• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Kelompok Orang yang Lebih Berisiko Mengidap Hepatitis D
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Kelompok Orang yang Lebih Berisiko Mengidap Hepatitis D

Ini Kelompok Orang yang Lebih Berisiko Mengidap Hepatitis D

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 22 Juni 2022

“Meski jarang terjadi, hepatitis D bisa mengakibatkan kondisi serius dan berbahaya. Orang-orang dengan imunitas tubuh lemah dan pengguna jarum suntik tidak steril memiliki risiko mengidap hepatitis D lebih tinggi.”

Ini Kelompok Orang yang Lebih Berisiko Mengidap Hepatitis D

Halodoc, Jakarta – Hepatitis D atau dikenal sebagai virus hepatitis Delta adalah infeksi yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan hati. Penyakit ini dapat merusak fungsi hati dan menyebabkan masalah hati jangka panjang, termasuk jaringan parut dan kanker hati.  Kondisi ini disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV).

Tak seperti hepatitis jenis lainnya, hepatitis D tidak dapat menular dengan sendirinya. Meski demikian, virus hepatitis D hanya dapat menginfeksi orang yang sudah pernah terinfeksi hepatitis B. Selain itu, hepatitis D juga bisa terjadi secara akut atau kronis. Hepatitis D akut terjadi secara tiba-tiba dan biasanya menyebabkan gejala yang lebih parah. 

Namun, kondisi ini dapat hilang dengan sendirinya. Jika infeksi berlangsung selama enam bulan atau lebih, kondisi ini dikenal sebagai hepatitis D kronis. Infeksi yang terjadi jangka panjang berkembang secara bertahap dari waktu ke waktu. Virus mungkin ada di dalam tubuh selama beberapa bulan sebelum gejala muncul. 

Seiring dengan berkembangnya hepatitis D kronis, kemungkinan muncul komplikasi juga meningkat. Banyak orang dengan kondisi tersebut akhirnya mengembangkan sirosis, atau jaringan parut hati yang parah.

Pertanyaannya, siapa saja sih yang lebih berisiko tertular hepatitis D?

Kelompok Orang yang Lebih Berisiko

Selain pernah mengidap hepatitis B, ada beberapa orang yang memiliki risiko lebih tinggi terserang hepatitis D. Peningkatan faktor risiko ini dikaitkan dengan pola hidup setiap orang, yaitu:

  • Menggunakan jarum suntik yang tidak steril atau dipakai secara bergantian.
  • Berada atau menetap di lokasi yang rawan penyakit hepatitis B.
  • Berada satu rumah dengan seseorang yang mengalami hepatitis kronis. 
  • Sering berganti pasangan saat berhubungan intim.
  • Pernah melakukan kontak seksual dengan pengidap hepatitis D.
  • Bekerja di fasilitas kesehatan.
  • Sedang menjalani cuci darah.
  • Menerima transfusi darah atau produk darah.

Selain itu, bayi yang lahir dari orang tua dengan hepatitis D lebih mungkin untuk tertular penyakit ini. Meski begitu sebenarnya hepatitis D jarang ditularkan dari orangtua ke anak selama kelahiran.

Mengenali Gejala Hepatitis D

Tak berbeda dengan jenis hepatitis lainnya, gejala umum dari hepatitis D meliputi:

  • Penyakit kuning, kondisi ketika kulit dan bagian putih mata menguning.
  • Sakit perut.
  • Nyeri sendi.
  • Nafsu makan menurun.
  • Tubuh kelelahan.
  • Urine berubah warna menjadi gelap.
  • Mengalami mual dan ingin muntah. 

Bagaimana Pencegahannya?

Pencegahan hepatitis D turut melibatkan tindakan untuk mencegah hepatitis B. Sebab, penyakit hepatitis D tidak menyebabkan infeksi aktif kecuali seseorang mengidap hepatitis B atau tertular pada waktu yang sama. Alhasil, mendapatkan vaksinasi terhadap hepatitis B adalah salah satu cara untuk menghindari infeksi hepatitis D yang serius.

Jika seseorang sudah mengidap hepatitis B, maka harus menghindari faktor risiko yang bisa memicu hepatitis D. Cara pencegahannya sedikit banyak sama dengan cara mencegah hepatitis B, yaitu: 

  • Lakukan praktik hubungan seksual yang aman untuk melindungi dari infeksi menular seksual (IMS).
  • Hindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
  • Hindari berbagi barang-barang pribadi dengan orang lain.
  • Dapatkan vaksin hepatitis B.

Segera tanyakan pada dokter apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit hepatitis. Gunakan aplikasi Halodoc untuk memudahkan tanya jawab dengan dokter spesialis secara online. Download aplikasi Halodoc di ponsel kamu sekarang juga!

Referensi:
Verywell Health. Diakses pada 2022. Causes and Risk Factors of Hepatitis D.
Healthline. Diakses pada 2022. Hepatitis D.
WHO. Diakses pada 2022. Hepatitis D.