• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Inilah Penyakit yang Bisa Sebabkan Sindrom Nefrotik Sekunder

Inilah Penyakit yang Bisa Sebabkan Sindrom Nefrotik Sekunder

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Inilah Penyakit yang Bisa Sebabkan Sindrom Nefrotik Sekunder

Halodoc, Jakarta - Sindrom nefrotik mengacu pada kumpulan gejala yang menandakan adanya masalah pada organ ginjal. Akibatnya, kadar protein di dalam urine akan mengalami peningkatan karena terjadi kebocoran pada glomerulus yang bertugas sebagai penyaring darah. Sindrom ini bisa terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak.

Selain albuminuria atau meningkatnya jumlah protein dalam urine, sindrom nefrotik memiliki beberapa gejala lain, seperti:

  • Hiperlipidemia atau jumlah lemak dan kolesterol dalam darah yang tinggi.
  • Edema, pembengkakan yang biasanya terjadi pada bagian tangan, kaki, atau wajah.
  • Hipoalbuminemia, jumlah protein dalam darah terbilang rendah.

Albumin sendiri merupakan protein yang sifatnya seperti spons karena bisa menyerap air yang berlebih di dalam tubuh, lalu membawanya bersama aliran darah menuju ke ginjal untuk dikeluarkan. Namun, ketika albumin terekskresikan secara berlebihan dalam urine, maka tubuh menjadi kehilangan kemampuannya untuk menyerap kelebihan air yang ada di tubuh, sehingga terjadilah edema.

Baca juga: Alami Hipoalbuminemia, Tubuh akan Alami Hal Ini

Berbagai Kondisi Medis yang Sebabkan Sindrom Nefrotik Sekunder

Sindrom nefrotik terbagi menjadi dua, yaitu primer dan sekunder. Sindrom nefrotik primer terjadi karena penyakit yang hanya menyerang ginjal. Sementara itu, sindrom nefrotik sekunder terjadi karena ada penyakit lain yang terjadi di luar ginjal, tetapi berdampak pada organ penting ini, seperti:

  • Penyakit ginjal diabetik. Salah satunya adalah diabetes yang bisa memicu terjadinya neuropati diabetik atau kerusakan pada ginjal karena diabetes.
  • Minimal change disease, penyebab paling umum sindrom nefrotik pada anak. Gangguan kesehatan ini menyebabkan fungsi ginjal menjadi tidak normal, tetapi apa yang mendasarinya masih belum diketahui.
  • Nefropati membranosa, kelainan pada ginjal karena penebalan membran glomerulus. Seringnya disebabkan karena kondisi medis lain, seperti malaria, kanker, lupus, atau hepatitis b.
  • Pembekuan darah pada pembuluh darah vena di ginjal atau disebut juga trombosis vena ginjal. Gangguan kesehatan ini terjadi karena darah membeku dan terjebak dalam pembuluh vena di ginjal.
  • Sistemik lupus eritematosus, peradangan kronis yang bisa mengakibatkan kerusakan pada organ ginjal.
  • Glomerulosklerosis fokal segmental, yang ditandai dengan munculnya bekas luka atau jaringan parut pada bagian glomerulus, sehingga terjadi kekakuan atau pengerasan pada pembuluh darah glomerulus. Kondisi ini terjadi karena adanya masalah kesehatan lain, kelainan genetik, atau terjadi tanpa sebab.

Baca juga: Urine Berbuih Benarkah Jadi Pertanda Sindrom Nefrotik?

Gejala dari sindrom nefrotik sendiri, termasuk mual, diare, lesu, letih, nafsu makan berkurang, urine berbusa karena protein berlebih dan peningkatan berat badan karena terjadi penumpukan cairan. Jika kamu mengalami salah satu gejala ini, segera lakukan pengobatan di rumah sakit terdekat. Pakai aplikasi Halodoc guna memudahkan kamu membuat janji di rumah sakit atau bertanya jawab dengan dokter. 

Mengetahui Komplikasi dari Sindrom Nefrotik

Tanpa adanya penanganan, sindrom nefrotik bisa berujung pada komplikasi yang lebih serius dan membahayakan. Gangguan pada ginjal bisa menyebabkan hipertensi, sedangkan banyaknya protein yang terbuang dalam urine dapat mengakibatkan terjadinya malnutrisi. Komplikasi lain termasuk meningkatnya kadar kolesterol dalam darah, tubuh rentan terserang infeksi karena antibodi yang ikut terbuang bersama urine, hingga gagal ginjal kronis.

Sayangnya, mencegah terjadinya sindrom nefrotik terbilang hal yang tidak mudah dilakukan karena belum diketahui pasti apa yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan ini. Namun, jika terjadi karena masalah medis lain, salah satu cara pencegahan adalah menjalani pengobatan guna menyembuhkan gangguan tersebut.



Referensi: 
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Nephrotic Syndrome.
American Kidney Fund. Diakses pada 2020. Nephrotic Syndrome.