• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Jangan Diabaikan, Gangguan Kepribadian Ambang Bisa Picu ADHD

Jangan Diabaikan, Gangguan Kepribadian Ambang Bisa Picu ADHD

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Anak yang mengalami gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder (BPD) memiliki suasana hati dan citra diri yang berubah-ubah, serta perilaku yang impulsif. Mereka memiliki cara berpikir dan perasaan yang berbeda dibanding orang pada umumnya. Akibatnya, gangguan mental ini membuat pengidapnya sulit menjalin hubungan baik dengan orang lain dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Tentunya, gangguan kepribadian ambang tidak boleh diabaikan. Jika tidak mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, gangguan kepribadian ambang berisiko menimbulkan gangguan lainnya. Salah satunya adalah ADHD atau attention deficit and personality disorder. Selain ADHD pada anak, gangguan kepribadian ambang yang tidak ditangani bisa memicu depresi, penyalahgunaan alkohol, dan gangguan mental lainnya.

Baca juga: Insomnia Bisa Buat Borderline Personality Disorder Makin Parah

Kenali Gejala Gangguan Kepribadian Ambang

Gejala gangguan kepribadian ambang biasanya terjadi pada usia remaja hingga dewasa. Secara garis besar, gejala gangguan kepribadian ambang digolongkan menjadi empat bagian, yaitu:

  • Ketidakstabilan mood atau suasana hati. Hal ini biasanya muncul dan bertahan selama beberapa jam. Pengidapnya merasa seperti hampa atau kosong, serta kesulitan mengendalikan amarah.
  • Gangguan pola pikir. Misalnya ditandai dengan tiba-tiba ada pemikiran bahwa diri sendiri sangat buruk, serta perasaan takut diabaikan. Hal ini membuat pengidap melakukan perbuatan yang ekstrem.
  • Perilaku impulsif yang membahayakan. Misalnya melukai diri sendiri, mencoba bunuh diri, melakukan hubungan seks tanpa pengaman, penyalahgunaan alkohol, atau makan berlebihan.
  • Menjalin hubungan yang tidak stabil. Misalnya, ditandai dengan bisa sangat mengidolakan seseorang, lalu tiba-tiba menganggap orang tersebut kejam dan membencinya.

Baca juga: 4 Faktor Risiko pada Remaja yang Bisa Terkena Borderline Personality Disorder

Meski begitu, gejala gangguan kepribadian ambang bisa bervariasi dan tidak semua pengidap mengalami seluruh gejala tersebut. Pada beberapa kasus, bisa juga hanya terjadi beberapa gejala. Selain itu, tingkat keparahan, frekuensi, serta durasi terjadinya gejala pada setiap pengidap juga berbeda-beda.

Jika kamu atau orang terdekat ada yang mengalami gejala gangguan kepribadian ambang seperti yang sudah dijelaskan tadi, segera download aplikasi Halodoc untuk membicarakannya pada psikolog, kapan dan di mana saja. Semakin cepat gangguan kepribadian ambang dikenali dan ditangani, maka akan semakin baik. 

Apa Penyebab Gangguan Kepribadian Ambang?

Sebenarnya, penyebab pasti dari gangguan kepribadian ambang belum diketahui dengan jelas. Namun, ada beberapa faktor yang diduga bisa memicu terjadinya gangguan ini, yaitu:

  • Faktor genetik. Gangguan kepribadian diduga dapat diturunkan secara genetik.
  • Faktor lingkungan. Misalnya, riwayat pelecehan dan penyiksaan atau ditinggalkan oleh orangtua semasa kecil.
  • Kelainan pada struktur dan otak. Pengidap gangguan kepribadian cenderung memiliki perubahan struktur dan fungsi pada otak, terutama pada area yang mengatur impuls dan emosi. Selain itu, pengidap gangguan kepribadian ambang juga diduga memiliki kelainan fungsi dari zat kimia otak atau neurotransmitter, yang berperan dalam pengaturan emosi.
  • Memiliki ciri kepribadian tertentu. Beberapa orang yang memiliki ciri kepribadian agresif dan impulsif, lebih berisiko untuk mengalami gangguan kepribadian ambang.

Baca juga: Ini yang Terjadi pada Pengidap Borderline Personality Disorder

Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kepribadian ambang. Namun, bukan berarti seseorang pasti akan mengalami gangguan ini jika memiliki faktor risiko tersebut. Bahkan, gangguan kepribadian ambang juga tidak mustahil dialami oleh seseorang yang tidak memiliki satu pun dari faktor risiko tersebut.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2020. Borderline Personality Disorder.
National Institute of Mental Health. Diakses pada 2020. Borderline Personality Disorder.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Disease & Conditions. Borderline Personality Disorder.