• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Pilihan Pengobatan untuk Atasi Infeksi Virus Hepatitis D
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Pilihan Pengobatan untuk Atasi Infeksi Virus Hepatitis D

Ini Pilihan Pengobatan untuk Atasi Infeksi Virus Hepatitis D

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 12 Agustus 2021
Ini Pilihan Pengobatan untuk Atasi Infeksi Virus Hepatitis D

“Hepatitis D umumnya terjadi setelah orang yang terinfeksi hepatitis D. Infeksi virus hepatitis D ini juga bisa menyebabkan infeksi akut jangka pendek atau bahkan kondisi yang kronis jangka panjang. Ada pengobatan yang bisa dilakukan, meskipun sebenarnya ia tidak terlalu ampuh. Namun, pengobatan dapat menekan agar gejala tidak semakin parah.”

Halodoc, Jakarta – Hepatitis D, juga dikenal sebagai “hepatitis delta,” adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis D (HDV). Hepatitis D hanya terjadi pada orang yang juga terinfeksi virus hepatitis B. Hepatitis D menyebar ketika darah atau cairan tubuh lain dari orang yang terinfeksi virus masuk ke tubuh seseorang yang tidak terinfeksi.

Hepatitis D bisa menjadi infeksi akut jangka pendek atau menjadi infeksi kronis jangka panjang. Hepatitis D dapat menyebabkan gejala parah dan penyakit serius yang dapat menyebabkan kerusakan hati seumur hidup bahkan kematian. Orang dapat terinfeksi virus hepatitis B dan hepatitis D secara bersamaan atau dikenal sebagai koinfeksi. Atau bisa juga terkena hepatitis D setelah pertama kali terinfeksi virus hepatitis B (dikenal sebagai “superinfeksi”). Tidak ada vaksin untuk mencegah hepatitis D. Namun, pencegahan hepatitis B dengan vaksin hepatitis B juga melindungi terhadap infeksi hepatitis D di masa depan.

Baca juga: Ketahui 5 Faktor Risiko Hepatitis D

Pengobatan dan Pencegahan Infeksi Virus Hepatitis D

Interferon alfa pegilasi adalah pengobatan yang umumnya direkomendasikan untuk infeksi virus hepatitis D. Interferon adalah jenis protein yang dapat menghentikan penyebaran virus dan menyebabkan remisi dari penyakit. Pengobatan ini harus berlangsung setidaknya 48 minggu hingga 12 bulan. Meski virus cenderung memberikan tingkat respons yang rendah terhadap pengobatan, tetapi pengobatan ini diyakini mampu menekan perkembangan penyakit agar tidak menjadi semakin parah. 

Pengobatan interferon alfa pegilasi juga dikaitkan dengan efek samping yang signifikan. Pengobatan ini juga tidak boleh diberikan kepada pasien dengan sirosis dekompensasi, masalah pada kejiwaan, dan penyakit autoimun.

Namun, bahkan setelah pengobatan, orang dengan hepatitis D masih dapat dites positif terkena virus. Ini berarti bahwa masih penting untuk melakukan tindakan pencegahan untuk mencegah penularan. Kamu juga harus tetap proaktif dengan memperhatikan gejala yang berulang.

Jika pasien mengidap sirosis atau jenis kerusakan hati lainnya, ia mungkin memerlukan transplantasi hati. Transplantasi hati adalah operasi bedah besar yang melibatkan pengangkatan hati yang rusak dan menggantinya dengan hati yang sehat dari donor. Dalam kasus di mana transplantasi hati diperlukan, sekitar 70 persen orang bisa hidup 5 tahun atau lebih setelah operasi.

Baca juga: Begini Cara Diagnosis Hepatitis D 

Gejala Hepatitis D

Hepatitis D tidak selalu menimbulkan gejala. Namun ketika gejala terjadi, pengidapnya mungkin akan mengalami beberapa gejala, seperti: 

  • Menguningnya kulit dan mata yang disebut penyakit kuning.
  • Nyeri sendi.
  • Sakit perut.
  • Muntah.
  • Kehilangan selera makan.
  • Urine gelap
  • Kelelahan.

Gejala hepatitis B dan hepatitis D sebenarnya serupa sehingga sulit untuk menentukan penyakit mana yang menyebabkan gejala. Dalam beberapa kasus, hepatitis D dapat memperburuk gejala hepatitis B. Ini juga dapat menyebabkan gejala pada orang yang mengidap hepatitis B tetapi tidak pernah memiliki gejala.

Baca juga: 4 Fakta Penting tentang Hepatitis D

Pencegahan Infeksi Hepatitis D

Satu-satunya cara yang diketahui untuk mencegah hepatitis D adalah dengan menghindari infeksi hepatitis B. Kamu dapat mengambil tindakan pencegahan ini untuk mengurangi risiko hepatitis B, seperti:

Vaksin

Ada vaksin hepatitis B yang harus diterima semua anak. Orang dewasa yang berisiko tinggi terkena infeksi, seperti mereka yang menggunakan obat intravena, juga harus divaksinasi. Vaksinasi biasanya diberikan dalam serangkaian tiga suntikan selama enam bulan.

Jauhi Narkoba

Hindari atau hentikan penggunaan narkoba yang dapat disuntikkan, seperti heroin atau kokain. Selain itu, jangan pernah berbagi jarum dengan orang lain.

Berhati-hatilah dengan Tato dan Tindik

Datangi tempat tepercaya setiap kali hendak mendapatkan tindik atau tato. Tanyakan bagaimana peralatan dibersihkan dan pastikan karyawan menggunakan jarum steril.

Seks yang Aman

Selalu praktikkan seks aman dengan menggunakan kondom dengan semua pasangan seksual. Kamu tidak boleh melakukan hubungan seks tanpa kondom, kecuali yakin pasangan tidak terinfeksi hepatitis atau infeksi menular seksual lainnya. 

Jika kamu membutuhkan kondom untuk memastikan tidak tertular penyakit melalui hubungan seks, kamu bisa mendapatkannya di Halodoc. Kamu pun tak perlu keluar rumah untuk mendapatkannya karena pesanan kamu bisa tiba di tempatmu kurang dari satu jam. Praktis bukan? Yuk gunakan aplikasi Halodoc sekarang!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Hepatitis D.
Healthline. Diakses pada 2021. Hepatitis D.
World Health Organization. Diakses pada 2021. Hepatitis D.