• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Gejala Gangguan Kepribadian yang Bisa Muncul sejak Remaja
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Gejala Gangguan Kepribadian yang Bisa Muncul sejak Remaja

Ini Gejala Gangguan Kepribadian yang Bisa Muncul sejak Remaja

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 20 September 2022

“Gangguan kepribadian termasuk penyakit mental yang menyebabkan pengidap memiliki pola pikir dan perilaku tidak normal. Salah satu gejalanya ditandai dengan emosional berlebihan.”

Ini Gejala Gangguan Kepribadian yang Bisa Muncul sejak RemajaIni Gejala Gangguan Kepribadian yang Bisa Muncul sejak Remaja

Halodoc, Jakarta – Gangguan kepribadian menyebabkan pengidapnya memiliki pola pikir dan perilaku tidak normal serta sulit untuk diubah. Mereka cenderung kesulitan untuk memahami situasi dan kondisi yang tengah dihadapi.

Gejala gangguan kepribadian umumnya muncul pada masa remaja. Namun, kondisi ini biasanya tidak disadari oleh pengidapnya. Karena itu, pengidap cenderung memiliki masalah pada lingkup sosialnya.

Gejala Gangguan Kepribadian Remaja

1. Memiliki Masalah dalam Mengelola Emosi

Pengidap cenderung khawatir dan memiliki rasa cemas berlebihan. Tak hanya itu, mereka juga takut secara berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Takut di bully atau ditindas oleh teman sekolah, misalnya.

Kondisi tersebut bisa berujung pada depresi atau stres kronis. Awalnya, gejala ditandai dengan perubahan suasana hati secara tiba-tiba. Dampaknya, bisa menurunkan nilai akademis dan menarik diri dari pergaulan.

2. Memiliki Masalah dalam Perilaku

Gejala gangguan kepribadian remaja bisa diawali dengan beberapa masalah perilaku, termasuk:

  • Autism Spectrum Disorder (ASD). Ini berdampak pada bahasa dan kemampuan seorang anak berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku.
  • Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD). Ini amenyebabkan anak kesulitan fokus, memusatkan perhatian dan hiperaktif.
  • Gangguan belajar (learning disorder). Ini berdampak pada kemampuan otak untuk menerima, mengolah, menganalisis atau menyimpan informasi. 
  • Oppositional defiant disorder (ODD). Ini menyebabkan anak mudah marah atau tersinggung, suka menantang atau argumentatif dan suka balas dendam.
  • Conduct disorder. Ini menyebabkan gangguan perilaku dan emosi, sehingga anak cenderung suka melakukan kekerasan, merusak benda  dan sulit mengikuti aturan.

3. Memiliki Masalah Pola Makan

Di usia remaja, pengaruh teman dan sosial media begitu kuat. Informasi terhadap stereotip kalau badan ideal harus kurus, tinggi dan langsing membuat mereka takut menjadi diri sendiri.

Itu menjadi awal mula masalah pola makan yang menjadi gejala gangguan kepribadian remaja. Di tahap selanjutnya, mereka bisa menolak makan (anoreksia nervosa) atau makan lalu memuntahkannya (bulimia nervosa).

Dampaknya, terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan remaja serta penurunan prestasi di sekolah. Dari segi psikologi, mereka bisa mengalami depresi, kecemasan, bahkan niat untuk bunuh diri. 

4. Sering Berhalusinasi

Halusinasi ditandai dengan gangguan persepsi yang menyebabkan pengidap melihat, mendengar atau mencium sesuatu yang kenyataannya tidak ada. Kondisi ini bisa berkembang menjadi skizofrenia.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, halusinasi menyebabkan gangguan dalam hubungan dan interaksi sosial, menyakiti diri sendiri dan orang lain serta melakukan percobaan bunuh diri.

5. Melakukan Perilaku Berisiko Tinggi

Perilaku berbahaya yang dilakukan termasuk penyalahgunaan narkoba, seks bebas, merokok, menggunakan ganja, minum alkohol dan mencuri. Ini dilakukan sebagai pelarian atasi emosi negatif yang muncul.

Namun kenyataannya, perilaku tersebut justru merusak mental dan kesehatannya. Dampak lainnya, termasuk penurunan prestasi akademik, cedera, perkelahian, terlibat kejahatan, bahkan kematian.

Penyebab yang Mendasari

Penyebab munculnya gejala gangguan kepribadian remaja bisa dipicu oleh tekanan untuk menyesuaikan diri dengan teman sebaya, kesulitan mencari jati diri dan keluarga yang tidak harmonis.

Pengasuhan otoriter juga ikut berperan, karena anak dituntut untuk menjalani semua kemauan orang tua. Anak cenderung cemas jika tidak menurut dan selalu memikirkan konsekuensi atau hukuman jika melanggar aturan.

Jika menemukan gejala gangguan kepribadian pada remaja, silakan tanya psikolog atau psikiater guna membantu mengatasi keluhan yang dialami. Tujuannya untuk mencegah penurunan produktivitas dalam akademis dan kehidupan pribadinya.

Jika membutuhkan informasi lain seputar kesehatan, gaya hidup dan pola hidup anak lainnya, silakan download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2022. Adolescent mental health.
Child Mind Institute. Diakses pada 2022. Watching for Signs of Psychosis in Teens.