Ini Faktor yang Tingkatkan Risiko Hirschsprung

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Ini Faktor yang Tingkatkan Risiko Hirschsprung

Halodoc, Jakarta - Di dalam tubuh, pergerakan usus menyesuaikan dengan jalan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Akhir dari perjalanan ini berada di bagian rektum atau usus besar. Pergerakan pada usus ini diatur oleh sistem saraf yang terdapat pada usus, sehingga usus bisa melakukan gerakan meremas dan gerakan relaksasi secara berulang ketika mencerna makanan. Sayangnya, pada kondisi langka, bisa saja terjadi penyumbatan pada bagian usus. 

Hirschsprung menjadi kelainan bawaan yang langka pada bayi yang baru lahir, ketika sel saraf pada usus tidak bisa berkembang dengan sempurna, sehingga mengakibatkan terjadinya penyumbatan pada usus. Normalnya, sel saraf pada usus memanjang di sepanjang organ usus, sehingga kerja usus bisa tetap maksimal. Namun, sel saraf yang tidak berkembang membuat pergerakan usus menjadi kurang sempurna, sehingga menyebabkan penyumbatan.

Faktor yang Tingkatkan Risiko Hirschsprung

Manusia memiliki usus besar dan usus kecil serta rektum yang menghubungkan bagian usus dengan bagian anus. Seseorang yang mengalami hirschsprung biasanya terjadi pada bagian rektum dan bagian usus besar. Meski begitu, bisa saja terjadi pada usus kecil bagian akhir yang menuju ke usus besar. 

Baca juga: Ketahui Penyebab Utama Terjadinya Hirschsprung

Penyumbatan usus ini lebih sering terjadi pada bayi yang baru lahir dan harus segera ditangani. Meski begitu, adanya hirschsprung juga bisa terdeteksi bertahun-tahun kemudian dengan gejala yang ringan hingga sedang. Kondisi ini termasuk darurat medis, sehingga harus mendapatkan penanganan karena memicu terjadi infeksi pada saluran pencernaan yang berujung pada kematian. 

Memang, bayi dan anak-anak rentan mengalami hirschsprung. Namun, beberapa kondisi berikut turut meningkatkan faktor risiko anak mengalaminya, yaitu:

  • Laki-laki. Penyakit hirschsprung lebih rentan menyerang bayi dan anak laki-laki daripada bayi atau anak perempuan. 
  • Memiliki saudara kandung yang mengidap penyakit hirschsprung. Cacat lahir ini bisa diturunkan. Jika ibu memiliki anak dengan kelainan hirschsprung, anak-anak lainnya memiliki risiko yang sama tingginya. 
  • Memiliki riwayat kondisi bawaan lainnya. Penyakit hirschsprung juga dikaitkan dengan kondisi tertentu, termasuk sindrom Down dan kelainan lain yang muncul saat lahir, seperti penyakit jantung bawaan. 

Baca juga: Ketahui 2 Pengobatan untuk Atasi Hirschsprung

Kenali Tanda dan Gejalanya

Kelainan hirschsprung bisa terdeteksi dengan melakukan pemeriksaan fisik, seperti melakukan pengecekan pada perut dan pemeriksaan status gizi sang buah hati. Ibu harus curiga jika dalam waktu kurang dari 48 jam setelah anak lahir, ia tidak mengeluarkan feses pertamanya dengan warna gelap alias meconium

Gejala lain yang muncul pada bayi adalah muntah dengan warna hijau atau coklat, keluar feses dalam jumlah banyak setelah dilakukan pemeriksaan rektum dengan memasukkan jari ke dalam rektum anak, diare berdarah, dan perut bayi yang terlihat seperti membengkak. 

Sementara itu, ketika hirschsprung dialami oleh anak-anak, mereka biasanya mengalami sembelit kronis, diare yang diikuti dengan keluarnya darah, pembengkakan pada bagian perut yang diikuti dengan rasa nyeri, menurunnya nafsu makan, dan terganggunya pertumbuhan sang buah hati. 

Baca juga: Inilah Proses Operasi untuk Mengatasi Hirschsprung

Jika tidak segera dilakukan pengobatan, enterocolitis atau infeksi pada usus sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, segera lakukan pengobatan ketika anak menunjukkan gejala-gejala seperti yang telah disebutkan tadi. Tidak perlu menunggu lama, ibu bisa membuat janji dengan dokter anak di rumah sakit terdekat, sehingga pengobatan bisa segera didapatkan. 


Referensi: 

Mayo Clinic. Diakses pada 2019. Hirschsprung.
NHS UK. Diakses pada 2019. Hirschsprung’s Disease.
Kids Health. Diakses pada 2019. Hirschsprung’s Disease.