• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Mitos Mengenai Kondom yang Perlu Diluruskan

Ini Mitos Mengenai Kondom yang Perlu Diluruskan

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Ini Mitos Mengenai Kondom yang Perlu Diluruskan

Halodoc, Jakarta - Tahukah kamu bahwa ternyata kondom bukanlah hal baru di dunia kesehatan. Lukisan gua dari 12.000 tahun lalu diklaim menunjukkan bukti bahwa kondom sudah digunakan pada masa itu. Kondom tertua yang pernah ditemukan berasal dari tahun 1642. 

Meskipun sudah lama digunakan oleh manusia, sayangnya hingga kini mitos tentang kondom yang salah masih saja beredar. Mitos yang salah ini kemudian menjadi alasan orang enggan untuk memakai kondom atau ragu menggunakannya. Padahal, kondom adalah salah satu metode pengendalian kehamilan yang cukup ampuh. 

Jadi, seberapa luas pengetahuan kamu tentang kondom? Berikut adalah daftar mitos kondom yang masih dipercaya banyak orang serta ulasan singkat mengenai fakta yang sebenarnya: 

Baca juga: 7 Manfaat Menggunakan Kondom Bagi Kesehatan 

Mitos: Kondom Biasanya Memiliki Lubang atau Cacat Lainnya

Faktanya pembuatan kondom diatur secara ketat, sehingga kondom harus memenuhi standar industri yang diakui, seperti misalnya di Amerika Serikat sangat diawasi oleh Food and Drugs Administration (FDA). Produsen kondom Amerika dan impor secara elektronik menguji setiap kondom untuk lubang dan cacat lainnya. 

Mereka juga melakukan pengujian tambahan pada kondom acak dari setiap batch (biasanya melibatkan uji kebocoran air untuk mendeteksi lubang dan uji semburan udara untuk memeriksa kekuatan kondom). Badan pemeriksa obat di tiap negara seharusnya memeriksa fasilitas pembuatan kondom secara berkala dan melakukan pengujian sendiri untuk memastikan kualitas kondom sebelum diedarkan ke masyarakat.

Mitos: Kondom Tidak Memberi Perlindungan dari Klamidia dan Gonore

Infeksi menular seksual (IMS) seperti klamidia, gonore, sifilis, dan trikomoniasis bisa menyebar melalui sekresi alat kelamin. Oleh karena itu, kondom memberikan perlindungan yang sangat baik terhadap penyakit ini karena mereka bertindak sebagai penghalang, menghalangi sekresi yang menyebabkan infeksi tersebut.

Penelitian telah membuktikan bahwa kondom telah terbukti efektif secara signifikan dalam mencegah klamidia, gonore, dan trikomoniasis jika dibandingkan dengan wanita yang tidak menggunakan kondom. Wanita yang secara konsisten menggunakan kondom menunjukkan penurunan 62 persen risiko tertular gonore dan 26 persen penurunan risiko terkena klamidia.

Mitos: Menggunakan Dua Kondom Memberikan Perlindungan Lebih Baik Daripada Satu

Meskipun tampaknya masuk akal, kondom yang digunakan dua sekaligus bukan berarti lebih melindungi. Faktanya, praktik ini sebenarnya dapat membuat kondom menjadi kurang efektif. Jika dua kondom digunakan bersamaan, lebih banyak gesekan dapat terjadi di antara keduanya dan ini membuat kemungkinan salah satu atau kedua kondom robek. Kamu tidak hanya harus menggunakan satu kondom dalam satu waktu, tetapi kondom pria juga tidak boleh digunakan bersamaan dengan kondom wanita karena alasan yang sama.

Baca juga: Mitos Penggunaan Kondom yang Keliru

Mitos: Kondom Lateks Adalah Satu-Satunya Kondom yang Benar-Benar Efektif

Mitos ini agak rumit karena bergantung pada cara kamu mendefinisikan efektivitas kondom. Ada empat jenis kondom pria, yakni lateks, poliuretan, poliisoprena, dan alami (kulit domba). FDA telah menyetujui kondom lateks, poliuretan, dan poliisoprena agar efektif mencegah kehamilan serta melindungi terhadap IMS. Dalam tes laboratorium, kondom poliuretan telah terbukti sama efektifnya melawan sperma dan IMS seperti kondom lateks.

Namun, ada beberapa kekhawatiran bahwa kondom poliuretan mungkin tidak menawarkan efektivitas yang sama seperti kondom lateks. Ini karena kondom poliuretan tidak elastis dan lebih longgar daripada kondom lateks, sehingga kondom ini lebih mungkin rusak atau terlepas saat berhubungan. Penelitian menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan kondom lateks, kondom poliuretan 3-5 kali lebih mungkin rusak saat berhubungan intim.

Sementara itu, kondom kulit domba mengandung pori-pori kecil. Pori-pori terlalu kecil untuk sperma masuk, jadi kondom ini efektif mencegah kehamilan. Namun, bakteri atau virus yang menyebabkan IMS dapat melewati pori-pori ini. Jadi, kondom kulit domba tidak menawarkan perlindungan terhadap penyakit menular seksual.

Kini kamu bisa beli kondom dengan bahan lateks lewat aplikasi Halodoc, lho! Semua jenis kondom kualitas terbaik bisa dengan mudah kamu dapatkan melalui fitur beli obat. Pesanan kamu pun akan dikirimkan dengan aman dan tersegel rapi, dan akan tiba kurang dari satu jam! 

Mitos: Ukuran Kondom Tidak Penting

Saat menggunakan kondom, ukuran memang membuat perbedaan. Karena ukuran penis dapat bervariasi, penting untuk menggunakan kondom dengan ukuran yang benar. Supaya efektif, kondom harus terpasang dengan benar. Kerusakan fungsi kondom dapat terjadi jika kamu menggunakan kondom yang ukurannya salah, kondom yang terlalu kecil atau terlalu ketat, sehingga lebih mudah rusak. Sedangkan kondom yang terlalu besar atau longgar lebih mungkin terlepas saat digunakan.

Baca juga: Tips Berhubungan Intim Jika Alergi Kondom

Mitos: Kondom Tidak Nyaman dan Sulit Digunakan

Banyak kondom sebenarnya memiliki fitur tambahan (seperti penghangat, pelumasan, dan tonjolan) yang sebenarnya dapat membuat hubungan intim lebih menyenangkan baik bagi pria maupun wanita. Jika kondom terasa tidak nyaman karena terlalu ketat, ada berbagai ukuran dan jenis kondom yang dapat memberikan ukuran dan kenyamanan yang lebih baik. Seperti halnya perilaku baru lainnya, pada awalnya kamu mungkin perlu berlatih memakai kondom dengan benar.

Biasanya, bagian tersulit adalah mengetahui cara menggulung kondom. Aturan sederhananya: kondom harus dipakai seperti topi (tidak seperti topi mandi), kamu harus dapat dengan mudah menggulungnya tanpa harus memasukkan jari ke dalamnya untuk membuka gulungan. Dengan sedikit latihan, kondom sangat mudah digunakan. 

Referensi:
National Health Service UK. Diakses pada 2021. Male Condoms: Know the Facts.
New Zealand Family Planning. Diakses pada 2021. Debunking Myths About Condom.
Very Well Health. Diakses pada 2021. Top 10 Condom Myths.