• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Prosedur untuk Melahirkan dengan Bantuan Forceps
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ini Prosedur untuk Melahirkan dengan Bantuan Forceps

Ini Prosedur untuk Melahirkan dengan Bantuan Forceps

4 menit
Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli : 16 Agustus 2022

“Pada kondisi tertentu, persalinan vagina memerlukan bantuan forceps untuk membantu bayi keluar dari jalan lahir. Bila tidak berhasil, operasi caesar perlu dilakukan.”

Ini Prosedur untuk Melahirkan dengan Bantuan ForcepsIni Prosedur untuk Melahirkan dengan Bantuan Forceps

Halodoc, Jakarta – Setiap ibu hamil tentunya berharap bisa melahirkan dengan lancar pada hari H-nya. Namun, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada proses persalinan nanti. Pada kasus persalinan vagina, bila bayi tidak kunjung keluar meski sang ibu sudah berusaha mendorongnya, bantuan dengan menggunakan forceps perlu dilakukan.

Dalam proses persalinan dengan bantuan forceps, dokter kandungan akan menggunakan forceps, yaitu alat yang berbentuk seperti sepasang sendok besar atau penjepit salad. Alat tersebut akan ditempatkan pada kepala bayi untuk membantu membimbing bayi keluar dari jalan lahir. Hal itu dilakukan selama kontraksi saat ibu mengejan. Yuk, ketahui lebih lanjut mengenai metode persalinan ini di sini.

Ketahui Prosedur Persalinan dengan Forceps

Persalinan dengan bantuan alat, seperti forceps, disebut juga persalinan yang dibantu atau persalinan instrumental. Bantuan ini biasanya diperlukan pada proses persalinan vagina yang memiliki kondisi tertentu, seperti:

  • Ibu sudah mendorong, tapi bayi tidak kunjung keluar dari jalan lahir seperti yang diharapkan.
  • Ada kekhawatiran tentang kondisi bayi, seperti detak jantung bayi menunjukkan ada masalah.
  • Ibu memiliki kondisi medis tertentu, sehingga tidak disarankan untuk mendorong atau mengejan selama persalinan.

Berikut prosedur persalinan dengan bantuan forceps:

  • Selama persalinan forceps, ibu akan melakukan posisi seperti persalinan vagina biasanya, yaitu berbaring telentang, sedikit condong dengan kaki direntangkan. Ibu mungkin akan diminta untuk memegang sisi ranjang persalinan untuk membantu menahan diri saat mendorong. 
  • Di antara kontraksi, dokter kandungan akan menempatkan dua atau lebih jari di dalam vagina, di samping kepala bayi. Kemudian, dengan lembut ia akan menyelipkan satu bagian forceps di antara tangannya dan kepala bayi, dan langsung diikuti dengan memasukkan bagian satu lagi dari alat tersebut di sisi lain kepala bayi. Alat akan dikunci bersama untuk menopang kepala bayi.
  • Pada beberapa kontraksi berikutnya, ibu akan mendorong dan dokter kandungan akan menggunakan forceps untuk membimbing bayi keluar melalui jalan lahir dengan lembut.
  • Bila kepala bayi menghadap ke atas, dokter juga bisa menggunakan alat tersebut untuk memutar kepala bayi di antara kontraksi. 
  • Bila kelahiran bayi sudah terlihat, dokter akan membuka dan melepas forceps sebelum bagian terluas dari kepala bayi melewati jalan lahir. Sebagai alternatif, dokter juga bisa menjaga alat tersebut di tempatnya untuk mengontrol gerak maju kepala bayi.

Perlu diketahui, persalinan dengan bantuan forceps tidak selalu berhasil. Bila bantuan dari alat tersebut tidak berhasil, dokter kandungan akan merekomendasikan operasi caesar untuk melahirkan.

Dokter mungkin juga merekomendasikan penggunaan cangkir yang terpasang pada pompa vakum untuk melahirkan bayi (ekstraksi vakum sebagai alternatif). Dokter kandungan akan menilai situasi persalinan ibu, dan membuat opsi  (forceps atau vakum) yang tepat sesuai kondisi ibu dan janin.

Risiko yang Bisa Terjadi Selama Prosedur

Meskipun bantuan dengan menggunakan forceps direkomendasikan saat persalinan vagina, tapi hal itu juga bisa menyebabkan risiko cedera bagi ibu dan bayi.

Beberapa risiko yang bisa terjadi pada ibu, antara lain:

  • Nyeri di perineum (jaringan antara vagina dan anus) setelah melahirkan.
  • Saluran kemih bagian bawah robek.
  • Kesulitan buang air kecil (BAK) atau mengosongkan kandung kemih.
  • Inkontinensia urine atau tinja (BAK atau buang air besar yang tidak bisa dikontrol) yang bisa berlangsung dalam jangka pendek maupun panjang.
  • Cedera pada kandung kemih atau uretra (tabung yang menghubungkan kandung kemih ke bagian luar tubuh).
  • Ruptur uteri, ketika dinding rahim robek yang membuat bayi atau plasenta bisa terdorong ke dalam rongga perut ibu.
  • Melemahnya otot dan ligamen yang menopang organ panggul, sehingga membuat organ panggul ibu turun lebih rendah di panggul (prolaps organ panggul).

Sebagian besar risiko di atas juga bisa terjadi pada persalinan vagina secara umum, tapi lebih mungkin terjadi pada persalinan forceps. Dokter kandungan mungkin juga harus melakukan episiotomi, sayatan jaringan antara vagina dan anus, sebelum menempatkan alat.

Sementara risiko persalinan forceps yang mungkin bisa terjadi pada bayi, antara lain:

  • Cedera wajah ringan karena tekanan forceps.
  • Kelemahan sementara pada otot-otot wajah (facial palsy).
  • Trauma mata eksternal ringan.
  • Patah tulang tengkorak.
  • Perdarahan di dalam tengkorak.
  • Kejang.

Tanda kecil di wajah bayi setelah melahirkan dengan bantuan forceps adalah normal dan bersifat sementara, sedangkan cedera serius pada bayi jarang terjadi.

Itulah penjelasan mengenai persalinan dengan bantuan forceps. Selama masa kehamilan, ibu juga perlu memeriksakan kesehatan secara berkala untuk mengetahui kondisi ibu dan bayi. 

Nah, bila ibu hamil ingin melakukan cek kesehatan, buat janji medis di rumah sakit pilihan ibu melalui aplikasi Halodoc saja. Yuk, download Halodoc sekarang juga di Apps Store dan Google Play untuk memudahkan ibu mendapatkan solusi kesehatan terlengkap.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Forceps delivery.
Tommy’s. Diakses pada 2022. Forceps or vacuum delivery (assisted birth)