Jangan Terkecoh, Ketahui Gejala Difteri yang Mirip Flu

Ditinjau oleh: Redaksi Halodoc
Jangan Terkecoh, Ketahui Gejala Difteri yang Mirip Flu

Halodoc, Jakarta – Penyakit difteri seringkali membuat terkecoh, karena gejalanya yang menyerupai penyakit flu. Hal itu membuat gangguan kesehatan ini sering terlambat ditangani dan diabaikan begitu saja. Padahal, penyakit difteri bisa menyebabkan kondisi yang parah jika tidak segera ditangani. Bagaimana cara mengenali gejala penyakit ini? 

Difteri adalah penyakit yang terjadi karena infeksi pada selaput lendir hidung dan tenggorokan. Penyakit ini sangat mudah menular dan terjadi karena serangan bakteri bernama Corynebacterium diphtheriae. Gejala awal yang sering muncul sebagai tanda penyakit ini adalah rasa sakit di tenggorokan, demam, lemas, hingga membengkaknya kelenjar getah bening. 

Baca juga: Ini Waktu yang Tepat Beri Anak Vaksin Difteri

Sepintas, gejala penyakit ini menyerupai gejala flu, yaitu demam, sakit tenggorokan, serta batuk kering. Namun, ada satu hal yang membedakan gejala penyakit difteri dengan penyakit flu, yaitu muncul bercak keabu-abuan di pangkal tenggorokan. Selaput ini bernama pseudomembran dan bisa berdarah jika dikelupas.

Kemunculan selaput inilah yang menyebabkan rasa sakit muncul saat menelan. Pengidap penyakit ini juga sering mengeluhkan sesak napas. Pada beberapa kasus, penyakit difteri akan disertai dengan gejala pembesaran kelenjar getah bening dan pembengkakan jaringan lunak di leher yang disebut bullneck. Orang yang mengidap penyakit ini harus segera mendapatkan pertolongan medis, bahkan membutuhkan perawatan di ruang isolasi.

Cara Mengobati Penyakit Difteri 

Orang yang positif terinfeksi difteri harus mendapat perawatan medis di ruang isolasi. Pasalnya, difteri merupakan jenis penyakit yang sangat mudah menular dan bisa menyerang siapa saja. Orang yang mengidap penyakit ini harus dirawat di ruang terpisah agar tidak menjangkiti orang lain. Bakteri penyebab penyakit ini mudah menular melalui udara, yaitu saat pengidap difteri batuk atau bersin. 

Selain itu, luka yang terjadi di tenggorokan akibat difteri juga dapat menularkan virus. Penyakit ini termasuk mematikan karena dapat menyebabkan infeksi nasofaring yang bisa berdampak kesulitan bernapas dan menyebabkan kematian. Selain itu, difteri juga bisa menyebabkan komplikasi yang serius

Baca juga: Benarkah Difteri Merupakan Penyakit Musiman?

Bakteri penyebab difteri bekerja dengan cara menghasilkan racun yang bisa membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan. Hal itu kemudian menyebabkan sel-sel tersebut mati. Sel yang mati kemudian menumpuk dan membentuk lapisan abu-abu pada tenggorokan. Racun yang dihasilkan oleh bakteri penyebab difteri juga dapat menyebar ke aliran darah, sehingga menyebabkan jantung, ginjal dan sistem saraf menjadi rusak.  

Penyakit mematikan ini lebih berisiko menyerang orang yang belum pernah mendapat vaksin DPT sama sekali. Vaksin ini berfungsi untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, dan batuk rejan. Rata-rata orang yang telah divaksin akan memiliki kadar protektif antibodi lebih baik terhadap penyakit. Sehingga, tubuh memiliki “kekuatan” untuk melawan jenis penyakit tertentu, termasuk penyakit difteri. Orang yang tidak mendapatkan DPT secara lengkap juga berpotensi terserang difteri, bahkan setelah dewasa, artinya penyakit ini tidak hanya menjangkiti anak-anak

Baca juga: Enggak Cukup Vaksin, Kenali Difteri dan Cara Penularannya

Kenali gejala-gejalanya, jangan sampai terkecoh antara gejala penyakit flu dengan difteri. Segera bawa ke rumah sakit jika menemukan tanda, seperti rasa nyeri di tenggorokan dan demam. Namun perlu diingat, gejala itu tidak melulu berarti difteri. Kalau kamu ragu dan butuh saran dokter, kamu bisa membicarakan gejala awal dengan dokter di aplikasi Halodoc. Dokter bisa dengan mudah dihubungi melalui Voice/Video Call dan Chat. Yuk, download sekarang di App Store dan Google Play!