Ini Cara Mendeteksi Kanker Ovarium Sejak Dini

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
deteksi kanker ovarium

Halodoc, Jakarta - Kanker ovarium adalah kondisi di mana tumor ganas berkembang di dalam ovarium atau indung telur. Kanker ini bisa terjadi pada wanita berusia menengah, maupun wanita yang telah lanjut usia. Namun, kasus yang paling  parah umumnya terjadi pada wanita yang berusia di atas 55 tahun. Kanker ovarium tidak akan bertambah parah jika bisa diketahui pada stadium awal, yakni dengan mengurangi faktor-faktor risiko dan mengobatinya secara efektif. Namun pada kenyataannya, sangat sulit untuk mendiagnosis penyakit ini pada stadium awal.

Baca juga: Datang Diam-Diam, 4 Kanker ini Sulit Dideteksi

Gejala Kanker Ovarium

Gejala kanker ovarium stadium awal biasanya jarang terlihat. Jika berhasil dideteksi, gejala kanker sekilas mirip dengan konstipasi atau gejala pada iritasi usus. Hal itulah yang menyebabkan deteksi kanker ovarium baru disadari saat penyakit ganas ini sudah menyebar dalam tubuh. Agar kamu lebih waspada, berikut ini gejala kanker ovarium yang perlu perlu diketahui:

  • Cepat merasa kenyang.
  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat.
  • Mual dan muntah.
  • Perut membengkak.
  • Berat badan menurun.
  • Perubahan pada kebiasaan buang air besar, misalnya konstipasi (sulit buang air besar).
  • Perut selalu terasa kembung.
  • Sakit perut.
  • Sakit saat berhubungan intim.

Tipe Kanker Ovarium

  1. Kanker sel epitel. Sel epitel meliputi lapisan luar ovarium. Kebanyakan pengidap kasus kanker ovarium mengalami penyakit jenis ini.
  2. Kanker sel germinal. Sel germinal adalah sel pada ovarium yang memiliki kemampuan  berkembang menjadi telur. Biasanya, kanker sel germinal sering terjadi pada wanita muda.
  3. Kanker sel stroma. Kanker ini terjadi pada jaringan ikat yang menyusun bagian dalam ovarium.

Cara Deteksi Kanker Ovarium

Kanker ovarium biasanya dilakukan berdasarkan gejala yang dialami, riwayat kesehatan keluarga, dan hasil pemeriksaan fisik. Agar lebih meyakinkan, deteksi kanker ovarium dilakukan dengan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, USG (ultrasonography), atau biopsi. Berikut ini penjelasannya.

  1. Pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksa perut bagian bawah dan organ reproduksi. Dengan tes ini, bisa diketahui bentuk, ukuran, dan struktur ovarium.
  2. Pemeriksaan darah yang dilakukan untuk mendeteksi keberadaan protein CA 125 dalam darah. Kadar CA 125 yang tinggi bisa mengindikasikan kanker ovarium. Namun, perlu diketahui jika tes ini tidak bisa dijadikan sebagai sumber tunggal. Hal ini dikarenakan CA 125 bukan tes yang spesifik, dan tidak semua pengidap kanker ovarium mengalami peningkatan kadar CA 125 dalam darah.

Stadium Kanker Ovarium

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan seseorang positif mengidap kanker ovarium, langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah menentukan tingkat penyebaran kanker. Dalam menentukan tingkat penyebaran kanker ovarium, pemeriksaan bisa dilakukan dengan CT scan atau MRI scan, rontgen dada, serta pemeriksaan sampel cairan rongga perut dan jaringan ovarium. Mengetahui tingkat penyebaran kanker yang diidap akan membantu dokter untuk menentukan langkah pengobatan terbaik.

Fase dari kanker ovarium terbagi menjadi empat stadium yaitu:

  1. Stadium I, yakni kondisi di mana kanker ditemukan di permukaan ovarium.
  2. Stadium II, yakni kanker melibatkan 1/2 bagian ovarium yang bisa meluas hingga ke panggul (rahim, saluran tuba, kandung kemih, dan usus besar).
  3. Stadium III,  yakni kanker menyebar melebihi rongga panggul ke dinding perut, organ perut, usus kecil, kelenjar getah bening, dan permukaan hati.
  4. Stadium IV, yakni kanker telah menyebar hingga ke banyak organ, seperti limpa, paru-paru, hati (bagian dalam).

Semakin dini deteksi kanker ovarium, semakin tinggi harapan hidup seorang pengidap kanker ovarium. Kalau kamu punya pertanyaan lain seputar kanker ovarium, tanyakan saja pada dokter Halodoc. Melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa bertanya pada dokter tepercaya kapan saja dan dimana saja melalui Chat, dan Voice/Video Call. Jadi, yuk download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play sekarang juga!

Baca juga: Kaum Hawa Perlu Tahu 2 Gangguan Ovarium