• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Cara Tepat Menghitung Siklus Menstruasi

Inilah Cara Tepat Menghitung Siklus Menstruasi

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Pada wanita normal, menstruasi pasti terjadi setiap bulannya. Siklus terjadinya menstruasi pada setiap wanita dapat berbeda-beda, sehingga penting untuk mengetahui setiap berapa lama mengalaminya. Hal ini juga dapat digunakan untuk menghitung masa subur pada pasangan yang sedang menjalankan program kehamilan. Nah, berikut beberapa cara tepat untuk menghitungnya!

Cara Menghitung Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi adalah bagian dari cara tubuh untuk mempersiapkan kemungkinan kehamilan setiap bulannya. Hal ini sangat penting untuk dipahami oleh setiap wanita terkait proses terjadinya, karena dapat membantu untuk mendorong terjadinya kehamilan atau malah menghindarinya. Selain itu, mengetahui siklus bulanan ini juga membuat kamu mengetahui jika kemungkinan ada masalah apabila tidak berjalan semestinya.

Baca juga: Siklus Menstruasi Tidak Normal, Kapan Harus ke Dokter?

Menstruasi timbul saat kehamilan tidak terjadi, tubuh menyebabkan peluruhan pada dinding rahim sehingga menghasilkan perdarahan. Keluarnya darah dari organ intim dapat berlangsung selama 3–8 hari. Pada kebanyakan wanita, menstruasi terjadi dalam pola yang cukup teratur dan dapat diprediksi. Lama siklus menstruasi terhitung dari hari pertama haid hingga terjadi kembali berada di kisaran antara 21–35 hari.

Lalu, bagaimana cara menghitung siklus menstruasi yang tepat?

Untuk menghitung pola menstruasi setiap bulannya, beberapa hal yang perlu dicatat adalah hari pertama terjadinya haid setiap bulannya. Setelah itu, kamu juga harus menghitung hari pertama haid yang saat ini terjadi dengan hari pertama pada haid di bulan berikutnya.

Jika kamu mencatat jika haid sebelumnya terjadi pada 30 Januari dan hari pertama di bulan selanjutnya terjadi pada 23 Februari, maka siklus menstruasi pada tubuh kamu selama 25 hari. Patokan ini dapat membuat kamu memperhitungkan terjadinya menstruasi di bulan-bulan berikutnya. Namun, siklus tersebut juga dapat berubah setiap bulannya dan terbilang normal asalkan masih di rentang antara 21 hari hingga 35 hari.

Selain siklus terjadinya menstruasi, kamu juga harus mencatat aliran darah yang keluar, rasa sakit yang dirasakan, hingga gejala lainnya, seperti perut kembung atau nyeri pada payudara. Perubahan suasana hati atau perilaku yang terjadi juga perlu dicatat. Dari segala pola yang terjadi, kamu dapat mengidentifikasi apabila terjadi masalah yang berhubungan dengan sistem reproduksi.

Baca juga: Inilah 4 Fase yang Terjadi saat Menstruasi

Apabila kamu merasakan ada yang tidak wajar dari siklus menstruasi setiap bulannya, pemeriksaan dengan dokter ahli di rumah sakit mungkin perlu dilakukan. Dengan pemesanan melalui aplikasi Halodoc, kamu bisa memilih spesialis dari rumah sakit pilihan dengan menyesuaikan waktu yang lowong. Maka dari itu, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Lalu, setelah perdarahan selesai, kamu dapat mengalami beberapa fase pada tubuh, antara lain:

  • Fase Folikuler

Fase ini dimulai dengan menstruasi dan berakhir sebelum sel telur dilepaskan dari ovarium. Selama waktu ini, otak dapat mengirimkan sinyal ke tubuh untuk menghasilkan hormon perangsang folikel. Ovarium dapat menghasilkan antara 5 hingga 20 folikel yang mengandung sel telur yang belum matang.

  • Fase Ovulasi

Ovulasi biasanya terjadi antara hari ke-10 hingga 14 dari siklus menstruasi. Peningkatan estrogen mendorong tubuh untuk memproduksi hormon luteinizing. Hal ini dapat memicu pelepasan sel telur matang yang berguna untuk pembuahan potensial. Telur dilepaskan ke tuba falopi dan akan bertahan selama kurang lebih 24 jam. Jika tidak mendapatkan pembuahan, sel telur akan keluar melalui aliran darah menstruasi.

  • Fase Luteal

Pada momen ini dimulai setelah ovulasi dan diakhiri dengan hari pertama menstruasi yang berlangsung sekitar 12 hingga 15 hari. Di fase ini, tubuh memproduksi progesteron yang menyebabkan lapisan rahim menebal sebagai persiapan untuk kehamilan. Jika kehamilan tidak terjadi, kadar progesteron akan turun dan menyebabkan lapisan rahim terlepas yang menandakan siklus menstruasi baru.

Baca juga: Wanita Harus Tahu, Ini 3 Fase Menstruasi Tiap Bulannya

Itulah pembahasan mengenai siklus menstruasi yang perlu setiap wanita ketahui. Penting untuk selalu mencatat jadwal menstruasi tiap bulannya, terutama jika kamu sedang dalam program kehamilan. Peningkatan kemungkinan terjadinya pembuahan dapat terjadi jika dilakukan dalam fase yang tepat.

Referensi:
Your Period. Diakses pada 2021. Understanding how menstruation works can help you understand how your own cycle works.
Healthline. Diakses pada 2021. How Many Days Typically Pass Between Menstrual Periods?