• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Perbedaan Rasa Sedih Orang Dewasa dan Anak-Anak

Ini Perbedaan Rasa Sedih Orang Dewasa dan Anak-Anak

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta – Rasa sedih adalah hal yang wajar dan pasti pernah dialami semua orang. Kesedihan adalah emosi alami manusia. Seperti emosi lain, perasaan sedih bisa datang dan pergi. Terkadang perasaan sedih hanya berlangsung sesaat. Di waktu lain, kesedihan berlangsung lebih lama atau terasa lebih kuat.

Rasa sedih yang dialami orang dewasa pastinya berbeda dengan anak-anak. Anak-anak biasanya lebih ekspresif dalam mengungkapkan rasa sedihnya ketimbang orang dewasa. Nah, berikut ini ulasan selengkapnya. 

Baca juga: Orangtua Depresi Bisa Pengaruhi Psikologis Anak

Perbedaan Rasa Sedih Orang Dewasa dengan Anak-Anak

Berikut ini perbedaan antara rasa sedih yang dialami anak-anak dan orang dewasa, yaitu:

1. Rasa Sedih Orang Dewasa

Melansir dari Medical News Today, sedihnya orang dewasa bisa dipicu oleh beberapa hal, seperti kehilangan atau ketidakhadiran orang yang dicintai, perceraian, kehilangan pekerjaan atau penghasilan, masalah keuangan, atau masalah di rumah semuanya memengaruhi suasana hati secara negatif. Gagal mengikuti ujian, tidak mendapat pekerjaan, atau mengalami peristiwa mengecewakan lainnya juga bisa memicu kesedihan.

Saat merasa sedih, orang dewasa umumnya menangis, melampiaskannya ke suatu hal atau bicara dengan orang lain tentang perasaannya. Orang dewasa cenderung lebih bisa mengontrol emosinya daripada anak-anak. Meski begitu, setiap orang punya sifat yang berbeda dalam menanggapi suatu hal. Ada yang menangis sampai menggebu-gebu saat sedih, ada pula yang hanya diam hingga meneteskan air mata saja. 

2. Rasa Sedih Anak-Anak

Anak-anak rata-rata cenderung lebih ekspresif untuk menunjukan rasa sedihnya. Mereka mungkin menangis keras dan tersedu-sedu. Hal ini wajar terjadi karena anak-anak belum mampu mengontrol emosinya. Untuk anak yang sudah lebih besar tentunya akan berbeda saat mengekspresikan rasa sedih. Mereka yang sudah lebih besar biasanya mirip seperti orang dewasa dalam menyikapi suatu hal. 

Meski sedih adalah hal yang lumrah, kesedihan yang berlarut-larut juga tidak baik. Bahkan kalau dibiarkan, rasa sedih bisa berubah menjadi depresi. Depresi adalah kondisi yang lebih serius karena dapat mengganggu dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari.

Baca juga: Pentingnya Hobi bagi Kesehatan Mental Anak

Kenali Tanda Depresi yang Perlu Diwaspadai

Apabila kesedihan yang dialami menjadi berlarut-larut dan berlangsung hingga dua minggu lamanya, sebaiknya waspadai tanda-tanda perkembangan depresi berikut ini yang bisa dialami orang dewasa maupun anak-anak, yaitu:

  • Sedih terus-menerus, merasa tidak berharga, bersalah, putus asa, menangis, dan marah.
  • Hilangnya minat dalam aktivitas sosial.
  • Menambah atau mengurangi tidur atau nafsu makan.
  • Keluhan fisik, sakit perut, nyeri tanpa sebab medis.
  • Kinerja sekolah atau pekerjaan yang buruk.
  • Punya pikiran bunuh diri.
  • Merasa seperti tidak ada masalah.

Tips Mencegah Depresi Anak-Anak dan Orang Dewasa

Inilah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah depresi, yaitu:

  • Makan makanan sehat.
  • Tidur cukup.
  • Berjalan, bermain, berolahraga atau lakukan sesuatu yang disukai untuk melepaskan stres.
  • Luangkan waktu untuk bersantai.
  • Luangkan waktu untuk memperhatikan hal-hal baik tentang kehidupan, sekecil apa pun.

Baca juga: Deteksi Dini Gangguan Mental pada Anak

Pastikan untuk bicara dengan seseorang ketika merasa sedih atau tertekan, seperti orang tua, kerabat, dokter, guru, penasihat, pelatih, atau teman dekat orang dewasa. Orang lain sering kali dapat membantu memikirkan cara untuk membuat situasi lebih baik. Jika kamu butuh psikolog untuk diajak bicara, kamu bisa menghubunginya lewat aplikasi Halodoc. Psikolog bisa kamu hubungi kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call.

Referensi:
Mind Well Psychology. Diakses pada 2020. What are the differences between childhood and adult depression?.
Kids Health. Diakses pada 2020. Sadness and Depression.
Medical News Today. Diakses pada 2020. The difference between depression and sadness.