam dan basa), glukosa, protein, nitrit, sel darah putih dan merah, bilirubin, bakteri dalam urine, dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa jenis penyakit yang terdeteksi dari cek urine:

1. Penyakit Ginjal

Penyakit ginjal terjadi akibat adanya kelainan pada organ ginjal akibat berbagai faktor, seperti tumor, kelainan bawaan, infeksi, penyakit metabolik, dan lain sebagainya. Pengidap penyakit ginjal berkemih dengan mengeluarkan urine berwarna coklat, orange tua, atau kemerahan. 

Selain dari warna urine, gejala umum yang dialami oleh pengidap sakit ginjal, meliputi:

  • Mual dan muntah.
  • Kram otot.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki.
  • Peningkatan atau penurunan frekuensi buang air kecil.
  • Napas berat saat melakukan pekerjaan dalam intensitas tinggi.
  • Mudah sesak napas.

2. Diabetes Melitus

Pengidap diabetes memiliki kadar gula dalam urine yang tinggi. Selain itu, warna urine pengidap diabetes juga lebih transparan atau tidak memiliki warna sama sekali, serta beraroma manis. Hal tersebut yang membuat diabetes kerap disapa dengan sebutan kencing manis.

Selain dari warna urine, gejala umum yang dialami oleh pengidap diabetes melitus, meliputi:

  • Peningkatan rasa haus.
  • Sering buang air kecil.
  • Rasa lapar yang ekstrem.
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan.
  • Adanya keton dalam urine.
  • Rasa lelah berlebihan.
  • Penglihatan kabur.
  • Luka yang sulit sembuh.

3. Hepatitis B

Penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B ini sering kali tidak menimbulkan gejala pada pengidapnya. Salah satu gejala yang tampak yaitu warna urine berwarna gelap. Pada kasus hepatitis akut, gejala dapat disertai dengan beberapa kondisi berikut ini:

  • Demam.
  • Kelelahan.
  • Kehilangan selera makan.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Sakit perut.
  • Nyeri sendi.
  • Penyakit kuning.

4. Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih (ISK) disebabkan oleh adanya mikroorganisme dalam urine. Bukan hanya nyeri saat buang air kecil saja, urine pada pengidap terkadang mengandung darah, sehingga tampak lebih kemerahan. Urine juga bisa berwarna hijau, karena mengandung nanah di dalamnya

Selain dari warna urine, gejala umum yang dialami oleh pengidap ISK, meliputi:

  • Rasa sakit atau sensasi terbakar saat buang air kecil.
  • Peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Kencing berbau menyengat.
  • Buang air kecil tiba-tiba dan terasa sangat mendesak.

5. Penyakit Hati

Cek urine bisa mendeteksi kandungan bilirubin. Bilirubin sendiri adalah produk pemecah sel darah merah. Bilirubin dibawa darah dan masuk ke dalam organ hari. Kemudian, kandungannya dikeluarkan dan menjadi bagian dari empedu. Nah, adanya bilirubin dalam urine bisa jadi pertanda kerusakan hati.

Selain adanya bilirubin dalam urine, penyakit hati ditandai dengan sejumlah gejala, seperti:

  • Nyeri dada.
  • Rasa sesak di dada.
  • Tekanan dan rasa tidak nyaman di dada.
  • Nyeri, mati rasa, lemas, atau dingin pada kaki atau lengan.

Cek urine membantu mendeteksi sejumlah penyakit tersebut. Dengan langkah deteksi dini menemukan dan mengobati gangguan kesehatan sejak awal, sehingga potensi komplikasi bisa diminimalkan. Jika ingin melakukan pemeriksaan urine, kamu bisa menggunakan layanan Halodoc Home Care.

Halodoc Home Care adalah layanan homecare untuk tes lab, seperti cek demam, cek darah (hematology), cek urine, cek kolesterol, cek diabetes, medical check up hingga imunisasi yang bisa dipanggil ke rumah atau ke tempat saat ini kamu berada, di mana saja! 

Saat ini, layanan Halodoc Home Care bisa di-booking untuk area Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi sesuai ketersediaan. Setiap pemesanan di Halodoc Home Care akan mendapatkan gratis konsultasi hasil dengan dokter dan tanpa biaya tambahan lainnya. 

Tunggu apalagi? Yuk, tes sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Urinalysis.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Urinalysis.
National Kidney Foundation. Diakses pada 2022. What is a Urinalysis (also called a “urine test”)?