• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Penjelasan Tentang Proxalutamide untuk Mengobati Pasien COVID-19

Ini Penjelasan Tentang Proxalutamide untuk Mengobati Pasien COVID-19

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Ini Penjelasan Tentang Proxalutamide untuk Mengobati Pasien COVID-19

“Proxalutamide, obat yang biasanya digunakan untuk kanker prostat, dipercaya bisa membantu mengobati pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Pada penelitian sebelumnya, peneliti menemukan bahwa obat tersebut memberi manfaat signifikan bagi pengidap COVID-19 yang menjalani pengobatan rawat jalan. Sedangkan pada pengidap yang dirawat di RS, proxalutamide mampu membantu pemulihan dan mengurangi risiko dampak serius dari COVID-19.”

Halodoc, Jakarta – Sejak awal kemunculannya hingga saat ini, COVID-19 yang disebabkan oleh sindrom pernafasan akut yang parah coronavirus 2 (SARS-CoV-2) telah merenggut 2,6 juta nyawa secara global. Bahkan, virus tersebut masih beredar dan berkembang menjadi varian baru yang lebih menular. Itulah mengapa para ilmuwan dan peneliti juga tidak berhenti berupaya untuk menemukan pengobatan dan vaksin untuk COVID-19.

Baru-baru ini, para peneliti melaporkan dalam jurnal medRxiv bahwa obat proxalutamide bisa meningkatkan kelangsungan hidup pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit di Brasil. Obat antiandrogen nonsteroid yang dikembangkan oleh Kintor Pharmaceuticals ini biasanya digunakan untuk mengobati kanker prostat dan kanker payudara. Namun, proxalutamide kemungkinan juga bisa digunakan untuk membantu memperbaiki kondisi pengidap COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Berikut ulasannya.

Baca juga: Ivermectin Dinilai Ampuh Atasi Corona, Ini Faktanya

Cara Kerja Proxalutamide Terhadap Virus Corona

SARS-CoV-2 menginfeksi pneumosit tipe II pada paru-paru manusia dan sel endotel dengan mengikat reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2). Sebelum mengikat ACE2, lonjakan protein pada permukaan virus mengalami modifikasi struktural melalui protease transmembran endogen, serin 2 (TMPRSS2). Oleh karena modifikasi ini, Hoffman, et al. mengusulkan bahwa penggunaan inhibitor TMPRSS2 bisa membatasi infeksi virus corona. Promotor TMPRSS2 mencakup elemen respons androgen 15 pasangan basa. Hal ini membuat kelompok peneliti berhipotesis bahwa obat antiandrogen akan menjadi kandidat yang baik untuk membatasi masuknya virus ke sel. 

Walaupun mekanisme aksi antiandrogen terhadap virus corona tidak dijelaskan sepenuhnya, tetapi studi pra-klinis sudah menunjukkan bahwa antiandrogen nonsteroid mampu mengelola TMPRSS2 dan menghambat replikasi virus dalam kultur sel manusia.

Nah, proxalutamide adalah antagonis reseptor androgen nonsteroid generasi kedua yang lebih ampuh daripada senyawa antiandrogen lainnya, seperti enzalutamide atau bicalutamide. Obat ini bisa memblokir efek hormon androgen dengan menonaktifkan reseptor mereka pada permukaan sel. 

Pada penelitian sebelumnya, peneliti mempelajari penggunaan proxalutamide pada pria yang positif COVID-19 yang menjalani pengobatan rawat jalan. Dalam uji klinis acak tersamar ganda dengan plasebo terkontrol, pria yang diobati dengan proxalutamide (200 miligram per hari) menunjukkan risiko rawat inap yang berkurang secara signifikan, percepatan perbaikan gejala COVID-19, dan percepatan pembersihan virus. 

Proxalutamide juga mengurangi durasi pengobatan, baik pada pria maupun wanita yang didiagnosis dengan COVID-19 dalam pengobatan rawat jalan. Nah, kali ini, para peneliti mengevaluasi kemanjuran proxalutamide pada pria dan wanita yang dirawat di rumah sakit karena mengidap COVID-19.

Baca juga: Butuh Berapa Lama Waktu Penyembuhan Corona

Mampu Meningkatkan Kondisi Pasien COVID-19 di RS

Dalam uji coba di Brazil, 645 pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit yang bernapas sendiri tanpa bantuan alat, menerima proxalutamide selama 14 hari atau plasebo, ditambah perawatan standar. Setelah dua minggu, tingkat pemulihan kelompok yang menerima proxalutamide adalah 81,4 persen, sedangkan mereka yang mendapatkan plasebo hanya 35,7 persen. Setelah empat minggu, 49,4 persen pada kelompok plasebo meninggal, dibandingkan 11 persen kelompok yang menerima proxalutamide. Penulis studi, John McCoy dari Applied Biology Inc. mengungkapkan bahwa obat tersebut memberikan manfaat yang sama pada kedua jenis kelamin, walaupun wanita mungkin tidak diharapkan bisa menanggapi obat yang sebenarnya bertujuan untuk menghalangi hormon pria.

Penelitian tersebut dilakukan selama lonjakan COVID-19 di negara bagian Brasil di mana varian Gamma yang sebelumnya dikenal sebagai P1 dan pertama kali ditemukan di Brasil, sedang dominan.

Itulah penjelasan mengenai proxalutamide yang bisa membantu mengobati pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit. Bila kamu mengalami gejala-gejala yang dicurigai sebagai gejala COVID-19, seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, ada baiknya kamu memeriksakan diri ke rumah sakit. Namun, untuk mencegah penularan virus, kamu dianjurkan untuk menghubungi hotline COVID-19 terlebih dahulu. Bila memenuhi kriteria, dinas kesehatan akan menjemput dan mengantarkan kamu ke rumah sakit rujukan COVID-19. 

Selain itu, orang yang terdiagnosis COVID-19 dan mengalami gejala yang cukup parah, seperti demam tinggi, sesak napas dan saturasi oksigen rendah, juga perlu dirawat di rumah sakit. Pasalnya, bila tidak ditangani segera, penyakit tersebut bisa semakin parah dan berakibat fatal.

Baca juga: Perawatan Infeksi COVID-19 Berdasarkan Tingkat Gejalanya

Sekarang, kamu juga bisa memeriksakan gejala kesehatan yang kamu alami ke dokter dengan mudah dengan menggunakan aplikasi Halodoc.  Caranya tinggal buat janji saja di rumah sakit pilihan kamu lewat aplikasi dan kamu bisa menemui dokter sesuai jadwal. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga. 

Referensi:
medRxiv. Diakses pada 2021. Efficacy of Proxalutamide in Hospitalized COVID-19 Patients: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled, Parallel-Design Clinical Trial.
Reuters. Diakses pada 2021. Experimental prostate cancer drug may improve COVID-19 survival; younger patients report long lasting symptoms