• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Fase Tantrum pada Balita yang Harus Diketahui

Inilah Fase Tantrum pada Balita yang Harus Diketahui

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
undefined

Halodoc, Jakarta - Pernah melihat Si Kecil tiba-tiba merengek, menangis, berteriak, hingga berguling-guling ketika permintaannya tak dipenuhi? Kira-kira kenapa ya sebagian anak kecil sering mengalami tantrum seperti itu? 

Sudah tak asing kan dengan masalah ini? Tantrum merupakan ekspresi frustasi yang diungkapkan anak ketika mereka menghadapi tantangan di waktu tertentu. Nah, frustasi inilah yang kemudian memicu kemarahan yang disebut tantrum. 

Dalam kebanyakan kasus, anak-anak lebih mudah mengalami tantrum ketika mereka sedang lelah, lapar, haus, atau mengantuk. Menyoal tantrum ini ada beberapa fase yang sebaiknya ibu ketahui.

Nah, berikut fase tantrum pada balita. 

Baca juga: Mengenal 2 Jenis Tantrum pada Anak

1.Penolakan

Fase tantrum pada balita umumnya dimulai dengan penolakan. Ketika anak tak mendapatkan keinginannya, mereka cenderung akan mengabaikan permintaan orangtua. Bahkan, tak jarang mereka akan mengabaikan atau tak mendengarkan perkataan orangtua, tak mau menatap, atau malah berlari meninggalkan orangtua.

2.Kemarahan

Fase penolakan biasanya akan berakhir ketika orangtua berhasil mengoreksi atau memberikan penjelasan pada anak mengenai perilakunya. Namun, bila anak tak dapat mengerti penjelasan ibu, maka fase tantrum pada balita akan masuk ke fase kemarahan. 

Nah, di saat inilah anak akan meluapkan kemarahannya. Bentuk kemarahan di sini bisa bermacam-macam, mulai dari tangisan teriakan, berguling-guling di lantai, hingga memukuli diri sendiri. Ekspresi ini menyampaikan betapa marahnya Si Kecil pada ibu.

3.Tawar-menawar

Fase tantrum yang satu ini terbilang menarik. Pasalnya, anak akan mencari cara kreatif sebagai bahan tawar-menawar. Contohnya, “Kalau aku sudah (mandi, membereskan mainan, dan lain-lain.) apa aku boleh makan ice cream?”. Nah, bila ibu memberikan jawaban yang tak memuaskan, maka anak akan mencobanya lagi. Mereka baru akan berhenti ketika sadar usahanya tak akan membuahkan hasil.

Baca juga: Ini Penyebab Anak Suka Marah-Marah

4.Depresi

Fase tantrum pada balita yang satu ini, boleh dibilang paling menantang, atau bahkan menyebalkan. Di fase ini, anak akan memperlihatkan tangisan palsu. Nah, kondisi inilah yang membuat sebagian orangtua merasa bersalah. Padahal, anak hanya berpura-pura demi mendapatkan keinginannya. Boleh dibilang, cara ini dilakukan untuk memutarbalikan keadaan demi menaklukan kita.

5.Pasrah

Di fase ini anak akan menyerah, mengeringkan air matanya, dan meninggal orangtua. Di sini anak seolah-olah menyerah, padahal mereka sedang memikirkan cara lain untuk mendapatkan keinginannya.

Duh, ada-ada saja ya? Hmm, namanya juga anak-anak, wajar bukan? 

Sebenarnya mengendalikan tantrum pada anak memang gampang-gampang susah. Hal yang perlu ditegaskan, jangan sampai ibu justru meluapkan emosinya, marah, dan kebablasan. Pasalnya, di sini ibu harus memastikan keadaan emosi kita jauh lebih tenang daripada anak. Dengan begitu, anak bisa lebih mudah untuk belajar mengatur emosinya. 

Ingat, selalu menuruti keinginan anak ketika tantrum, bisa menimbulkan dampak negatif. Sebab, mereka akan mengulangi cara tersebut di kemudian hari untuk mendapatkan keinginannya. Nah, bila dibiarkan terus-menerus, maka hal ini bisa menjadi kebiasaan buruk bagi Si Kecil. 

Mau tahu lebih jauh mengenai tantrum pada anak? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter atau psikolog melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
Huffington Post. Diakses pada 2020. The 5 Stages Of A Toddler Tantrum
Kids Health, from Nemours Foundation. Diakses pada 2020. For Parents. Temper Tantrums Onderko, P. 
Web MD. Diakses pada 2020. Parenting, Guide, How to Handle a Temper Tantrum