Ini Alasan Anak Kejang saat Demam Tinggi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ini Alasan Anak Kejang saat Demam Tinggi

Halodoc, Jakarta – Setiap orangtua tentu panik saat anak mengalami kejang saat demam tinggi. Kondisi ini bahkan sering dikira dan dihubungkan dengan epilepsi, serta risiko keterbelakangan mental sebagai efeknya. Namun sebenarnya, apa alasan anak kejang saat demam tinggi?

Anak mengalami kejang saat demam tinggi karena adanya kenaikan drastis pada temperatur tubuh. Kejang demam ini umumnya disebabkan oleh infeksi dan merupakan respon dari otak terhadap demam yang biasanya terjadi pada hari pertama demam. Kondisi ini biasanya dialami oleh bayi usia 6 bulan, hingga anak usia 5 tahun.

Baca juga: Jangan Keliru, Inilah Bedanya antara Kejang dan Epilepsi

Lalu pertanyaannya, apakah kejang demam berbahaya? Hingga saat ini, belum ada penelitian yang membuktikan kejang demam pada anak dapat berisiko fatal. Sebagian besar kejang demam pada anak tidak memiliki keterkaitan dengan peningkatan risiko kematian pada masa anak-anak ataupun dewasa. Selain itu, kejang demam pada anak umumnya tidak memiliki dampak jangka panjang, seperti kerusakan otak, kesulitan belajar, ataupun gangguan mental.

Gejala Kejang Demam pada Anak

Gejala kejang demam pada anak dapat beragam. Mulai dari yang ringan, seperti mata melotot, hingga yang berat, misalnya gerakan tubuh menyentak-nyentak dengan hebat atau otot-otot menjadi kencang dan kaku. Umumnya, anak yang mengalami kejang demam ditandai dengan gejala, yaitu:

  • Hilang kesadaran dan berkeringat.
  • Tangan dan kakinya kejang.
  • Demam tinggi, lebih dari 38 derajat Celsius.
  • Terkadang keluar busa dari mulutnya atau muntah.
  • Matanya terkadang juga akan terbalik.
  • Setelah reda, terlihat mengantuk dan tertidur.

Baca juga: Alasan Stres Bisa Sebabkan Kejang

Sementara itu, berdasarkan durasinya, kejang demam dapat dikategorikan sebagai berikut:

  • Kejang demam sederhana. Merupakan jenis yang paling umum terjadi, dengan durasi kejang beberapa detik hingga kurang dari 15 menit. Kejang jenis ini biasanya tidak akan terulang dalam waktu 24 jam.
  • Kejang demam kompleks. Kejang yang terjadi lebih dari 15 menit pada salah satu bagian tubuh dan dapat terulang dalam 24 jam.

Jika anak mengalami berbagai gejala tersebut, sebaiknya jangan panik. Segera diskusi dengan dokter di aplikasi Halodoc lewat fitur Chat atau Voice/Video Call, tentang gejala yang dialami anak. Namun, jika kejang terjadi berulang, sebaiknya segera periksakan anak langsung ke dokter. Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung buat janji dengan dokter di rumah sakit melalui aplikasi Halodoc. Jadi, pastikan kamu sudah download aplikasinya di ponselmu, ya.

Cara Menangani Kejang Demam pada Anak

Ketika anak mengalami kejang demam, orangtua sebaiknya tetap tenang dan tidak panik. Perlu diketahui bahwa pemberian obat penurun panas pada anak, seperti paracetamol atau ibuprofen hanya berguna untuk membuat anak lebih nyaman dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi, tetapi tidak mencegah timbulnya kejang demam.

Baca juga: Enggak Hanya Kejang, Ini 4 Gejala Lain Epilepsi

Jika kejang demam terjadi secara berulang, segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit. Namun, jika belum tiba di rumah sakit atau dokter, ada beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua, yaitu:

  • Jangan tahan gerakan kejang anak. Letakkanlah ia di permukaan yang aman seperti pada karpet di lantai.
  • Untuk menghindari risiko tersedak, segera keluarkan jika ada sesuatu di dalam mulutnya saat ia kejang. Jangan taruh obat dalam bentuk apa pun di dalam mulutnya, saat anak sedang kejang.
  • Untuk mencegah anak menelan muntahnya sendiri, letakkan ia dalam posisi miring dengan salah satu lengan berada di bawah kepala yang juga dimiringkan ke salah satu sisi.
  • Hitung durasi kejang. Panggil ambulans atau segera bawa ke instalasi gawat darurat (IGD) jika kejang pada anak terjadi lebih dari 10 menit.
  • Tetaplah berada di dekat anak untuk menenangkannya.
  • Pindahkan benda tajam atau berbahaya dari sekitar anak.
  • Longgarkan pakaian anak.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Febrile seizure.
NHS Choices UK. Diakses pada 2019. Febrile seizures.
Kids Health. Diakses pada 2019. Febrile Seizures.