Inilah Tujuan Melakukan Laparoskopi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Inilah Tujuan Melakukan Laparoskopi

Halodoc, Jakarta – Disebut juga sebagai operasi lubang kunci, laparoskopi merupakan prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil pada dinding perut. Alat bantu yang digunakan dalam prosedur ini adalah serupa tabung tipis bernama laparoskop, yang dilengkapi dengan kamera dan cahaya di bagian ujungnya. 

Laparoskopi umumnya dilakukan untuk keperluan diagnosis atau pengobatan Melalui prosedur ini, dokter akan melihat berbagai kelainan yang terjadi, seperti infeksi, kista fibroid, atau perlengketan dalam organ perut dan panggul. Selain itu, prosedur laparoskopi juga bisa dilakukan untuk mengambil sampel jaringan dalam pemeriksaan biopsi.

Baca juga: Inilah yang Dimaksud dengan Laparoskopi

Lebih lanjut, tujuan dilakukannya tindakan laparoskopi yang dapat dipertimbangkan dokter adalah:

  • Memeriksa atau mengatasi pertumbuhan tumor dalam perut atau panggul.
  • Mengatasi endometriosis, kehamilan ektopik, atau penyakit radang panggul.
  • Mengetahui penyebab munculnya rasa sakit di bagian panggul.
  • Mengambil sampel jaringan untuk pemeriksaan biopsi.
  • Melakukan ligasi tuba, atau operasi pada tuba falopi.
  • Mengobati hernia hiatus atau hernia inguinalis.
  • Memeriksa kemungkinan adanya kista, perlengketan, fibroid, atau infeksi pada organ reproduksi yang menyebabkan wanita sulit hamil.
  • Mengeluarkan organ tubuh yang bermasalah seperti rahim, limpa, kantung empedu, ovarium, atau usus buntu.

Perlu diketahui bahwa laparoskopi tidak dianjurkan pada orang yang mengidap kanker atau hernia pada bagian perut, atau pernah menjalani operasi pada bagian itu sebelumnya. Pasien harus mengikuti instruksi yang diberikan dokter terkait kapan harus puasa sebelum tindakan, dan jadwal konsumsi obat-obatan.

Jika kamu ingin tahu lebih lanjut tentang prosedur laparoskopi, kamu bisa download aplikasi Halodoc dan tanyakan pada dokter lewat chat. Perlu atau tidaknya kamu menjalani laparoskopi akan bergantung pada kondisi dan gejala yang dialami. Jika dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit dan kemungkinan perlu dilakukan laparoskopi, kamu bisa buat janji dengan dokter di rumah sakit terlebih dahulu, agar tidak perlu lama mengantri lagi.

Baca juga: Kelebihan Prosedur Bedah Laparoskopi yang Perlu Diketahui

Bagaimana Prosedur Laparoskopi Dilakukan?

Prosedur laparoskopi diawali dengan pembuatan sayatan kecil pada dinding perut, untuk jalan masuk alat (laparoskop). Setelah membuat sayatan, dokter akan memasukkan gas ke dalam perut dengan bantuan alat semacam jarum berongga pada bagian tengahnya. Gas tersebut berguna untuk memompa agar dinding perut terangkat dan menjauhi organ-organ di dalamnya.

Selanjutnya, dokter akan menggunakan laparoskop dan beberapa peralatan lain untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi, mengangkat tumor, atau mengambil sampel jaringan. Pada beberapa kasus, laser sering ditempelkan pada laparoskop untuk membantu prosedur operasi.

Kemudian setelah operasi selesai, laparoskop akan ditarik keluar dan gas yang tadi dipompa akan dikeluarkan dari dalam perut. Sayatan yang dibuat pun akan ditutup dengan jahitan dan dibalut perban. Setelah itu, pasien akan menjalani pemulihan singkat di ruang rawat selama 2-4 jam. Tekanan darah, suhu tubuh, kadar oksigen, dan irama jantung akan diawasi oleh dokter pada masa pemulihan ini. 

Jika kondisi pasien dinilai sudah stabil, dokter akan mengizinkan pasien untuk pulang dan beraktivitas seperti biasanya. Guna mempercepat penyembuhan luka, dokter akan menyarankan pasien untuk menghindari aktivitas berat selama seminggu setelah operasi.

Baca juga: Yang Perlu Diperhatikan Jika Mengatasi Kista dengan Laparoskopi

Efek Samping yang Mungkin Ditimbulkan Laparoskopi

Laparoskopi sebenarnya termasuk prosedur yang relatif aman. Namun, prosedur ini tetap memiliki risiko efek samping. Pada beberapa kasus yang terbilang jarang, pasien yang menjalani laparoskopi dapat mengalami komplikasi ringan seperti mual, muntah, memar, dan infeksi. 

Selain efek samping ringan tersebut, ada juga beberapa komplikasi lain yang dapat terjadi setelah menjalani prosedur laparoskopi, yaitu:

  • Kerusakan pembuluh nadi besar.
  • Reaksi alergi serius akibat obat bius.
  • Penggumpalan dalam pembuluh darah.
  • Kerusakan organ, seperti usus atau kandung kemih.
  • Masuknya karbondioksida ke dalam pembuluh darah, sebagai efek samping dari penggunaan gas.

Referensi:
MedicineNet. Diakses pada 2019. Digestive Diseases: Laparoscopic Surgery and Hand-Assisted Laparoscopic Surgery.
WebMD. Diakses pada 2019. What Is Laparoscopic Surgery?