• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jangan Berikan Vaksin pada Anak dengan 5 Kondisi Ini

Jangan Berikan Vaksin pada Anak dengan 5 Kondisi Ini

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli
Jangan Berikan Vaksin pada Anak dengan 5 Kondisi Ini

“Vaksin sejatinya penting diberikan pada anak guna melindungi tubuh Si Kecil dari ancaman berbagai macam penyakit, termasuk infeksi virus corona. Namun pada kondisi tertentu, pemberian vaksin sebaiknya ditunda. Lantas, kondisi apa yang diharuskan untuk menunda vaksinasi?”

Halodoc, Jakarta – Melalui Kementerian Kesehatan, pemerintah mencanangkan bahwa anak-anak berusia di atas 12 tahun sudah bisa mendapatkan vaksin COVID-19. Hal tersebut dituliskan dalam Surat Edaran nomor HK.02.02/I/1727/2021 tentang Vaksinasi Tahap 3 bagi Masyarakat Rentan, Masyarakat Umum Lainnya, dan Anak Usia 12-17 tahun. Tujuannya adalah, memperluas cakupan vaksinasi, serta memberikan kekebalan tubuh pada anak yang dinilai rentan terinfeksi.

Baca juga: 4 Kondisi Terjadi pada Anak yang Alami Stunting

Tunda Vaksin COVID-19 pada Anak Jika Mengalami Kondisi Ini

Anak yang sakit dalam intensitas ringan masih diperbolehkan melakukan vaksinasi. Alasannya, sakit yang dialami tidak akan memengaruhi respons tubuh terhadap kandungan vaksin. Pemberian vaksin bisa dibilang sama efektifnya jika diberikan pada anak yang sehat. Anak dengan masalah kesehatan berikut ini masih boleh melakukan vaksinasi:

  • Demam kurang dari 38 derajat Celsius.
  • Otitis media atau infeksi telinga.
  • Diare dalam kasus ringan.
  • Batuk atau pilek.
  • Mengonsumsi obat jenis antibiotik.

Baca juga: Normalkah Anak Alami Tantrum? Ketahui 4 Faktanya

Banyak orang beranggapan jika vaksin pada anak yang sakit harus ditunda terlebih dulu. Anggapan tersebut memang tidak ada salahnya. Namun, ibu perlu mengenali dulu jenis penyakit yang dialami Si Kecil. Sah-sah saja vaksinasi dilakukan jika anak mengalami sakit yang tergolong ringan dengan ciri yang telah disebutkan. Namun, jika anak mengalami sejumlah kondisi berikut ini, sebaiknya tunda vaksinasi hingga ia benar-benar sembuh.

1. Reaksi Alergi

Jika anak pernah mengalami reaksi alergi setelah vaksinasi, sebaiknya tunda pemberiannya. Reaksi alergi ditandai dengan pilek, ruam kulit yang gatal, bahkan sesak napas, yang biasanya terjadi sesaat setelah vaksin dilakukan. Mengenai kapan waktu yang tepat untuk melakukan vaksin COVID-19 pada anak, ibu bisa diskusikan langsung dengan dokter.

2. Menurunnya Sistem Imun Tubuh

Menurunnya sistem imun tubuh disebabkan oleh prosedur pengobatan tertentu, seperti kemoterapi. Meski sah-sah saja jika diberikan, kandungan di dalam vaksin tidak dapat bekerja optimal seperti diberikan pada anak yang sehat. Alih-alih bekerja secara optimal, prosedur vaksinasi yang dilakukan justru bisa saja memicu gangguan kesehatan tertentu.

3. Mengidap Sakit Kronis

Jika anak mengidap sakit kronis seperti kanker, sebaiknya jangan lakukan vaksinasi. Hal tersebut dikarenakan, reaksi tubuh pasca vaksinasi dapat mempersulit diagnosis dokter dan penanganan terhadap penyakit tersebut. Gejala kanker yang muncul pada pengidap sakit kronis bisa saja dianggap sebagai reaksi tubuh yang biasa terjadi pasca vaksinasi.

4. Mengalami Kondisi Gawat Darurat Medis

Jika dalam kurun waktu 7 hari anak mengalami kondisi gawat darurat medis, seperti sesak napas, kejang-kejang, pingsan, jantung berdebar, pendarahan, kenaikan tekanan darah, atau tremor hebat, maka vaksinasi sebaiknya ditunda terlebih dulu. Disarankan untuk fokus saja pada pengobatan anak hingga ia benar-benar sehat. Kemudian, vaksin COVID-19 dapat segera dilakukan.

5. Demam Tinggi

Jika anak yang mengalami demam di bawah 38 derajat Celsius masih boleh menerima vaksinasi, sebaiknya tunda pada anak dengan demam di atas 38 derajat Celcius. Sama halnya dengan anak pengidap penyakit kanker, hal tersebut akan membuat dokter keliru dan menganggap demam sebagai reaksi tubuh yang biasa terjadi pasca vaksinasi.

Anjuran dari IDAI

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksinasi COVID-19 pada anak 12-17 tahun dapat menggunakan vaksin inactivated buatan Sinovac karena sudah teruji di Indonesia.  Hal yang perlu ditegaskan, ada beberapa kontraindikasi vaksin COVID-19 pada anak dengan: 

  1. Defisiensi imun primer, penyakit autoimun tidak terkontrol
  2. Penyakit Sindrom Guillain Barre, mielitis transversa, acute demyelinating encephalomyelitis.
  3. Anak kanker yang sedang menjalani kemoterapi/radioterapi.
  4. Sedang mendapat pengobatan imunosupresan/sitostatika berat.
  5. Demam 37,5 derajat Celsius atau lebih. 
  6. Sembuh dari COVID-19 kurang dari 3 bulan. 
  7. Pasca imunisasi lain kurang dari 1 bulan. 
  8. Hamil.
  9. Hipertensi tidak terkendali. 
  10. Diabetes melitus tidak terkendali. 
  11. Penyakit-penyakit kronik atau kelainan kongenital tidak terkendali.

Baca juga: Ajarkan Anak Mandiri dengan 7 Cara Ini

Intinya, orangtua disarankan untuk memastikan jika anak yang ingin melakukan vaksinasi benar-benar dalam keadaan sehat. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, serta meningkatkan efektivitas vaksin yang diberikan. Untuk selengkapnya mengenai vaksin COVID-19 yang diberikan pada anak, ibu bisa bertanya langsung seputar hal tersebut dengan dokter di aplikasi Halodoc.

Referensi:

Detik. Diakses pada 2021. Tunda Vaksinasi Anak Jika Alami Kondisi Berikut Ini.
Centers for Diagnosis Control and Prevention. Diakses pada 2021. Vaccines When Your Child Is Sick.
Baby Center. Diakses pada 2021. Should Immunizations Be Postponed If My Child Is Sick?
IDAI. Diakses pada 2021. Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Terkait Pemberian Vaksin COVID-19 pada Anak dan Remaja