• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Fungsi Vulva dalam Sistem Reproduksi Wanita

Inilah Fungsi Vulva dalam Sistem Reproduksi Wanita

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Inilah Fungsi Vulva dalam Sistem Reproduksi Wanita

“Bagian luar anatomi reproduksi wanita, vulva—juga dikenal sebagai pudendum—melindungi organ seksual, uretra, vestibulum, dan vagina. Bagian dalam dan luarnya dikenal sebagai labia mayora dan labia minora.”

Halodoc, Jakarta – Sama seperti bagian tubuh lainnya, organ ini juga dapat mengalami berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker vulva, infeksi bakteri hingga penyakit menular seksual. Artinya, sangat penting memahami bagaimana bagian tubuh ini bekerja dan terhubung dengan aspek kesehatan secara keseluruhan.

Baca juga: Gejala Awal Kanker Vulva yang Harus Diwaspadai

Fungsi Vulva dalam Sistem Reproduksi

Vulva terutama terkait dengan fungsi seksual. Selain terlibat langsung selama hubungan seksual, vulva juga memproduksi hormon dan berperan sebagai pelindung jalur reproduksi sekaligus terlibat dalam ekskresi urine. Bagian ini berfungsi untuk menampung uretra yang mengeluarkan urine dari kandung kemih keluar dari tubuh.

Selama aktivitas seksual, beberapa bagian mengalami perubahan warna menjadi kemerahan, termasuk labia minora dan mayora, klitoris, dan bulbus vestibular. Hal  ini mengubah bentuk vagina, merangsang kenikmatan seksual, dan berfungsi untuk meningkatkan pelumasan saat hubungan intim. 

Tak hanya itu, perubahan fisiologis ini juga bekerja untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya pembuahan. Lalu, vulva juga mengeluarkan hormon yang nantinya akan bertemu dengan sperma dan disimpan di vagina untuk memungkinkan kesempatan proses pembuahan.

Baca juga: 3 Pilihan Pengobatan untuk Menangani Kanker Vulva

Berbagai Masalah Kesehatan yang Rentan Terjadi

Banyak penyakit yang dapat berdampak pada vulva, tetapi sebagian besar kasusnya disebabkan oleh infeksi menular seksual, termasuk:

  • Klamidia. Kondisi medis ini terjadi karena infeksi bakteri akibat kontak seksual. Meski bisa bersifat asimtomatik, tetapi penyakit ini juga dapat menyebabkan keluarnya cairan yang diikuti dengan rasa terbakar, nyeri, dan peradangan di uretra serta leher rahim. Jika tidak diobati, klamidia dapat mengakibatkan penyakit radang panggul yang berujung pada ketidaknyamanan, kehamilan ektopik, atau infertilitas pada wanita.  Biasanya, pengobatan melibatkan penggunaan antibiotik.
  • Gonore. Sering terjadi bersama klamidia, gonore disebabkan karena infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Gejalanya juga mirip, termasuk keluarnya cairan, peradangan, nyeri di leher rahim dan uretra, serta risiko terkena penyakit radang panggul. Penanganannya juga menggunakan antibiotik.
  • Sifilis. Terjadi akibat infeksi bakteri Treponema pallidum. Walaupun awalnya sering tanpa gejala, pengidap bisa merasakan demam, ruam dan luka pada kulit, lesi genital (mirip dengan kutil), serta peradangan dan pembengkakan kelenjar getah bening. Jika tidak segera diobati, sangat mungkin terjadi komplikasi berupa lesi di otak dan berbagai gejala neurologis lainnya.  Antibiotik digunakan untuk mengobati kondisi ini.
  • Herpes simpleks 1 dan 2. Dikenal pula sebagai herpes genital, kondisi ini menyebabkan pembentukan lesi pada vulva. Sayangnya, masalah kesehatan ini tidak dapat disembuhkan, gejalanya pun timbul dan menghilang. Namun, pengobatan yang tepat bisa mengurangi keparahan kondisinya.
  • Human Papillomavirus (HPV). HPV terlihat jelas sebagai lesi berbentuk seperti kembang kol di vulva atau daerah genital. Ini muncul karena infeksi virus, dan biasanya sembuh dengan sendirinya. Namun, dalam beberapa kasus, kutil menjadi kronis dan dapat menyebabkan kanker.
  • Human Immunodeficiency Virus (HIV): Infeksi virus ini pada awalnya tidak menunjukkan gejala tetapi dapat menjadi sangat berbahaya. Pasalnya, penyakit ini menyerang aspek penting dari sistem kekebalan dan membahayakan fungsi kekebalan. Jika berlanjut, HIV akan berkembang menjadi AIDS, suatu kondisi yang ditandai dengan adanya infeksi oportunistik lainnya, yang banyak di antaranya berdampak pada vulva. Belum ada obat untuk HIV, tetapi terapi yang tepat dapat mencegah virus tersebut.

Baca juga: 4 Fakta tentang Vulva yang Harus Dipahami oleh Wanita

Oleh karena itulah, kamu perlu menjaga kebersihan dan kesehatan vulva. Jika merasakan adanya gejala seperti yang disebutkan tadi, segera periksakan diri ke dokter. Sekarang tidak sulit lagi kok, kamu bisa pakai aplikasi Halodoc di mana saja dan kapan saja. Tinggal download saja aplikasi Halodoc di ponselmu. Tanya dokter, beli obat, hingga buat janji di rumah sakit bisa!

Referensi:

Verywell Health. Diakses pada 2021. The Anatomy of the Vulva.