Inilah Alasan Pelarangan Penggunaan Rokok Elektrik

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Inilah Alasan Pelarangan Penggunaan Rokok Elektrik

Halodoc, Jakarta – Meningkatnya angka korban kematian akibat rokok elektrik di Amerika Serikat membuat publik di berbagai belahan dunia heboh, tak terkecuali Indonesia. Bagaimana tidak? Pengguna rokok elektrik banyak yang menganggap bahwa rokok ini lebih aman dibanding kretek. Nyatanya, anggapan tersebut salah. 

Meski asap yang dihasilkan oleh rokok elektrik tidak seberbahaya rokok biasa, ada berbagai bahaya yang mengintai pengguna rokok elektrik. Berikut berbagai bahaya rokok elektrik bagi kesehatan, yang membuatnya dilarang untuk digunakan:

1. Merusak Paru-Paru

Aroma yang sedap merupakan salah satu kelebihan dari rokok elektrik, yang tidak ada pada kretek. Namun, justru hal ini berbahaya, lho. Aroma sedap pada rokok elektrik berasal dari zat bernama diasetil. Zat ini berbahaya, dan dapat memicu peradangan serta kerusakan paru-paru jika terhirup. 

Baca juga: Alasan Rokok Bisa Jadi Penyebab Kanker

Tak berhenti sampai di situ, diasetil juga ternyata dapat meningkatkan risiko penyakit paru-paru popcorn atau bronchiolitis obliterans. Ini merupakan penyakit paru-paru langka, yang membuat bronkiolus atau saluran napas terkecil dalam paru-paru, mengalami kerusakan yang bersifat permanen.

2. Memicu Kanker

Sama seperti kretek, rokok elektrik juga dapat meningkatkan risiko kanker pada penggunanya. Hal ini dikarenakan cairan yang digunakan dalam rokok elektrik memiliki kandungan formaldehida, yaitu sejenis zat yang dapat memicu kanker.

Bahayanya lagi, beberapa bahan dasar yang digunakan untuk membuat cairan rokok elektrik, seperti propilen glikol dan gliserol, dapat berubah juga menjadi formaldehida jika dipanaskan. Hal inilah yang membuat penggunaan rokok elektrik dapat meningkatkan risiko kanker, terutama kanker paru.

Baca juga: Sering Merokok Perlu Lakukan Rontgen Paru-Paru?

3. Meningkatkan Risiko Hipertensi, Diabetes, dan Penyakit Jantung

Siapa bilang rokok elektrik tidak mengandung nikotin? Meski berbeda bentuknya, cairan rokok elektrik nyatanya memiliki kandungan nikotin, lho. Dalam jangka panjang, konsumsi nikotin dapat menimbulkan berbagai efek berbahaya bagi tubuh, seperti misalnya hipertensi dan penyakit jantung. Selain itu, nikotin juga dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengidap diabetes tipe 2.

4. Meledak

Dipanaskan hingga bersuhu tinggi membuat rokok elektrik memiliki kemungkinan untuk meledak. Pada beberapa kasus, meledaknya rokok elektrik dapat terjadi karena terbakarnya alat di dalam rokok tersebut, karena baterai yang terlampau panas.

5. Menyebabkan Kecanduan

Banyak pengguna rokok kretek yang beralih ke rokok elektrik dengan anggapan bahwa rokok jenis ini lebih baik. Padahal, mereka ibarat “keluar dari kandang macan, masuk ke lubang buaya”. Sama seperti kretek, rokok elektrik juga dapat membuat penggunanya kecanduan. 

Seperti yang diketahui, kecanduan merupakan hal yang negatif, pada apapun itu. Pada rokok elektrik, kecanduan dapat mengakibatkan penggunanya mengalami stres, gelisah, mudah marah, dan sulit tidur, ketika berhenti menggunakannya.

Jadi, jika kamu saat ini sedang menggunakan rokok elektrik, sebaiknya pertimbangkanlah untuk berhenti sebelum benar-benar kecanduan. Sulit memang menghentikan sebuah kebiasaan, tetapi jika kamu membutuhkan tips dan saran dari dokter, kamu bisa gunakan aplikasi Halodoc. Sebab, konsultasi dengan dokter dapat dengan mudah dilakukan lewat chat, kapan dan di mana saja. Sudah download aplikasinya, belum?

Baca juga: 7 Kiat Berhenti Merokok

6. Menurunkan Daya Ingat

Saat ini, rokok elektrik sedang sangat populer di kalangan remaja dan dewasa muda (usia 20an). Hal ini tentu perlu diwaspadai, mengingat rokok elektrik dapat menyebabkan pemakainya kecanduan. Jadi kemungkinan besar, remaja yang telah mencoba rokok elektrik akan terus menggunakannya hingga tua nanti.

Lalu, adakah bahayanya jika rokok elektrik digunakan dalam jangka panjang? Tentu saja, ada. Kandungan nikotin dalam rokok elektrik yang digunakan selama bertahun-tahun dapat secara perlahan menurunkan daya ingat dan konsentrasi. Jika sang pengguna juga menggunakan rokok biasa atau memiliki kebiasaan buruk lain seperi mengonsumsi alkohol dan narkoba, efeknya dapat lebih buruk lagi.

Referensi:
American Lung Association. Diakses pada 2019. What's in an E-Cigarette?
Cancer Research UK. Diakses pada 2019. E-cigarette Safety.
WebMD. Diakses pada 2019. The Vape Debate: What You Need to Know.